Mungkin aku mulai masuk dalam simulasi pengembalian ingatan ketika sekitaran menjadi beberapa orang yang berlau lalang dengan gedung-gedung dan lapangan lebar. Tempat ini nampak seperti sekolahan. Dugaanku Jepang, dilihat dari seragam model sailor dan beberapa plang bertulis aksara Anime-anime tv.
Tapi kenapa aku di sini? Alur hidup siapa yanng kumasuki? Bahkan sekarang tubuhku sudah mulai bisa dilihat dengan mata sendiri. Tangan dan kaki yang sama tapi ketika aku sendiri menyentuhnya, tembus. Aku tidak bisa menyentuh tubuhku sendiri. Meski sekarang aku bisa menggerakkan semua bagian tubuh dengan nyaman, namun ini nampak ganjal. Satu, dimana aku? Kedua, aku ini apa?
Bukannya aku dalam perjalanan mengembalikan ingatan yang dimanipulasi?
Lamunanku terpecah ketika secara nyata seseorang menembus tubuhku dengan gampangnya. Aku terpana. Lebih ke arah terkejut sehingga secara sadar aku mungkin bisa mati dua kali. Apa ini aku benar-benar sudah tiada? Tanpa sebab yang jelas? Atau memang sebab kematian terkadang terlupa seperti beberapa gambaran dalam film?
Apa aku tidak selamat karena kecelakaan di masa lalu? Apa sefatal itu sampai-sampai aku mati? Tidak mungkin. Di bagian hidup sebelumnya aku berhasil selamat maka tidak mungkin jika aku mati hanay karena mengulang ingatan dari kejadian yang lalu. Tapi? Aish.
"Auristella!" suara itu? Aku menoleh pada sumber dan dua wanita nampak saling merangkul lengket. Tapi lebih parahnya lagi, salah satu itu adalah aku. Atau kembaranku? Manusia punya 7 kembaran kan di dunia ini? Itu yang dikatakan artikel.
Tapi dia nampak seperti benar-benar aku.
Langkahku secara spontan mendekat ke sana. Dan mengikuti ke mana mereka berada. Sambil berjalan aku mulai menerka-nerka. Apa jangan-jangan ini memang tubuhku? Jadi maksudnya orang mengambil tubuhku, menukarnya denngan jiwa orang lain dan bersemayam di sana sampai-sampai pindah sekolah ke Jepang. Benar-benar fantasi gila. Tapi semua kemungkinan bisa terjadi sekarang.
Keduanya masuk ke kelas dan si Auristella palsu itu ijin ke kamar mandi sebentar pada sahabatnya. Oke. Kita ikuti saja dia. Kali-kali ia sadar kalau ada sang pemilik asli tubuh sedang mengintai dan kita bisa bernego tentang pengembalian raga. Namun gadis ini tidak menuju toilet, ia ke gudang belakang. Dan merokok? Sungguh?
"Hey! Jangan hancurkan tubuhku dengan rokok itu!" tapi dia berpura-pura tuli hingga suara lain menyahut dan secara spontan tangan gadis ini melepaskan apitan batang rokok.
"Ouhh. Suture?"
Grace? Aku menoleh dan kaget ketika wanita sesuai dugaan ada di ambang jalan. Suara barusan itu sungguhan Grace lohh. Kenapa dia juga ada di sini.
"Ck. Anata wa meiwakudesu" sebuah tulisan kecil di pojok mataku memberi tau sebuah kalimat. {Kamu menyebalkan}. "Iku!" {Pergilah}
Apa ini semacam masuk ke dapan film ber subtitle? "Anata o koroshita nochi" {setelah membunuhmu}. Pistol yang sama seperti yang aku lihat terakhir kali teracung dan pelatuknya tertekan tanpa berpikir. Darah Auristella barusan menyiprat ke arahku namun tentu saja menembus.
Kejadian barusan membuatku termangu di tempat saking cepatnya berlalu.
"Sayonara Auristella 12." Dan Grace tak luput juga hilang.
Tak lama setelah itu bumi bergetar. Sepertinya ada gempa dan gadis yang terbaring merintih dengan kesadaran menipis itu masih berusaha bangkit, namun rubuhan kayu membuatnya makin terdiam. Aku ingin menolongnya, tapi secara tanpa sadar tubuh ini tertarik secara cepat. Hempasan kuat yang membawaku menghilang dari tempat barusan.
Apakah ini yang dinamakan teleportasi? Aku kini berdiri di sebuah gedung penuh orang-orang berkulit putih. Musik pengiring dan suara sopran penyanyi di atas panggung membuatku jadi meyakini semuanya. Aku? Melakukan perjalanan cahaya? Ini diluar nalar! Apa orang mati biasanya melakukan ini? Haruskah aku memahami sistemnya agar bisa menjadi ilmuwan bumi? Huff. Aku saja sudah mati.
Apa aku benar-benar sudah mati?
Semua orang tiba-tiba berdiri. Bertepuk tangan terpukau dan mataku melirik seorang wanita di atas panggung sana. Ia memberikan penghormatan sembilan puluh derajat bersama kru musik yang lain tanpa berpindah posisi. Ini sepertinya ruang teater kuno. Arsitekturnya masih terjaga klasik dan penampilan seperti ini jarang ditemui zaman sekarang. Seni yang bagus. Seharusnya ia datang lebih awal.
Namun secara tiba-tiba lampu ruangan gelap. Hello! Kenapa aku yang notabennya hantu tetap tidak bisa melihat? Apa orang mati tidak diberikan fasilitas melihat lebih? Wahhh ini sungguh tidak adil. Dan ketika lampu menyala lagi, aku sudah menemukan diri ini tak sendirian. Ada seorang wanita berdiri tepat di sampingku. Inii GRACE!