Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #13

012˚ 01ʼ 7,13ˮ Bisikan yang Terdengar

Semua orang menghindari pembahasan tentang Aarav ketika ia bertanya. Entah dialihkan dengan topik lain macam hari kembalinya ke asrama atau hal sepele seperti meminta tolong beli garam di minimarket depan komplek. Auristella juga tidak tau alasannya apa. Mungkin hanya Cheryl yang mau menjawab tentang siapa keluarga Lubis dan putranya itu.

Namun sejak ia bangun sepuluh hari lalu dan menjalani proses pemulihan hingga kembali terbang menuju Ngurah Rai Airport, informan yang bisa diandalkan itu tidak muncul juga. Selain menyembunyikan fakta Aarav oma juga tidak memberitau dimana Cheryl berada. Hello! Bukankah seharusnya ia dijaga baik-baik agar tidak mati konyol dengan sia-sia. Ia benar-benar putri mahkota kan? Kenapa jadi sedikit ragu.

Handphonenya berdering tepat ketika sopir taksi yang ia pesan berhasil mengeluarkan diri dari wilayah bandara. Panggilan masuk dari Hillaeri. Aihhh ia lupa mengabari gadis cerewet satu itu.

"Kau di mana? Reksa bilang balik hari ini? Kenapa nggak ada kabar sama sekali? Kapan sampai bandara? Aku jemput yaa?"

"Permisi dulu kek buat pembuka salam. Apa-apaan langsung nyerocos gitu."

"Ish. Repot amat. Ini aku bisa bilang ke Hyeon Jae kalau kau minta dijemput. Jadi sampek jam berapa?"

Auri tertawa sejenak. "Seniat itu? Aku sudah di taksi."

"WHAT?! Wahh kau membuang sia-sia kesempatan berjalan berdua dengan pacar sendiri." Auristella diam berpikir. Kenapa juga tidak kepikiran untuk menjadikan ini ajang pendekatan pada si pacarnya itu? Sekaligus tasyakuran karena kulitnya sudah kembali normal seperti semula. "Eh. Tapi pasti kau sudah chat dia yaa kan? Goblok banget aku."

"Thanks udah ingetin. Aku bener-bener lupa."

"What the f-? Kalian pacaran jenis apasih? Tapi Hyeon Jae tau kalo kamu pulang kan?"

"Maybe," gadis ini memajukan badan sejenak. Mendekat pada sopir. "Pak. Ubah jadi ke Lavato Apartement yaa.."

"Woy. Mau kemana? Balik asrama dulu kali."

"Bentar doang. Cari makan! Nanti lagi yaa, Hill. See you."

Dan tentu saja Auristella mematikan panggilan secara sepihak. Ada misi penting menunggu. Mau bagaimanapun Hyeon Jae adalah pacar merangkap bodyguardnya, jadi ia tidak boleh jauh-jauh dari lelaki itu. Kalau Oma, Aubriella, bahkan Cheryl tidak bisa stay melindungi, siapa peduli? Dia masih punya pacar tampan yang punya keamanan tinggi.

Untuk beberapa puluh menit akhirnya taksi berhenti di tempat yang dituju. Sopirnya membantu menurunkan barang Auristella dan bellboy apartement menanyakan tujuan Auristella untuk membawakan barangnya. Kenapa baru sekarang ia yang kepikiran apakah Hyeon Jae ada di rumah? Wahh. Gadis ini sedikit ragu ketika lift berdenting di lantai 10. Tapi sudah ada pelayan bangunan yang mengantar mana mungkin kan ia berbalik pindah haluan.

Dan sekarang dia sudah menekan bel masuk nomor 1004 selesai bellboy tadi mendapatkan tip dan pergi. By the way, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa auristella bisa naik ke atas sini hanya dengan menunjukkan identitas dan nama Jang Hyeon Jae? Apa keamanan di sini sebatas itu?

Pintu terbuka dan Auristella hampir memekik senang ketika pacarnya itu yang membuka. Hyeon Jae melotot mendapati seseorang mampir ke rumah dengan sebuah koper? "Kau mau kemana?"

"Aa. Hyeon Jae-ah. I miss you!" gadis ini berhambur memeluk.

Tapi Hyeon Jae sudah melepasnya lebih cepat dari petir menyambar di luar. Sepertinya hujan akan turun. "Ada apa kau kemari? Bawa koper juga?"

Auristella tersenyum manis lalu menggeret koper dan tubuhnya masuk apartement tanpa permisi. Pantat itu langsung menemukan tempat nyamannya duduk di sofa lembut milik Hyeon Jae. "Kamu pasti tidak tau aku pulang ke Jakarta kan? Pacar apaan yang tidak peduli bahkan tidak bertanya ketika aku tidak memberi kabar belasan hari."

Lelaki ini hanya mengerling malas dan lebih memilih menutup pintu utama. "Lalu kau berniat pindah kemari?"

"Bolehkah?" Wahh Auristella tidak pernah berpikir bisa tinggal di tempat senyaman ini.

"Tentu saja tidak."

"Kalau begitu tidak usah bertanya." Gadis ini yang melengos. Matanya langsung terpaku pada jendela kaca besar pembatas gedung. Ia bangkit dan mendekati pemandangan malam yang indah dari atas sana. Meski sedikit kabur dengan adalnya tirai hujan di dinding kaca ini, pemandanganDi tambah tirai hujan yang turun makin lebat dari langit. Pemandangan favorit Auristella. "Gila. Bagus banget."

"Ada apa kau ke sini, Au?"

Ahh. Ia hampir lupa tujuan. "Mau makan. Aku lapar." Auristella berbalik menatap Hyeon Jae-nya."Aku ingin makan masakanmu."

"Merepotkan."

"Ayolah! Please...." gadis ini merengek macam anak kecil. Mendekat dan menarik-narik lengan sang pacar manja. "Aku sangat-sangat ingin makan masakanmu. Masakin yaa? Ya ya yaa?"

"Berhenti bertingkah menggelikan." Meski berucap kerus dan menghempaskan lengan gadis itu kasar, tapi ia melangkahkan kaki menuju dapur apartement. Auristella tak peduli lagi sikap tak menyenangkan tadi dan bersorak riang ikut mengamati dari meja pantry.

Hyeon Jae, gadis ini pernah dengar dari Hillaeri kalau dia jago masak. Entahlah. Sahabatnya itu memang stalker tingkat dewa bahkan jika ditanya apa warna baju-baju yang di punya sang pacar idaman ini, mungkin mulutnya akan beruap dengan lugas. Yaa meski begitu, untungnya dia bukan fans gila yang bisa megancam nyawa kekasih hati sang idola macam Auristella. Kekasih? Wahh mereka nampak seperti kekasih 2 tahun sungguhan sekarang.

Lelaki di depan sana mengeluarkan beberapa bahan masakan dari kulkas. Sebenarnya, apa ia memang sebaik ini sebelumnya? Hanya karena Auristella minta makan masakannya dan Hyeon Jae langsung menurut? Ia juga langsung mengiyakan ketika diajak pacaran? Sebenarnya dia punya pendirian tidak sihh. Atau jangan-jangan jika bahkan Hillaeri yang menembaknya waktu itu, Hyeon Jae juga akan langsung menerima? Aish kenapa rasanya menyebalkan sekali bagi Auristella.

"Hyeon Jae-ah!" dehaman lelaki itu menyahut dari jauh. Suaranya memang kecil tapi Auristella bisa mendengar karena kepekaan telinganya yang tinggi. "Bisakah kau menjawab pertanyaanku dengan jujur?"

"Apa?"

Lihat selengkapnya