Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #14

013 01ʼ 7,13ˮ Wajah yang Tidak Asing


"Tapi kenapa yaa?" gadis ini kembali mengetuk ujung stylus pen nya di sekitar pelipis. Kanvas digital di handphone sudah banyak tercoret dengan catatan kacau dengan garis ke arah sana-sini. "Dia tidak mungkin tanpa alasan bisa baca pikiranku, kan?"

Semenjak telepon Reksa tadi, ia minta diantar pulang saja lebih cepat ke asrama. Tidak ada acara jalan-jalan atau sejenisnya sebab sahabat setan Auristella itu sangat-sangat memaksa untuk barangnya di antar malam ini. Lagian mau jalan-jalan mereka tak punya tujuan yang pasti. Jadilah dia sekarang sudah duduk sendirian dalam sebuah gazebo sekolah menunggu janji temu dengan Reksa.

Karena gabut, ia jadi memikirkan kemampuan Hyeon Jae tadi. "Apa aku salah dengar?" gadis ini melingkari sebuah kemungkinan yang sudah ia tulis juga di celah kosong lembar sketsa. Ini hal yang ia pikir pertama kali. Tapi sudah ada tanda panah yang mengarah pada sebuah fakta kalau dengan sangat jelas ia mendengar kalimat Hyeon Jae makanya gadis ini langsung beralih mengangkat telepon Reksa tanpa ijin.

"Apa aku yang salah ingat kalau aku mengucapkannya secara langsung?" kali ini kemungkinan kedua. "Tapi aku kan memang tidak terbiasa mengumpat secara lisan. Paling-paling kalau udah emosi tinggi diganggu Reksa." Matanya menangkap juga alasan barusan yang tadi sudah ia tulis.

Jadi sebenarnya kenapa? "Oy. Sibuk amat." Auristella berdecak kesal saat sebuah tepukan keras menampar pundaknya. Gini aja dia masih menyimpan umpatan dalam hati. Dalam lingkungannya dulu, berkata kasar itu hal yang sangat-sangat tabu. Meski itu adalah Jakarta.

"Bisa santai nggak sih!"

"Dih. Sewot. Kesel yaa acara kencannya aku ganggu."

Auristella mengumpat lagi dalam hati saat sahabatnya itu malah tertawa. Gadis ini membuka koper yang sudah tiduran di lantai gazebo lalu menarik keluar sebuah paperbag lecek dan melempar kesal ke arah Reksa.

"Itu doang yang di titipin mama." Mereka memang sudah biasa memanggil dengan sebutan sama untuk masing-masing keluarga. Lagipun Auristella memang tak punya ibu sejak kecil.

"Wihh makasih. Ini catetan penting buat ujian besok."

"Nah iya. Kenapa klub mu masih aktif kerja aja? Anak broadcast nggak ada ujian akhir besok?"

"Ini namanya produktif. Lagian anak broadcast mah multitasting, bisa belajar dan suting dalah satu waktu sekaligus."

"Serah kata si ketua broadcast aja deh."

Auristella merapikan resleting kopernya lagi. Lalu menurunkan benda itu dari pelataran kayu gazebo. "Oh iya. aku boleh tanya nggak?" pertanyaan sama yang selalu ia layangkan di rumah. Salah sendiri sahabatnya ini sudah balik ke Bali bahkan sebelum Auristella benar-benar pulih dari komanya.

"Tumben-tumbenan tanya ama aku? Bisanya juga nggak mau, takut dikibulin." Lelaki ini meniru kalimat sahabatnya yang biasanya mengeluh suka dibohongi oleh Reksa dengan suara dibuat manja.

"Orang rumah nggak ada yang mau jawab."

Nahh candaannya tidak dibalas. Berarti pertanyaan penting ini. "Apaan emang?"

"Jawab tapi yaa?" lelaki itu mengangguk. "Aarav itu siapa?"

Reksa malah ngangguk-ngangguk nggak jelas sampai membuat Auristella berkerut kening bingung. "Dia itu keluarga Lubis. Keluarga saintis Capeville. Nggak sembarangan orang bisa sebut-sebut mereka. Maybe karena itu Briel sama oma nggak mau buka mulut."

"Lahh kamu bisa."

"Dihh. Apa sih yang nggak Reksa bisa."

Auristella berlagak muntah di hadapan sang sahabat. Membuat Reksa langsung sok-sok an berwajah masam. "Aarav itu temen kita kan yaa? Aku tuhh kemarin kayak dapet memori gitu. Aku, kamu, Anna, sama Aarav lengket banget. Kita sahabat deket?"

"Wahh. Seorang Veronica berani menyebut Aarav di rincian terakhir persahabatan kita?"

"Reksa?! Aku serius."

"Lah ini juga lagi serius. Aku ngerti, Au. Ingatan veronica belum balik seutuhnya di otakmu. Dan mungkin ini juga pengaruh manipulasi ingatan kemarin. Tapi dari pada banyak tanya ke orang mending tunggu aja sampai memori itu pelan-pelan balik. Ini juga umurmu baru 17 tahun lebih sebulan doang. Masih banyak bulan buat memori itu balik perlahan."

Lihat selengkapnya