Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #15

014˚ 01ʼ 7,13ˮ Ajudan Putri Mahkota


Reksa benar-benar pemaksa yang ulung. Alasan itulah yang membuat Auristella harus rela membuang waktu jalan-jalan yang sudah dijanjikan. Padahal hujan sudah cukup reda sekarang. Aish. Sahabat dajjal memang.

"Masih ada hari lain. Lagian besok juga ujian kan?" cemberutnya makin tebal.

"Ya karena itulah kita harusnya jalan-jalan." Gadis ini berusaha keras mengendalikan wajah. Sebenarnya juga bersyukur sihh mengingat spekulasi yang baru ia alihkan beberapa puluh menit tadi. Tentang Hyeon Jae yang bisa membaca suara batinnya. Tapi ia juga pengen jalan-jalan. "Janji yaa kita bener jalan-jalan weekend depan? Eh no no. Hari jum'at selepas pulang ujian deh."

"Hmm."

"Janji Hyeon Jae. Bukan hmm hmm."

"Iya janji."

Auristella sedikit merasa puas. "Kerasa nggak sih? kita tuhh keliatan harmonis banget."

"Pengalihan topik yang drastis."

Auristella menghiraukan. "Kita baru pacaran lohh tapi feelnya itu emang bener-bener kayak udah dua tahun. Bahkan di setiap moment tersedih aku kamu ada buat ngehibur. Sekarang juga momen terbahagia aku, kamu juga ada di sini. Sadar juga nggak?" tentu saja momen bahagia karena ia bisa bepergian kemanapun tanpa pakai lulur lumpur atau pondation tebal di wajah.

"Enggak."

"Ihh Hyeon Jae!" gadis ini memandangnya cemberut. "Kamu tuh yaa....?! Makanya, jangan aku doang yang sharing sedih seneng. Kamu juga. Ohh atau jangan-jangan kamu pikir aku nggak pantas tau yaa?"

"Nggak pantes tau?"

"Yaa buktinya kamu nggak pernah cerita apapun ke aku."

"Makanya kalau penasaran tanya aja."

Auristella mengangkat sebelah alisnya. "Siapa yang penasaran?"

"Eomma telepon karena aku batal ke Korea. Tau Mr, Albert kan? Engginering teacher di jurusan sains itu mata-mata keluargaku. Jadi aku beli tiket palsu dan ke bandara seolah-olah berangkat ke Korea, tapi sebenernya ke Jakarta."

Pacarnya ini speechless bentar mendengar kalimat panjang Hyeon Jae. Padahal dia tidak kepikiran ke sana, tapi kalau disodorin begini yaa ngapain ditolak? "Kenapa ke Jakarta?"

"Adikku sekolah di sana"

Mata Auristella berbinar kaget. "Umur berapa? Cewek cowok? Aku juga punya adik lohh yang sekolah di Jakarta."

"Cewek. Kenapa? Mau dijodohin."

Hah? Mata gadis ini mengerjap beberapa kali. Kok kerasa aneh yaa. "Iiihh enggaklah. Terus kita gimana kalau mereka dijodoh-jodohin?"

"Emangnya mau gimana?" lelaki ini langsung mendapat decakan kesal dari sang pacar. Sedangkan mobil sudah mulai memasuki wilayah utama yayasan Blackfire.

"Gini nih kalau pacaran tapi berjuangnya sendiri." Ia memandang beberapa bangunan yang nampak menjauhi posisi mobil. Mengalihkan diri dari suara kekehan sang pacar. Tawa kecil macam itu mematikan. "Tapi aku percaya hukum cinta novel. Biasanya nihh alurnya bakal punya ending bahagia antara aku dan kamu." Seperti banyak kisah pacar pura-pura yang lagi viral.

Hyeon Jae tersenyum tipis dan tak butuh waktu lama mobilnya sudah terparkir rapi di parkiran utama blackfire. Dia melepas sabuk pengaman, mengambil alih atensi sang pacar lalu keluar lebih dulu untuk meraih koper di bagasi.

Auristella mengambil alih pegangan tas ukuran medium itu selepas Hyeon Jae berjalan mendekati. "Perlu diantar?"

"Nggak usah tiba-tiba romantis deh."

Lihat selengkapnya