Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #16

015˚ 01ʼ 7,13ˮ Pemegang Pisau


Ujian hari terakhir penghancur mood. Bukan karena masalah jurnal tugasnya yang nyangkut lama di meja penguji. Tapi lagi-lagi, Mr. Albert mengambil kesempatan bertemu Hyeon Jae untuk membahas permasalahan keluarga. Kenapa tidak pulang ke Korea? Bagaimana bisa punya pacar ketika dia sudah bertunangan? Kenapa sama sekali tidak mau mendengarkan kata ayah? Kenapa masih mengambil jurusan sains untuk kuliah? Dan banyak kenapa-kenapa yang lain.

Hyeon Jae memang tidak terlalu sejalan dengan pemikiran ayahnya. Ia suka sains dan akan selalu menggelutinya. Bukannya disuruh pindah ke bisnis gelap warisan keluarganya itu. Dan Mr. Albert ini yang sejatinya adalah kepala pengasuh di keluarga Charero, yang masuk jadi guru karena koneksi besar, selalu menceramahinya banyak hal. Jangan berpikir bahwa lelaki ini tua bangka dengan keriput memenuhi wajah. Ia masih seusia ayahnya, dan bahkan lebih bugar. Hanya saja otaknya lebih kuno dari pada dugaan.

Si marga Jang masuk ke dalam mobilnya dengan wajah kesal lalu memukul kemudi cukup keras. Terdengar sebuah retakan kecil di dalamnya. Sialan. Ambil napas perlahan dan buang dengan tenang. Tapi kalau ingat lagi perkataan Mr. Albert tadi, emosinya tersulut ke titik maksimal.

"Mrs. Jang akan datang sendiri menemui pacarmu."

Rasa-rasanya kalau tadi ia tidak berusaha kuat menahan diri, mungkin Mr. Albert dengan senyum meremehkannya itu sudah mati di tangannya hari ini. Ia lebih tau apa yang diinginkan sang ibu ketika mendengar nama Auristella waktu itu. Tapi yang akan jadi masalah adalah kalau ayahnya ikut juga.

Tangan Hyeon Jae meraih handphone di saku blazer. Setidaknya ada satu hal yang membuatnya bisa waras hari ini. Janjinya bersama Auristella. Mereka akan jalan-jalan sesuai rencana hari itu. Karena sekarang masih jam 3 sore, kemungkinan untuk berlibur dengan sunset masih bisa terwujud. Langit juga nampak cerah.

Namun,

Teleponnya tidak terjawab.

Bahkan pada panggilan ke lima, tidak ada sautan sama sekali. Ada tulisan online di ujung bawah nama Auristella, tapi kenapa panggilannya tidak diangkat? Jarinya mencari kontak lain dan kali ini terjawab bahkan di nada dering pertama.

"Di mana Auristella?"

"Apa? Eh bentar-bentar!" jeda sekitar satu menit. Ini kalau bukan karena Hyeon Jae yang butuh dia mana mau menunggu bahkan untuk beberapa detik. "Kenapa-kenapa? Ada apa tiba-tiba telepon?"

"Di mana Auristella?"

"Ohh. Keluar bareng Eryl dari pulang sekolah tadi. Kenapa?"

"Eryl?" Siapa Eryl?

"Loh ku kira udah tau. Anak baru temen kamar kita. Adik kelas. Katanya sih sepupu jauh Auri. Ada hubungan darah sama adik angkatnya gitu."

"Hubungan darah dengan adik angkat?"

Terdengar decakan kesal dari ujung sana. "Yaa intinya gitu lah. Kenapa cari Auri? Oh iya. Kata tante –." Hyeon Jae menjauhkan benda pipih itu dari telinga lalu mematikan sambungan tanpa pikir panjang.

Kenapa Auristella bahkan tidak bilang kalau jani hari ini dibatalkan? Seharusnya ia marah kan sekarang? Tapi dalam pikirannya kini, bahkan gadis yang sangat-sangat ia butuhkan tidak ada di situasi genting macam ini. Itu menyesakkan.

"Apa bahkan di kehidupan yang sekarang aku bukan bagian penting hidupnya?"

~.......~

Seharusnya ia tadi memperkirakan dengan cermat. Jam satu pulang dalam keadaan jalanan malam weekend, tentu saja macet. Dan perkiraan yang akan sampai dalam satu jam menjadi pukul setengah 4 pagi.

Kemarin, setelah menunggu sejaman untuk janjinya dengan Auristella, gadis itu masih tak memberi kabar. Jadilah ia pergi sendiri. Menuju sebuah pantai tersembunyi yang jarang di ketahui orang. Ombaknya tak cukup besar untuk dijadikan tempat surfing tapi juga terlalu beresiko bagi perenang. Namun, pemandangan malam yang jarang terjamah orang sangat memanjakan mata. Banyak benda langit yang nampak jelas, bahkan beberapa bintang omega – skala bintang dengan magnitudo terbesar (cahaya yang paling redup dalam sebuah rasi) – ada yang terlihat dengan mata telanjang. Tentu saja itu kesenangan sendiri bagi Hyeon Jae.

Dengan tubuh yang cukup lelah, lelaki ini menyentuh fingerprint dan mendorong pintu untuk masuk. Tirai rumahnya sudah terbuka dan beberapa cahaya matahari mengintip masuk dari balik bukit di ujung sana. Namun, bukan itu fokus utamanya. Ada sebuah kue minimalis coklat di atas meja, dan seorang gadis dengan topi kerucut nampak tertidur duduk dengan kepala di atas sofa.

Itu, Auristella.

Hyeon Jae buru-buru mendekat hingga tulisan happy birthday di atas adonan gandum ini nampak di matanya. Ia berjongkok dan mengalihkan tatapan pada wajah pulas sang pacar. Senyuman kecil terbit. Sepertinya ia paham situasinya sekarang.

Lenguhan pelan membuat lelaki ini terlonjak sedikit dan tak butuh waktu lama mata cantik ini menatapnya balik. "Maaf. Apa aku mengganggu tidurmu?"

Tapi, Auristella malah duduk sambil berusaha menyadarkan diri. Kepalanya menoleh ke jam dinding di atas televisi dan melotot kaget. Kesadarannya meningkat cepat. "Kamu baru pulang pagi? Aku menunggumu semalaman di sini." wajah gadis itu sudah nampak sangat ingin menangis.

Hyeon Jae dengan cepat mengusap kepalanya pelan. Elusan hangat. "Maaf. Aku nggak ngerti kalau kamu di sini. Kukira janji kemarin batal." Dan wajah cemberut itu menyambut kesal.

"Park Min Ho sialan. Dia bilang kalau aku ingkar janji lalu memberi kejutan ulang tahun, akan menjadi ide bagus. Kejutanku jadi expired." rengeknya pelan.

"Park Min Ho?"

"Iya. Aku konsultasi dengannya." Lelaki ini terkekeh. Memang sih ia sangat tidak suka orang ingkar janji. Tapi melihat wajah cemberut pacarnya sekarang, rasa-rasanya semua itu masih bisa ditolerir. "Kamu keluar dulu yaa? Nanti kalau masuk kamu pura-pura kaget."

"Ulang tahunku kan udah lewat. Lagian aku juga nggak suka kejutan."

"Aku sia-sia dong nyiapin ini. Ayoo laaa!! Demi aku deh. Ini juga bukan kejutan, tapi pura-pura kejutan."

Jang Hyeon Jae manggut-manggut terpaksa lalu bangkit dari duduknya. Auristella sudah ingin memekik senang dan dengan cepat juga mulai merapikan tataan busana yang ia pakai. Sudah acak-acakan karena agenda ketiduran yang ia punya barusan. Tangannya meraih cake dengan cream moka itu dan mulai ambil posisi berdiri di samping pintu.

Lihat selengkapnya