Daripada memikirkan itu, Auristella lebih gelisah tentang tindakannya memacari Hyeon Jae. Gadis ini masih ingat wajah keterkejutan Hillaeri saat membuka surat yang dilempar tanpa perasaan olehnya ketika gadis itu sedang scroll instagram sambil baringan di ranjang.
"Aku pikir ini tidak penting karena aku dan dia juga nggak saling suka." Hal yang diucapkan Hillaeri sebagai penjelas. Tapi bukankah itu tidak bisa dianggap bahkan sekedar alibi untuk menutupi fakta besar ini? MEREKA BERTUNANGAN! PACARNYA DAN SAHABATNYA BERTUNANGAN SEJAK LAMA!
Auristella menghela napas kesalnya. Oke ia akui awalnya hubungan ini hanya untuk memanfaatkan Hyeon Jae sebagai pelindung dari ancaman Grace. Harus ia akui juga kalau dirinya mulai merasa nyaman dalam hubungan ini. Ada gelenyar aneh ketika bisa melihat wajah kesal Hyeon Jae. Ada perasaan membuncah ketika laki-laki itu meminta dimainkan piano untuk ke depannya, hanya Auristella yang memainkan. Ia akui ia mulai terbawa alur permainan yang dibuatnya sendiri. Namun seberat apapun itu, kalau mereka harus berakhir sekarang, Auristella akan menyatakan kesanggupannya dengan kuat.
Pintu ruang khusus asrama berderit terbuka. Cheryl yang memberitau ruangan aman dengan vakum mode ini, sangat nyaman bagi exhuman seperti mereka. Ruangan yang ia bahas terakhir kali.
"By the way," Auristella memandang wajah Cheryl lesu. "Kamu ada masalah apa sama Hillaeri? Dia nungguin kamu pulang dari kemarin. Tanya juga kamu di mana. Kasihan deh khawatir banget kayaknya."
Apa Hyeon Jae tidak mengkhawatirkanku sama sekali? Seharusnya Hillaeri menghubungi lelaki itu untuk menanyai posisiku kan? Apa ia tak punya niatan bertanya juga? "Kamu kasih tau aku di sini?"
"Ya enggak lah. Bisa mati dia masuk sini. Manusia tidak bisa hidup tanpa oksigen melebihi 4 menit." Auristella jadi tertarik pada benda kotak di samping pintu. Entah bagaimana cara kerjanya, tapi alat itu berhasil mensterilkan ruangan menjadi vakum tanpa oksigen dan hal lain. Kalau di film sains fiksi yang pernah dia tonton bersama Reksa dulu, ada tabung khusus antara ruang yang beroksigen atau tidak.
"Ya kali aja kamu keceplosan." Pandangannya kembali pada Cheryl. "Hillaeri kan penipu hebat. Pemaksa lagi."
Cheryl mengangguk setuju. "Nah itu. Aku heran. Kenapa kamu nggak punya sahabat yang sehat selain aku meski di bumi dan Capeville?" matanya mengerling malas dan ajudan itu tertawa. "Gimana? Udah belajar hurufnya?"
"Susah banget."
"Kan udah kubilang apa. Capeville itu emang dipersulit dalam segala aspek supaya pelacakan oleh manusia memiliki kemungkinan kecil." Itu sebabnya buku-buku tentang Capeville pasti menggunakan bahasa asli mereka, dan Auristella tidak akan paham. "Lebih baik nunggu sampai ingatanmu balik."
"Tapi kapan? Sampek aku mati penasaran?"
Dan Cheryl terkekeh pelan. "Tanya-tanya aja deh. Ntar aku jawab sebisanya."
"Ini yaa aku punya banyak pertanyaan, kamu sanggup jawab?"
Gadis di hadapannya itu mengangkat bahu acuh. "Sanggup aja asal bukan hal yang dilarang dibicarakan tanpa ijin." Auristella terkikik. Padahal yang banyak buat dia penasaran adalah Aarav, keturunan Lubis.
"Ish. Aku tanya, kamu juga pasti jawabnya 'jingin tinyi ini' Persis Reksa.'"
Cheryl terkikik kecil. "Aku tidak punya hak. Lain kali tanya saja pada oma."
"Jadi tingkatan kasta oma lebih tinggi dari kita?"
"Semacam itulah."
"Wow!! Beritau aku tentang tingkatan strata di Capeville aja!"
Mata Auristella nampak bersemangat. Ia memberikan sebuah kertas dan pen pada Cheryl ketika gadis ini meminta. Sahabatnya itu suka menjelaskan sambil digambar meski tak jelas. Tangannya mulai melukiskan sesuatu. "Jadi... warga Capeville itu dibagi menjadi 5 strata. Ohh lebih baik aku jelaskan sejarah Capeville secara singkat dulu." Selanya sendiri selepas menuliskan angka lima di kertas.
Kali ini tangannya malah bersedekap di meja dan memandang lekat Auristella. "Aku akan bercerita singkat. Kamu mendengarkan dan jangan menyela. Kalau ada pertanyaan kita bicarakan di akhir."