Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #18

017˚ 01ʼ 7,13ˮ Putus

Tidurnya terusik dan makin terkejut ketika mendapati seseorang berdiri tepat di samping ranjang. Dengan kaku. Dengan wajah datarnya. "Eryl?" gadis ini beranjak duduk. Apa tidurnya barusan terusik karena sang ajudan membangunkan? "Ada apa?"

Gadis ini menunjuk handphone Auristella yang berdering di atas nakas. Ada panggilan masuk tapi yang lebih menarik mata adalah kilau mata pisau bersamaan dengan telunjuk itu. Cahaya kamar memang dimatikan tapi dari pantulan lampu di samping tempat tidur Hillaeri yang tidak jauh darinya, gadis ini bisa sadar siapa yang sedang tiduran menghadap tempat Auristella di ranjang Cheryl sana. Itu.. ajudannya, Cheryl. Dan pisau ini...

"Ups. Ketahuan!" Auristella mengalihkan diri pada smirk lebar di hadapannya sebelum secara mendadak belati tajam itu menghunus setelah ia bergeser posisi ke samping. Untung terselamat.

Namun dengan cepat juga si pemilik wajah Cheryl itu menarik pisau yang tertancap di sisi ranjang. Auristella bangkit dan meraih apapun yang ada di atas meja belajar. Ketika sebuah tusukan kembali melayang ke arahnya, sketch book tebal dihalangkan lalu mengambil kesempatan emas menghempaskan dua benda yang menyatu itu hingga terpelanting entah kemana.

Dari kegelapan remang-remang ini, ia bisa sadar ada semburat marah di wajah Cheryl. "Siapa kau?"

Wanita itu berbalik, melakukan putaran 180 derajat di udara, menghentakkan sebuah tendangan tajam ke wajah Auristella. Spontanitas lengan gadis ini menangkis sambil memiringkan wajah. Meski kebas tapi ini sedikit melindungi.

Mengambil kesempatan kecil, langkah lebarnya menuju meja belajar Cheryl dan menaburkan pasir bekas tugas temannya itu di udara setelah menjumput cukup banyak dari plastik bening. Ia ingat sahabatnya itu belum sempat membereskan. Dan pasir yang dihembus dengan sengaja itu, tepat sasaran mengenai mata sang pelaku. Dengan gerakan gesit, fontain pen di gelas alat kerja Cheryl ia lemparkan dua dengan kuat dan satunya tepat mengenai dada wanita itu.

Auristella mengambil langkah mundur ketika erangan hebat terdengar dan mata tajam itu makin menakutkan. Ia yakin ini bukanlah Cheryl temannya ketika gerakan sekelebat angin wanita itu sudah menekan tubuh Auristella di dinding sambil mencekiknya tanpa ampun. Dari jarak sedekat ini, cairan hitam yang menodai bekas tusukan fontain pen nampak jelas. Benda itu bahkan masih tertancap di sana.

Dering telepon menyeruak lagi. "Kau harus mati." Gadis ini sudah hampir kehabisan napas. Memejam takut ketika tangan bebas Cheryl yang lain terangkat memamerkan kuku panjangnya di hadapan sang kawan. Bersama senyum mengerikan dan –

"Auri?!"

Matanya membuka lebar, napas itu terengah dan menarik perhatian Hillaeri dari balik layar handphone sahabatnya. "Nanti hubungi lagi." Ia mengembalikan benda pipih itu di nakas. Niat awal menjawab panggilan menganggu pagi-pagi begini malah mendapati wajah penuh peluh milik sahabatnya. "Ada apa, Au? Mimpi buruk?"

Mata gadis itu menatapnya. Lalu dengan cepat melirik sekitaran yang terang akibat cahaya matahari terbit di jendela besar kamar. Setelahnya, manik itu terpaku pada Cheryl yang tidur nyenyak di atas ranjang sana. Apa tadi benar-benar mimpi?

Sebuah gelas terangsur di hadapannya dan ia meraihnya cepat. Hillaeri masih menggenggam tangan lain sahabatnya, mengelus menenangkan. Sedangkan Auristella yang selepas meletakkan gelas di atas nakas teralih pada dering telepon di sana. Dering yang sama macam mimpi.

"Itu handphonemu bunyi sejak lama. Sepertinya Hyeon Jae yang menelepon. Aish. Bahkan ini masih jam setengah lima pagi." Tapi tanpa peduli, Auristella menggeser ikon hijau dan mendekatkan di depan telinga.

"Halo?"

"Hmm."

Auristella merasa mendengar helaan napas lega dari ujung sana. "Aku ada di depan asrama." Gadis ini melotot dan bangkit menuju jendela, menarik pula perhatian Hillaeri yang tetiba penasaran. "Seragammu tertinggal di apartement."

Lelaki itu ada di sana dan bukan hanya Auristella yang terkejut. Hillaeri sedikit menganga apalagi ketika mendengar... "Hillaeri akan mengambilnya."

"Kenapa tidak kau yang turun? Kita perlu bicara, Au."

Tapi gadis ini mematikan sambungan secara sepihak. Menarik napas panjang lalu melirik pada sang sahabat. "Minta tolong yaa?" Hillaeri mengerling malas. Perasaan mereka belum baikan dan kenapa menjadi de javu dengan peristiwa Reksa mengembalikan seragam terakhir kali.

Tapi yang lebih penting dari itu. "Kau tidak apa-apa?" gadis ini baru saja mendapatkan mimpi buruk.

Lihat selengkapnya