Belati itu terlempar tanpa ampun, menembus tubuhku, dan menancap tepat di dada gadis ini. Aku menoleh dan secara spontan berteriak histeris. Tubuh Anna langsung ambruk di tempat meski mata itu masih berusaha untuk terbuka. Aku juga ikut berjongkok, meraih tubuhnya tapi itu tetap tembus. Seperti pertama kali aku bangun dan menyaksikan ada dalam tempat sempit ini, kamar mandi umum yang lumayan kotor. Ini bukanlah tempat yang pas untuk Anna yang gila kebersihan.
Tapi kini gadis itu malah bersimpuh darah menahan sakit seorang diri, di ruangan paling ia benci. "Mission complete." Aku menoleh pada sumber suara. Lelaki dengan perawakan tinggi tampan itu baru selesai melepas tombol di telinganya. Sepertinya ia tersambung dengan seseorang. Apa pembunuh bayaran?
Rintihan kecil Anna mengembalikanku padanya. Dan gadis ini berusaha mencabut pisau di dada dalam sekali tarik. Aku sudah meneriaki karena tindakannya ini bisa mengambil nyawanya lebih cepat tapi tentu saja teriakanku semua sia-sia. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menusukkan belati tajam itu pada kaki sang pembunuh. Teriakan tajam menggelegar keras. Dan Anna masih mencabut lalu menusuk di sisi lain. Hanya sampai tiga kali karena lelaki dengan pakaian hitam itu sudah menjambak rambut dan menarik paksa Anna untuk berdiri.
Darah makin banyak yang terjun ke lantai dan itu membuatku menjerit sakit. Dalam posisi sepenting ini pun, aku tidak bisa hanya sekedar menutup luka itu dengan tanganku. Aku yang awalnya ingin ikut bangkit malah terpaku pada luka sang musuh. Itu tertutup dengan cepat dan mataku membola di tempat. Bagaimana bisa?
"Kau akan mati. Tidak usah banyak bertingkah." Mataku melirik pada Anna yang sudah sesak napas dengan cekikan kuku panjang di lehernya. Aku bangkit dan berusaha meraih tapi itu semua menembus.
Sampai sahabatku itu benar-benar tak bergerak lagi dan tubuhku meluruh ke lantai setelah berteriak histeris. Lelaki itu terkekeh kecil dengan teganya lalu membopong Anna yang sudah bersimbuh darah hingga hilang lenyap seperti angin. Aku langsung menatap sekitar dengan memburu, tapi keduanya hilang.
Dengan cepat bangkit dan menembus pintu kamar mandi. Diluar sangat ramai tapi tidak ada Anna dan lelaki misterius tadi. Mataku mengedar, tetap berusaha mencari bahkan dengan melangkah semakin jauh dari posisi semula. Sebelum sadar bahwa semua ini tak asing bagiku.
Ini.... pasar tempat aku diculik.
Jantungku sudah berdebar kencang, apalagi ketika warna dari setiap hal yang kulihat memudar. Luntur bersama udara kemudian memusar pada satu titik hingga benar-benar hilang. Semua jadi tampak gelap dan beberapa suara terdengar mengganggu telingaku. Seperti...
"Bawa ke kamar asrama saja!"
"Auri? Are you okay?"
"Badannya panas. Ambilkan alat kesehatan sekarang. kompresan juga."
Tapi dalam posisi begini aku tidak bisa membuka mata sama sekali. Semua lingkupan masih gelap dan dari sekian suara yang banyak itu, hanya milik Hillaeri yang dapat ia kenali. "Apa itu sepsis?" aku tau aku sekarang ada di mana dan tangan siapa yang menggenggam lenganku ini. Pasti murid jurusan sains yang ambil jalur peminatan kesehatan.
"Itu semacam gejala akibat infeksi suatu penyakit. Suhu badan Auristella sudah hampir 39 derajat dan itu akan bahaya jika berkelanjutan. Kita harus membawanya ke rumah sakit."
"Tapi kakaknya tidak mengijinkan. Dia sedang menuju kemari sekarang. kita tidak bisa seenaknya ambil keputusan."
"Tapi kondisi Auristella –."
"Apa kau tidak punya pertolongan pertama? Pesawat kak Briel akan berangkat setengah jam lagi. Dan hanya butuh 2 jam untuk sampai bandara Ngurah Rai dari sana."
"Oke. Aku akan memberi dia sedikit dosis obat."
Aku setidaknya berusaha menggerakkan jari tapi itu tidak berhasil. Semua badanku nampak kaku dan membeku, bahkan hanya sekedar menggulir bola mata saja aku masih belum mampu. Ketika sebuah tepukan di bahu mengambil atensi, aku mulai sadar kalau suara-suara tadi menghilang sejenak. Tempat hitam ini semacam pengalihan posisi lagi pada ruh yang entah akan dibawa kemana.
Tapi ketika kepalaku menoleh untuk mengecek siapa si penepuk barusan, diriku cukup mundur selangkah sebagai antisipasi keterkejutan. Anna ada di sana dengan pakaian putih bersih selutut. Model dress sederhana yang kebanyakan dipakai untuk pergi tidur.
"Bagaimana kau bisa disini?" mulutku tak lagi kaku macam diikat beban berat dan langkah ini juga mendekati posisi Anna di hadapan.
*Tapi gadis itu malah memberi senyum kecil tanpa berniat menjawab. Senyum yang akhir-akhir ini jarang sekali aku lihat. "**Aku ada di loker sekolah. Jadilah yang pertama menemukanku!"*
~.......~