Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #21

020˚ 01ʼ 7,13ˮ Alat yang Menyala

Matanya menatap kosong ke depan. Akhir-akhir ini ingatan tentang Anna kembali dengan cepat. Gadis itu juga sering datang dalam mimpinya dengan alibi bermain-main. Memang tak semenyakitkan ketika di awal ia tau Anna meninggal, tapi hal-hal begini cukup menguras waktunya untuk merenung.

Mimpi terakhir adalah ketika Anna mengajaknya berkeliling Capeville. Kejadian ini sama seperti ketika dirinya menjelajah memori Veronica terakhir kali, bedanya ini bukan penjelajahan antar waktu. Tapi antar tempat. Mereka berkeliling Capeville dengan situasi dan kondisi hari ini.

"Jadi, Capeville itu nama sistem peredaran bintang. Yaa sama seperti nama solar system yang kau tau."

Mereka ada di perpustakaan besar exhuman. Sangat-sangat besar dengan papan-papan tipis memenuhi rak di sini. Itu adalah electronic book yang dimiliki dunia exhuman. Ada lagi sisi buku jenis kertas, old book yang masih dijaga kelestariannya. Itu ketikan asli dari nenek moyang pertama mereka. Sedangkan sebuah dinding besar dengan lukisan timbul di depan keduanya menggambarkan Capeville system.

"Cheryl tak akan bisa menceritakan sedetail aku karena ia tak terlalu suka pembelajaran sains tentang asal usul dunia kita." Auristella kala itu hanya memberi senyum kecil. "Yaa meski aku juga tidak akan bisa sedetail Aarav kalau bercerita. Setidaknya aku lebih baik dari ajudanmu itu." Anna terkekeh pelan.

"Jadi yang ini adalah Cape Center." Tongkat kayu yang ia bawa menunjuk sebuah bulatan di tengah-tengah gambar sistem planet. "Dia adalah neutron star dengan kepadatan besar. Tarikan gravitasinya juga makin besar makanya dengan jarak yang sejauh ini, kita masih bisa mengorbit bintang itu meski cahayanya redup. Ahh kau pasti bertanya tentang bagaimana planet kita punya penerangan yang bahkan lebih baik dari bumi ketika sinar pusat kita redup dari jauh. Kita dikelilingi sistem bintang lain, yang tidak menjadi pusat sebuah keplanetan. Mereka malah juga menjadikan Cape Center sebagai pusat berputar sama seperti planet-planet kita."

Anna menyunggingkan senyum bangga karena bisa menjelaskan tanpa jeda barusan. Lalu ia melirik lagi buku yang diletakkan atas meja kemudian kembali mulai menjelaskan apa yang dia berhasil baca.

"Perbedaan Capeville dan solar System yang paling dasar adalah pada definisi. Kalau tatanan nama planet di tata surya adalah mereka yang mengorbit bintang dengan beberapa aturan lain. Tapi kalau Capeville, mereka menamai planet dan memasukkannya dalam sistem Capeville karena dihuni atau berguna bagi makhluk exhuman. Gravitasi bintang neutron ini besar dan tata sistem keplanetan kita sangat besar, apalagi jika digabung dengan beberapa bintang yang ikut beredar mengelilinginya. Jadi Exhuman hanya menamai planet-planet berhuni saja dan memasukkannya dalam jajaran Capeville System.

"Ada pertanyaan dulu?"

Auristella masih menyunggingkan senyum sambil menggeleng pelan. Anna ini masih bisa dijeda kalau bercerita ditengah-tengah, tidak seperti Cheryl yang gampang teralih fokus. "Lanjutkan dulu!"

"Oke. Balik lagi ke definisi tadi. Karena kita hanya menamai planet-planet berhuni maka dalam sistem Capeville punya 4 planet. Namanya sederhana karena kita tidak mengubahnya sejak pertama kali nenek moyang membuat. Yang pertama, Alzaba-land. Tempat khusus untuk para leluhur asli sini menetap. Mereka tidak bercampur dengan exhuman tapi akan selalu berpartisipasi dalam acara sekecil apapun itu.

"Yang kedua, adalah planet utama. Tempat tinggal semua rakyat biasa dan kerajaan strata 4. Tempat sekolah, bermain, bekerja, dan segala aktifitas exhuman ada di sini. Lalu di luar atmosfir namun masih dalam jangkauan gravitasi planet, ada stasuin luar angkasa. Bentuknya mirip bulan sabit, dan ini kalau dalam bahasa manusia bisa disebut the mega of artificial satellite. Di sini adalah tempat untuk sistem kerajaanmu, Ann Empire. Kerajaan strata 3 yang mengurusi pokok utama Capeville."

Tongkat itu memang selepas menunjuk lingkaran timbul di dinding, beralih pada bentukan sabit kecil di atas bulatan tadi. Mungkin ini yang disebut piringan-piringan tempat tinggal di angkasa yang Cheryl sebut dalam chatnya diawal dulu.

"Lalu yang ini." Dia menunjuk planet ke tiga. "Dia adalah database-land. Dimana segala yang atom dengar rekam dan catat ada di dalamnya. Penuh dengan file-file memori dan dijaga ketat oleh robot khusus buatan Lubis. Kau bisa bernostalgia di sana kalau berhasil dapat ijin.

"Dan planet terakhir kita, Lubis-land. Tentu saja hanya dari nama kita bisa tau kalau ini adalah tempat tinggal Lubis."

Sahabat yang berdongeng itu masih tak menyadari ada beberapa bulir air mata di pipi Auristella. "Untuk apa bercerita ini, Anna? Aku bisa membaca di buku."

"Lebih asik kalau aku yang jelaskan. Sekalian kita menghabiskan waktu banyak-banyak. Jarang-jarang ada kasus kau keracunan partikel kematian seperti ini. Meski sebenarnya termasuk penyakit, tapi kita juga harus menyukuri apa yang ada."

"Tapi –."

"Shutt. Bentar-bentar. Ada yang lupa ku bilang. Kau tau? Meski 50 persen dari kebutuhan konsumsi exhuman adalah makanan buatan yang berasal dari udara dan air, mereka juga sebenarnya butuh pangan dari hewan dan tumbuhan. Karena dua hal ini mengandung nutrisi tinggi meski dalam proses hidupnya masih berkaitan dengan oksegen. Jadi di planet utama itu masih ada pembagian lagi,

"Daratan ada 3 benua dengan 128 pulau kecil." Tembok yang tadi ia kira adalah bentuk permanen, ketika Anna menekan beberapa balok dinding, bentukannya berubah. Lebih membesar pada gambaran planet utama yang putih di sisi lain, biru di sisi air, dan hijau di bagian sisanya. "Kita punya satu benua khusus untuk memelihara tumbuhan dan hewan dengan lapisan tebal menyelimuti lingkungannya. Memerangkap oksigen agar tetap di wilayah itu. Sisanya, adalah tempat tinggal, bangunan-bangunan pengoperasian hidup, dan bahkan pabrik-pabrik produsen makanan khusus. Kau tau, Ver. Rasa dari –."

TUK TUK

Suara itu membuat gadis ini tersadar seketika. Memperhatikan ruangan dengan pencahayaan terang, dan sendirian. Dia menghela napas berat. Kenapa susah sekali melepas bayang-bayang Anna dari dalam kepalanya.

Ia sedang berada di rumah sakit khusus exhuman yang berkedok hotel mewah di tengah-tengah Jakarta. Ini milik Aubriella secara sah. Dan karena kondisi tubuh yang sangat-sangat kurang mendukung, membuat gadis ini harus dirawat inap. Diisolasi dalam ruangan vakum dengan nutrien air tersebar merata. Seharusnya dalam kurung waktu seminggu sudah bisa pulih seperti awal.

TUK TUK TUK

Ia mengerjap atas suara itu. Lalu melirik pada balkon sebagai sumbernya. Lampu di luar tidak dihidupkan karena hujan lebat datang sebelum petang, sampai sekarang. Tapi tanpa waspada Auristella mendekati pintu, membuka kunci ketika dari jarak sedekat itu bisa melihat siluet seseorang di luar sana.

"Hyeon Jae?"

"Kenapa lama sekali buka pintu?" lelaki itu langsung melangkah masuk. Melepas jaket yang dipakai lalu menyampirkan ke sofa terdekat. Benda hitam ini sudah basah kuyup. Sedangkan Auristella menutup pintu balkon lalu menghampiri sang pacar.

"Kamu kenapa bisa di sini? Lewat balkon? Hujan-hujan?" Hyeon Jae hanya merespon dengan anggukan karena masih sibuk memeras beberapa ujung kaos yang juga tembus terkena air. "Ngapain?"

"Oh iya." matanya langsung beralih pada Auristella. "Aku bawa raportmu. Tapi ketinggalan di mobil."

"What?" kenapa rasanya ia hanya bisa menerima fakta kalau lelaki itu sedang bercanda? Sejak kapan ada orang yang menerjang hujan tapi lupa tujuan. Kalau bukan karena tujuan itu adalah bohong. Tapi wajah Hyeon Jae nampak meyakinkan sekarang.

"Aku ambil dulu."

"No no." Auristella merentangkan tangan di depan balkon kamar. "Hujan, Hyeon Jae. Mending kamu keringin badanmu daripada sakit. Aku ambilin handuk bentar." Gadis ini melangkah menuju ke sebuah bilik kecil di ujung sebelum berbalik tiba-tiba. "Jangan tiba-tiba keluar lagi!"

"Hmm."

Lelaki ini menyunggingkan senyum setelah Auristella pergi. Untung saja sih kalau gadis itu masih bisa cerewet. Tanda bahwa ia bisa dimasukkan golongan orang baik-baik saja. Hyeon Jae ambil duduk di atas sofa sambil mengedarkan pandangan sebelum secara cepat Auristella keluar dari dalam kamar mandi. mendapati sang pacar masih di tempat, gadis itu menghela napas lega.

"Nah." Diterima dengan tangan terbuka. "Kenapa sampai hujan-hujanan sih?"

"Ya hujannya turun."

"Ya kan bisa neduh. Lagian kenapa sih lewat balkon?"

Lelaki ini menghentikan gerakan mengeringkan rambut lalu menoleh pada Auristella dengan pandangan penuh tanya. "Nggak suka aku jenguk?" dengan kalimat itu gadis ini hanya tersenyum manis lalu dengan cepat mengambil handuk, mengantikan diri untuk mengeringkan rambut sang pacar sambil berdiri.

"Suka kok suka. Kamu berkorban datang jauh-jauh ke Jakarta demi aku. Pasti suka."

"Mampir mau jemput adik."

Auristella mengacak rambut Hyeon Jae kasar. "Tidak bisakah berbohong sedikit?"

"Kamu terlihat sangat sehat."

"Memang siapa yang bilang sakit?" alis sebelahnya terangkat sambil memberi senyum menggoda.

"Kamu memang sakit. Sakit jiwa."

Lihat selengkapnya