Mungkin ini skill seorang pemimpin akibat mulai munculnya jatidiri Veronica dalam tubuh Auri. Cheryl menurut saja saat diminta satu mobil dengan Park Min Ho dan baiknya, sahabat pacarnya itu tak protes sama sekali meski ia tau apa niatan Auristella menggabungkan keduanya. Berterimakasih banyak pada Tuhan yang masih mengijinkan gadis ini berduaan lagi bersama Hyeon Jae.
Ia memandangi jalan dengan damai. Suasana Jakarta yang jarang ia lihat karena lama bersekolah di Bali. Seharusnya Austino, adik tersayangnya itu juga bisa sekolah di yayasan yang sama dengan Auristella, dia cukup pintar dan rajin untuk lolos seleksi. Tapi, belum dibuka asrama untuk tingkatan sekolah dasar di bagian cabang Indonesia ini.
"Jang Eun Ji pasti cantik. Keturunan keluarga kalian punya gen yang bagus." Celotehnya asal tanpa menoleh.
"Seberapa banyak Hillaeri bercerita?"
"Entahlah. Kadang aku merasa iri dia bisa lebih banyak tau kamu daripada aku yang notabennya pacar kamu sendiri."
"Masih marahan?"
"Enggak sih. Tapi belum ngomong aja." Gadis ini mengalihkan perhatian pada si pemegang kemudi mobil. "Apa pertunangan kalian tetap berlanjut? Atau hubungan kita yang berakhir? Kemarin itu ayah dan ibumu bertemu denganku kan?"
"Memang kenapa kalau bertemu?" Hyeon Jae menghentikan mobil karena lampu merah menyala. Ia mengambil kesempatan untuk membalas tatapan sang pacar. "Hubungan kita akan berlanjut terus. Tenang aja."
Auristella mengangguk ragu. "Tapi pertunangannya?"
"Itu akan menjadi urusanku." mobil kembali melaju.
"Apa itu akan berpengaruh besar pada keluarga kalian? Hillaeri atau kamu nggak bakal dapet kerugian besar kan?" setiap hubungan perjodohan yang ia baca di novel punya alasan bisnis atau semacamnya. Yang kuat dan susah ditolak.
Hyeon Jae menggeleng kecil. "Hillaeri seharusnya pernah bercerita tentang lelaki yang disukainya kan? Diluar kegiatannya yang pura-pura masuk fandom fansku di sekolah."
Gadis ini diam sejenak. Menerawang ke depan dan mengingat-ingat adakah percakapan macam itu. Selain Hyeon Jae yang ia puji-puji tampan dan tak ada satu orang pun yang tak menyukainya, gadis ini memang pernah berceloteh sedikit tentang seorang lelaki yang ia suka tapi mereka susah bersama. Alasannya kalau tidak salah ingat adalah karena mereka berbeda tingkatan sosial? Aish. Dia saja lupa karena apa, berarti memang sahabat laknatnya itu jarang bercerita terkait masalah ini.
"Pernah. Sedikit. Apa kamu tau siapa?"
Hyeon Jae menggeleng. "Kita nggak sedekat itu." Auristella tersenyum puas. Mereka berdua seharusnya memang tidak usah terlalu dekat.
Mobil memasuki pintu gerbang sekolah yang sudah ramai terisi parkirannya. Untungnya mereka menemukan celah satu dan keluar setelah memastikan mobil dalam garis yang benar. Auristella meraih lengan sang pacar ketika keduanya mulai berjalan. Membuat Hyeon Jae sejenak meliriknya dalam.
"Kenapa? Kita kan sepasang kekasih. Wajar dong."
Ia terkekeh pelan. "Siapa yang minta putus terakhir kali?"
"Siapa yang bilang kita tidak akan putus kalau bukan aku yang minta?" Auristella menampilkan senyum termanisnya. Dan dibalas gelengan kepala heran dari sang pacar. Mereka masih jalan beriringan memecah kerumunan orang yang kemungkinan besar melakukan hal yang sama, menjemput keluarga mereka yang berpulang dari asramanya. "Aku harus menyapa bagaimana pada Jang Eun Ji?"
"Diam saja lebih baik."
Pinggang itu langsung mendapat cubitan kecil. Membuat Hyeon Jae melirik tak suka. Meski tadi tak memberikan efek apapun padanya. "Jangan usil makanya!"
"Ini saran jujur, Au."
Ia mengidikkan bahu tak peduli. Meski secara pengalaman ia belum pernah dibohongi oleh lelaki itu. "Kita lepas ini berpisah yaa? Kenapa adik kita tidak satu kelas aja sih?"
"Adikmu yang terlalu pintar di usia sekecil itu"
Gadis ini memasang wajah binar sambil menolehi sang pacar. "Kok tau kalau dia loncat kelas? Wahh kamu stalking juga tentangku?"
"Hillaeri yang bilang. Katanya wajah adikmu lebih tampan dariku."
"Hemm memang iya sih."
Hyeon Jae menoleh sejenak lalu cepat berpalingnya. Lagian anak kecil tampan itu juga akan kalah saing dengannya dari awal.
~.......~
Kehidupan Auristella 13 memang nampak penuh tawa, meski tanpa hadirnya kedua orang tua dalam cerita. Ia hanya hidup dengan Oma dan Aubriella karena ayah bunda mereka mengalami kecelakaan maut ketika bahkan dirinya masih belum bisa menapak dengan benar di atas tanah. Reksa juga termasuk pewarna di keseharian, meski keduanya sama-sama sering bertengkar.
Hingga saat usianya tinggal 2 tahun sebelum masuk SMP, Aubriella pulang dengan seorang bayi. Dia adalah anak yang ditinggal mati ibunya tepat setelah dilahirkan, dan tidak ada keluarga lain yang menjadi sangkutan. Karena terpikat dengan keimutan dan kasihan juga, akhirnya ia meminta ijin pada Oma untuk mengambilnya sebagai adik.
Yahh begitulah sejarang Austino ada di dalam kehidupan Auristella. Adik lelaki yang makin besar bertumbuh tampan serta pintar. Dia menjengkelkan, tidak banyak bicara, tapi kepedulian pada kedua kakak serta neneknya sangat tinggi. Dia bahkan pernah sampai belajar memasak, hanya karena Oma terlihat letih di dapur sendirian. Briel yang anak kedokteran dan Auri yang sibuk menyiapkan tes masuk ke blackfire memang tak bisa diharapkan.
Auristella sangat menyayangi Austino. Kedekatan mereka bahkan melampaui kepada kakak pertama. Mungkin karena usia yang terpaut sangat jauh jika dengan Aubriella. Itu juga alasan gadis ini tidak pernah mampir jika ia ambil ijin pulang ke Jakarta. Adiknya akan memasang wajah sedih jika sudah ditinggal sang kakak lepas menjenguk. Ia bahkan sering mengirim chat kapan Blackfire membuka asrama untuk anak setingkatnya.