Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #23

022˚ 01ʼ 7,13ˮ Telinga Kucing

Auristella berterimakasih sangat kepada dewi fortuna yang ada di pihaknya kali ini. Wahana Rumah Riana punya batasan syarat masuk. Meski tinggi kedua adiknya mumpuni, tapi mereka hanya anak usia 9 dan 8 tahun. Sama sekali tak diijinkan masuk. Sebenarnya perturan juga tidak seketat itu, Auristella saja yang melebih-lebihkan hingga penjaga sangat tidak memperbolehkan mereka masuk.

Dan kali ini pilihan terakhir adalah pulang. Seharusnya sihh ke resto makan tapi Hyeon Jae bilang mereka ditunggu di rumah oleh eomma yang sudah membuat menu masakan. "Jadi orang taumu tau kita jalan-jalan bareng?"

"Eomma telepon Eun Ji tadi. Dan kamu pasti tau dia akan jawab bagaimana."

Helaan napas terdengar berat setelahnya. Gadis ini melirik sejenak ke dua adiknya dari spion tengah. Mereka sudah tertidur pulas dengan saling menempelkan kepala sebagai tumpuan. Aish. Apa harus mereka benar-benar bertemu lagi.

Daniel Charero, ayah Hyeon Jae itu adalah pacar dari Auristella 11. Ia bahkan langsung tau hanya melihat dari wajah yang tak asing itu. Bagaimana dengan lelaki yang dulu sangat mencintai Auristella 11 sampai akhirnya sang gadis tertembak mati di panggung pariwaranya sendiri. Entah kenapa juga sekarang Auristella 13 yang tentu berwajah sama harus bertemu dengan Daniel. Ini cukup menyulitkan. Karena lelaki itu adalah calon ayah mertuanya sendiri.

Mobil mulai memasuki pekarangan rumah besar. Ia tak perlu bingung kenapa keluarga yang bahkan tak menetap di sini selain untuk menempuh pendidikan harus mempunyai rumah besar nan megah di pinggiran ibu kota. Tentu saja karena uang mereka yang melimpah. Mungkin bisa lebih banyak dari jumlah digit isi tabungan uang bumi milik Veronica.

Ketika kendaraan ini benar-benar mengerem dan berhenti. Austino jadi bangun dari tidur lelahnya itu. Ia melirik sekitar yang merasa asing. "Kita mampir ke rumah Eun Ji. Ibu dia mengajak kita makan bersama." Jelas Auristella kemudian. Ia melirik sejenak pada Hyeon Jae yang sudah turun dan kini menggendong adiknya yang tampak tak terusik sama sekali.

Tidak sesuai dugaan, Daniel ikut menyambut di depan pintu. Auristella harus mengambil napas panjang sebelum berakting bagus. Pura-pura tidak kenal.

"Apa macet?" eomma meminta seorang suster untuk mengambil alih tubuh Eun Ji dari kakaknya sebelum bertanya. Lelaki itu mengangguk kecil. "Ayo masuk! Oh hay, boy. What's your name?"

"Austino." Adik Auristella itu memberi penghormatan sebaik mungkin.

"Wahh. You look handsome like your sister. Keluarga kalian sepertinya punya keturunan good looking."

Auristella hanya tertawa kecil menyahuti candaan sang calon mama mertua. Mereka akhirnya masuk dan langsung menuju meja makan sesuai rencana, meski akhirnya Eun Ji tidak ikut bergabung karena tidur.

Keluarga bangsawan punya etika sendiri dalam makan, namun Hyeon Jae sepertinya sadar kalau hari ini aturan itu tak berlaku. Apalagi secara personal sang mama mengambilkan nasi untuk Auristella, yang seharusnya itu adalah tugas pelayan.

"Makanlahh! Ini resep khusus dari kampung halamanku."

"Really?" Auristella menyuapkan sesendok dan berbinar. Tidak pernah menyangka masakan Korea seenak ini. "Wahh. Ini sangat lezat."

"Makan yang banyak." Kali ini Daniel memberanikan diri untuk bersua. "Istriku memasak khusus untuk calon menantunya." Ia harus sadar, karena mungkin Auristella hanya mirip dengan sang mantan pacar, meski nyatanya nama mereka bahkan sama persis.

"Terimakasih, om, tante."

Mamanya menggeleng tak suka. "No no. panggil Eomma dan Appa aja seperti Hyeon Jae. Kamu pacar Hyeon Jae sudah sepatutnya ini terasa macam keluarga sendiri."

Auristella hanya tersenyum canggung dan mulai lagi menyuapkan nasinya. Kenapa situasi macam ini terasa asing? Ia seperti bukan sedang berpacaran dengan orang yang punya tunangan.

"Ini Austin satu sekolah dengan Eun Ji? Satu kelas?" pertanyaan basa-basi mamanya membuat Hyeon Jae sampai menghentikan makan. Situasi macam apa ini? Mamanya tak terlihat seperti mamanya.

"Beda kelas."

"Oh ya? Tapi kalian saling kenal juga sebelumnya."

"Tidak."

Daniel terkekeh pelan sekarang. Ia menepuk pundah sang istri prihatin. "Pekalah! Austin ini tipe seperti Hyeon Jae. Irit bicara." Lelaki yang dimaksud hanya melirik jengah. Sedang sang ayah nampak bodo amat. Lebih tertarik pada Auristella yang sibuk makan. "Auristella asli Jakarta? Orang tuanya?"

Gadis ini menelan makanan di mulut lebih dahulu. "Ayah asli Jakarta. Bunda asal bandung tapi domisili di Jakarta karena kuliah."

"Ohhh i see. Lalu kenapa memilih sekolah di Blackfire? Bali adalah tempat yang jauh."

"Tapi Blackfire sekolah yang bagus."

Lelaki ini tertawa pelam. Sedangkan Auristella mengambil sendok lagi dan mulai ingin menyuapkan nasi. "Bagaimana cerita kalian bisa bersama akhirnya? Apa bertemu sejak sekolah di Blackfire?"

"Appa. Biarkan Auri makan."

Daniel tertawa pelan mendengar omelan anak pertamanya. "Why? Are you jealousy?"

"Yes."

Lihat selengkapnya