Auristella menatap keluarganya hangat. Mereka hanya camping kecil-kecilan di taman dekat rumah. Pemandangannya memang sudah sangat biasa tapi adanya ketiga personil penting hidupnya menambah indah semuanya. Auristella bersyukur ada dalam lingkup ini, meski semuanya hanya keluarga palsu. Ia kadang menangis malam-malam, memikirkan ketika dirinya harus meninggalkan keluarga yang sangat ia sayangi ini. Hidup Veronica bukan di sini.
Setidaknya, meski semua ini palsu tapi segala perasaannya adalah nyata. Selama ia masih punya kesempatan menetap di bumi, semua baik-baik saja kan? Auristella masih bisa menyaksikan pernikahan Aubriella ataupun tumbuh besarnya Austin. Semoga oma selalu ada di sisi mereka.
"Nah." Austin secara tiba-tiba menyodorkan tas ke arahnya. Handphone dalam slingbag Auristella itu bergetar. Nama Hillaeri ada 3 kali dalam panggilan. Duanya di waktu yang agak lama dari sekarang.
Gadis ini agak menjauh dari pusat perkumpulan keluarga, meski tak meninggalkan lapisan karpet di atas rerumputan. "Ada apa?"
"What?! Ada apa? Are you crasy, girl?! Kau masih bertanya ada apa setelah kejadian tadi."
"Memang apa yang terjadi."
"Vaffanculo!" Auristella terkekeh. Meski tak tau artinya, gadis ini mengerti kalau kata tadi semacam umpatan. Hillaeri pernah mengajarinya. "Kau tadi bersuara saat video call. Semua orang di ruangan mendengarnya. What the hell!!"
Tawa Auristella kali ini benar-benar tak disaring. Aubriella yang bertanya kenapa hanya dijawab dengan gerakan bibir tanpa suara kalau ia sedang menelepon Hillaeri. "Salah siapa kau menyalakan volume. Benar-benar tidak waspada."
"Aku kan sudah ingatkan diawal jangan bersuara."
"Sorry. Tadi tiba-tiba ada problem. Tapi kelanjutannya bagaimana?"
Ada decakan kesal di sana. "Ya aku bilang, maaf notifikasiku mengganggu. Untungnya tidak ada yang sadar kecuali pacarmu itu. Dia bahkan bertanya setelah selesai kenapa aku meneleponmu." Kekehan kecil menjadi penjawab.
"Oh ya? Terus-terus?"
"Ish. Aku tinggalin lah tuh cowok. Dia kalau ngajak ngomong pasti pas butuh doang, dan itu always about you. Ya balik aku kacangin lah sekarang."
"He love me very much."
"Iuhh. Sahabatku jadi gila."
Auristella terkekeh. "Jadi gimana masalah pertunanganmu?"
Deheman kecil menyahut di sana sebelum Hillaeri memulai bicara. "Well. Aku secara legal bisa menyukai lelakiku sekarang."
"Tapi kalian jadi jarang ketemu sekarang."
"Why not? Aku masih punya kau. Hyeon Jae kali ini pulang ke Indonesia akan membawa bodyguard meski mereka menyamar jadi warga biasa dengan baik. Gosip tentang penerus keluarga Charero sudah menyebar ke mana-mana. Keamanan pacarmu mungkin sedikit tertanggu. So, kalau kalian sudah mau kencan. Ajak aku juga! Itu wajib."
"What? Mana ada yang seperti itu?"
"Akan kurang nyaman kalau kalian berciuman dilihat dengan para bodyguard, kan?Aku akan menjadi tamengmu."
"Iiuuhh. Pembicaraanmu kotor sekali."
"Apa yang kotor? It's normal. Kalau kalian bawa aku, bodyguard yang lain akan aman tak mengawasi."
"Memangnya dia hanya bawa satu? Kau apa bisa mengurusi sebanyak itu?"
"Tidak ada yang bisa mengalahkan tekad seorang Hillaeri." Terdengar suara temannya dipanggil dari ujung sana. "Oh My God. Sepertinya my mom mulai menyiapkan pertunangan yang lain untukku. Kenapa wanita itu sangat menjengkelkan?"
"Dia tetap ibumu meski begitu."
"Hanya ibu sambung."
Auristella terkekeh pelan. Ibu tiri Hillaaeri itu menikah hanya karena harta sang ayah. Dan sifatnya setengah mirip dengan ibu yang menjadikan bawang putih pembantu, hanya setengah mirip. Untungnya Hillaeri tak punya saudara tiri. "Ya... aku doakan semoga perjodohanmu gagal."
"You're my best friend," sorak gadis itu senang sambil memberi kecupan gaib. "Okay. See you, Au. Titip salam buat my handsome Austino."
"Okay. Good luck for you."
Dan keduanya sama-sama mematikan sambungan. Auristella menselancari galeri dan mendapati hasil screenshoot-annya tadi. Ia mengedit sejenak sebelum menjadikannya postingan di beranda ig, dengan caption miss you.
"Kita quality time with family. Tapi yang diupload pacar yang jauh itu." Gadis ini sudah melirik tak suka pada sang kakak yang mengintip tanpa ijin layar handphonenya.
"I upload apa orang kita belum foto sama sekali. Dari tadi juga I ajak Kak Briel bilang nanti – nanti."
"Okay. Sekarang aja. You yang pegang kamera. Selfie."