Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #26

025˚ 01ʼ 7,13ˮ Di dekat Musuh

Ia sudah hampir memejam. Kepala yang tadi diletakkan di sofa sambil memandangi betapa seriusnya sang pacar membuat mainan sains untuknya, menjadikan gadis ini mengantuk. Sebelumnya ia memang punya kegiatan menata barang-barang belanjaan Hyeon Jae seperti terakhir kali, tapi semenjak diam sambil duduk tanpa minat membuatnya benar-benar terpejam.

Sampai sebelum kesadarannya terenggut penuh, perutnya berbunyi nyaring. Bahkan mata ia dan Hyeon Jae sampai memandang bersamaan hingga gadis ini terkekeh pelan. "Aku laper. Mau masak mi instan. Kamu mau?"

"Perasaan kita nggak beli tadi." Lelaki ini kembali ke pekerjaannya.

"Beli. Aku yang beli. Tadi kamu nggak sadar sih." tatapan tajam dari sang pacar membuatnya meringis malu. "Mau yang apa? Kuah apa goreng?"

"Mi instan nggak sehat, Au."

"Tapi enak."

"Banyak yang enak selain itu."

"Aku kan nggak bisa masak." Lelaki ini hampir bangkit sebelum Auristella menahan bahunya untuk tetap di posisi. "Enggak-enggak. Aku juga pingin masakin kamu."

"Terus buat dapur aku hancur?"

"Hyeon Jae?!" gadis ini merengut kesal. "Nasi goreng deh nasi goreng. Aku bisa masak nasi goreng."

Lelaki ini menghela napas sejenak sebelum mengangguk. Membuat Auristella bersorak senang lalu berlari menuju dapur. Ia cepat-cepat memasang clemek dan mengeluarkan beberapa bahan masakan dari kulkas. Tangannya meraih pisau sambil sedikit memberi pandangan pada sang pacar yang ternyata masih memperhatikan.

Ia memotong beberapa bahan sampai sangat tipis. Bahkan sampai ketika ia mulai memanaskan wajan, Hyeon Jae masih saja memandanginya. "Lanjutkan pekerjaanmu Hyeon Jae."

"Aku perlu mengawasimu."

Auristella mengerling malas. Ia memasukkan beberapa butir telur dan toping lain yang perlu diolah dalam wajan. "Dapurmu aman sama aku." Lelaki itu malah tak menyahut tapi saat dilirik ia masih saja memandangi sang pacar. "Aku nanti belajar masak deh. Biar nggak kalah sama kamu."

"Bersih-bersih aja. Aku nggak terlalu bisa."

Gadis ini melirik sejenak sambil berbinar. "Oke." Kembali pada kompor dan mulai memasukkan nasi ke sana. "Tapi biasanya siapa yang bersih-bersih kalau kamu nggak suka? Apartementmu juga terlihat rapi nggak berdebu."

"Ada ART yang dipesen eomma."

"Oh ya?" gadis ini melirik lagi. "Kenapa nggak pernah keliatan?"

"Dateng pagi doang."

Ia mengangguk paham. Suasana mendadak sunyi setelahnya. Gadis ini tak bisa mengalihkan fokus lagi jika tak ingin nasi dihadapannya gosong seketika. Dia sengaja memasang suhu besar supaya masakan itu layak macam abang-abang nasi goreng favoritnya. Kompor listrik milik Hyeon Jae sudah termasuk kualitas yang sangat bagus.

Sampai akhirnya tangan itu mengangkat pegangan panci, memindahkan nasi yang ia buat ke dalam piring. Merasa kalau sang pacar sudah hampir selesai, Hyeon Jae bangkit dan duduk di kursi pantry. Sedangkan Auristella masih menyempatkan membuat jus jeruk sebelum akhirnya duduk di hadapan.

"Makan nasi goreng itu katanya gampang buat haus. Terus katanya juga minum jeruk bisa ngilangin." Ia meletakkan satu piring besar di tengah-tengah dan membagi dua gelas jeruk dengan Hyeon Jae. Mereka memang akan makan di piring yang sama. "Selamat makan!"

Gadis ini menyodorkan sendok, mengajak high five menggunakan stainless steel itu. Awalnya Hyeon Jae bingung hingga sang pacar menuntun. Dia terkekeh pelan. Mereka akhirnya mulai makan.

"Bagaimana? Enak?"

"Biasa aja."

Tapi Auristella malah tersenyum. "Itu pujian bagus dari orang yang pintar masak sepertimu. Lebih baik daripada bilang tidak enak." Gadis ini kembali menyuapkan nasi. Memang ia hanya bisa dua menu masakan, dan keduanya sangat disukai Austin hingga membuat Auristella percaya diri memasak untuk Hyeon Jae sekarang. Mie instan dengan tambahan bumbu sendiri dan nasi goreng.

Ia meraih minum ketika teringat sesuatu. "Oh iya. Kamu rencana kuliah di mana? Aku denger dari Reksa katanya kamu mau ambil Harvard?"

"Iya. Kamu? Masih pengen Australi?"

"Kok tau? Ohh Hillaeri yaa?" lelaki di hadapannya itu mengangguk. "Iya pengen di sana. Sebenernya pengen New York sih, selain bakal lebih deket sama Harvard, sekolah di sana lebih bagus. Tapi aku benar-benar putus asa bahkan hanya untuk tes masuknya."

"You can if you think you can."

"Tapi mustahil, Hyeon Jae."

Lelaki ini juga meminum seteguk jus jeruknya. "Emang mau kita ldr yang jauh banget? Lagian kamu bakal lebih nyesel kalau nggak pernah nyoba sama sekali."

Auristella memandang manik mata sang pacar cukup lama. Enggan untuk berpaling. Kenapa juga Hyeon Jae ikut-ikutan bahas ldr mereka nanti. "Oke deh. Aku coba dulu."

~.......~

Ia berkutat lagi dengan peta konsep. Kali ini membuat list macam-macam jenis bersih-bersih rumah dan memberi tanda centang pada yang sudah ia kuasai, seperti mencuci baju, menyapu, mengepel, merapikan barang, dan ada banyak selain itu. Ia juga baru sadar ternyata dirinya ini lumayan pintar mengurusi rumah. Memang sihh kalau pasangan itu biasanya saling melengkapi.

Lihat selengkapnya