Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #27

026˚ 01ʼ 7,13ˮ Tiga Bulan Lagi

Malam saat Veronica tau kalau bundanya telah terbunuh secara kejam di atas ranjangnya sendiri, membuat gadis ini rela keluar dari akting membualnya. Semua orang di Capeville sedang dipengaruhi sihir hitam Tania, dan beberapa yang memang lebih kebal dari makhluk sebagian tak mendapati respon itu. Mereka secara langsung mendapat perintah dari Raja untuk tetap berpura-pura terpengaruh.

Tapi tidak untuk malam ini. Veronica yang menyaksikan sang ibu mati berlumur darah bahkan ketika ia masih bersama dengan baju tidur yang baru beberapa hari lalu diberikan sang putri mahkota sebagai hadiah ulang tahun. Gadis ini terjatuh di sisi ranjang, meraih tangan sang bunda yang sudah sedingin es. Tangisnya tentu saja pecah, apalagi dengan mata kepala sendiri pedang turun temurun Ann Empire mencabik-cabik tubuh sehat sang bunda tanpa ampun.

Ia tak sehebat sang ayah yang masih bisa berakting tertidur ketika istrinya wafat dengan mengenaskan dalam satu ranjang yang sama. Entah karena memang sehebat itu atau rasa cintanya yang tak besar membuat lelaki ini berhasil tampak tak peduli.

"Ouhh. Jadi selama ini kau berakting di depanku?"

Veronica mengepalkan jemari kuat, melepas pedangan dari sang bunda lalu meriah pedang yang tadi tergeletak di lantai kamar dengan mengenaskan. Ia menghuyungkan benda keramat itu tepat di leher sang musuh. Dengan mata nyalang menatap Tania siap mengambil ancang-ancang membunuh. Hanya keturunan asli yang tertakdir sebagai penerus Ann Empire yang berhak mengayunkan benda ini. Dan Tania dengan lancang meraihnya dari kotak kaca di kamar Raja lalu menjadikan benda keramat ini sebagai pembunuh sang Ratu asli.

"Bunuh saja aku kalau bisa."

Gadis ini menguatkan pegangan pada gagangnya ketika sebuah kekuatan mistis mulai memperlambar area sekitar. Gerakannya menjadi lemah dibandingkan dari sebuah dorongan aneh yang tak butuh waktu lama untuk membuat pedang itu terpelanting jauh, lepas dari genggaman sang putri mahkota. Dan secara cepat, Tania sudah mengarahkan sebelah tangan ke udara hingga membuat Veronica terhempas ke dinding. Dengan leher seolah tercekik kuat bersamaan tawa Tania yang menggelegar.

"Kau salah mengambil musuh, sayang." Putri mahkota mengerang lantang ketika tiba-tiba kuku tajam dan hitam Tania muncul. "Aku beri pilihan ulang. Terus hidup sebagai putriku atau musnah selamanya di dunia ini."

Gadis yang melayang di dinding itu masih berusaha melepaskan diri. Kakinya menendang nedang tanpa arah dan sepuluh jari meraih leher kosong yang mendapati rasa cekikan kuat di sana. Tapi dia masih bisa menatap nyalang ketika wanita di sana menajamkan lagi bekas kuku di kulit.

"Kau-ti-dak-akan-men-da-pat – kan apa-pun!"

"Aku memiliki ayahmu dan sistem Capeville sekarang. Berkurang anak satu sepertimu seharusnya tidak masalah."

Veronica sudah tidak kuat. Paru-paru gadis ini kehabisan udara dan dengan sekilas mata ia melirik sang ayah yang masih dalam posisi sama. Ia tertawa getir. Apa ternyata ayahnya juga menyukai Tania? Wanita itu mantan kekasihnya kan?

Gadis ini nampak pasrah tapi sebelah tangan meraih sesuatu di balik saku celana tidur. Hal yang akhir-akhir ini sering ia bawa sebagai jaga-jaga. Ia tak boleh mati di tangan Tania jika masih ingin kembali kemari untuk membalas dendam. Setidaknya dengan bunuh diri, Tuhan memberikan sebuah janji hidup ulang dengan kesengsaraan lebih. Ia akan kembali untuk balas dendam.

Aku akan kembali. Pisau dalam tangannya dengan sekuat tenaga ia tusukkan pada rongga dada sebelah kiri. Erangan keras memenuhi ruangan dan Tania yang terkejut melepas lengan yang sejak tadi menggangtung di udara. Menyebabkan Veronica terhempas jatuh dari ketinggian yang lumayan. Ia masih sempat bersuara lirih, menahan kesakitan di detik-detik terakhir hidupnya. Sebelum kesadaran itu terenggut seutuhnya.

"PENGAWAL! Panggil dokter istana!!" teriakan Tania di akhir hidupnya membuat gadis ini mati sambil menyungging senyum. Wanita itu harus merasa takut tentang bagaimana Veronica yang terlahir kembali untuk membalas dendam.

Itulah ingatan terakhir yang ia dapat dari sebuah mimpi mengerikan di malam gelap. Ketika memori menyakitkan Veronica menggerogoti kesadarannya kala itu, ia menangis tersedu-sedu. Membuat Hillaeri dan Cheryl bangun serempak dan memberi pelukan ketenangan. Setidaknya ketika kenangan itu kembali secara paksa, Veronica tak sendiri. Tapi hal ini tetap menyakitkan untuk diingat ulang.

Selanjutnya bagaimana perjuangan Haidee untuk melawan Tania yang diceritakan Cheryl ketika memanfaatkan bola kecil pensteril ruangan. Reinkarnasi Veronica itu gagal ketika berpikir bahwa memperbaiki masa lalu adalah solusi. Ia sadar bahwa dirinya hadir tidak untuk merubah apa yang sudah ada. Usaha Haidee dan orang Lubis masuk dalam dimensi yang tak terikat waktu menjadi sia-sia.

Lalu ketika ia keluar dari sistem simulasi 5 dimensi itu, Tania menebas kepalanya tanpa ampun. Tanpa peringatan dan disaksikan banyak pasang mata yang tak bisa berbuat apapun. Ia sempat memberi senyum sinis pada beberapa orang yang turut membantu misi Haidee sebelum akhirnya menerbangkan sihir hitamnya lagi, mempengaruhi semua orang untuk melupakan hal ini. Kecuali beberapa orang spesial yang meski akhirnya hanya bisa berpura-pura terpengaruh, termasuk Cheryl.

Reinkarnasi Veronica dalam tubuh Haidee gagal. Mereka kira dengan memberi jarak yang cukup lama untuk kehidupan selanjutnya, Tania tak akan sadar. Tapi nyatanya semenjak 3000 tahun lalu -hitungan bumi-, semenjak Haidee gagal menjalani tugas, Tania sudah mengawasi. Ia ada di kelahiran Auristella 1 sampai sekarang. Dan sadar pula ketika reinkarnasi ini berhasil di yang ketiga belas.

Lihat selengkapnya