Canggung tapi senyum di bibir gadis itu tak pernah surut sama sekali. Mereka sudah keluar dari hotel menuju pelabuhan di selat badung dengan diantar supir mobil online. Mobil ditinggal di area parkir penginapan karena mereka akan menyebrang menuju Nusa Penida untuk liburan.
Kemarin selepas bernegosiasi, akhirnya Auristella setuju untuk menentukan perjalanan liburan mereka yaitu ke Pulai Nusa Penida. Banyak hal alam yang bisa dieksplor di sana. Gadis ini juga mengecek beberapa penginapan yang dirasa memuaskan sambil melihat juga review dari beberapa youtuber yang traveling ke sana. Sampai keputusan menyeberang ke bekas Pulai Bandit itu bulat.
Dan ia juga merencanakan untuk pemandangan sunrise sanur beach sebelum meninggalkan villa. Gadis ini memasang alarm yang malah membangunkan Hyeon Jae dibanding si pembuatnya. Lelaki itu membawa Auristella yang mengantuk ke bibir pantai dan ketika merasakan hembusan angin kencang perlahan mata itu punya tenaga kuat untuk membuka.
Kalau sesuai kata karyawan, sunrise di Bali datang sekitar jam 5.15 pagi. Beberapa menit lagi setelah mereka duduk nyaman di atas pasir. Keduanya sama-sama sibuk memandangi deburan ombak dan beberapa bintang langit yang terlihat samar dari posisi itu. Hingga suara Hyeon Jae memecah keheningan lebih dulu.
"Kamu bener-bener nggak penasaran sama jawabanku?"
"Jawaban apa?" Auristella menoleh. Sedangkan lelaki itu masih memandangi lautan.
"Pernyataan cintamu." Ada decakan kecil menyahut sebelum gadis ini berpaling lagi. Ia malu kalau diingatkan itu lagi. Kalimat i love you sempat ia ulang beberapa kali ketika menangis dan mengingat lagi tentang hal lain seperti ucapan 'Kenapa aku harus jatuh cinta denganmu?' berhasil membuat gadis ini merinding di tempat. Hal bodoh dan memalukan yang membuat canggung di posisi ini. "Yakin nggak mau denger?"
Ia berusaha untuk tidak menoleh ketika lelaki itu sedang menatapnya lekat sekarang. "Iya, yakin."
"I love you too, Au. Alasanku menerima kamu jadi pacarku karena aku udah suka sama kamu. Sebelum permintaan pacaranmu waktu itu." dan Auristella sontak menoleh garang pada Hyeon Jae. Karena kalimat ngasal itu jantungnya berdetak tak karuan sekarang.
"Aku tidak request jawaban begitu. Jadi lebih baik kamu diam."
Tapi sebuah kecupan tercuri dari bibirnya. "I love you." Gadis ini membeku di tempat dengan wajah tegangnya. Membuat Hyeon Jae terkekeh pelan lalu mengacak rambut sang pacar sayang. "I love you, Auristella."
"Mikir apa sih?" sebuah rangkulan di bahu menyadarkan gadis ini. Wajah Hyeon Jae yang tadi sempat pergi sejenak untuk memesan tiket sudah kembali di samping. "Aku kan?"
Auristella terkekeh pelan. "I love you."
"Tiba-tiba?" lelaki ini mengangkat sebelah alisnya.
"Tadi pagi aku belum sempet balas, kan?" Hyeon Jae tertawa kecil lepas itu. Auristella memang langsung kabur bahkan meinggalkan sunrise yang hampir keluar. Ia menghindari Hyeon Jae cukup lama hingga lelaki ini menyeret sang gadis karena mobil jemputan yang akan membawa ke pelabuhan sudah datang. "Jawab dong."
"Loh kan kamu lagi jawab punyaku tadi pagi." Lelaki ini kembali menuntun langkah untuk mendekati kapal-kapal yang berjejer di pinggir pantai sana. Mereka akan berangkat sekitar jam 8 pagi.
"Iya juga sih. Tapi aku mau denger lagi, Hyeon Jae."
"Nggak ada pengulangan."
"Iihh." Gadis ini memberi cubitan cukup keras ke pinggang sang pacar meski yakin itu tak berefek apapun. "Kamu ngeselin."
"Baru juga nyatain cinta udah kdrt aja."
Gadis ini sok-sok melengos tak peduli sebelum akhirnya terkekeh kecil. "Aneh tau kita tiba-tiba jadi kayak gini."
"Kayak apa emang?"
"Yaa tiba-tiba jadi kayak pacaran sungguhan gitu."
"Kita kan emang pacaran sungguhan dari awal."
"Ohh iya yaa." Gadis ini meringis kecil ketika tawa Hyeon Jae menyertai. "Makan yok! Beli di warung-warung pinggir sana aja."
"Emang ada apa?"
"Banyak lah." Gadis ini menggeret lengan Hyeon Jae yang ada di bahunya untuk mengikuti langkah. Untungnya mereka tak bawa banyak barang selain sebuah tas yang ada di punggung Hyeon Jae, berisi drone dan beberapa alat pengabdi kenangan lain.