Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #32

031˚ 01ʼ 7,13ˮ Cinta Bukan Ini

Remaja 13 tahun itu mengepalkan tangan erat, berusaha nampak tegar di hadapan wanita cantik yang masih menundukkan diri. "Jadi maksudmu, cinta membuatmu seperti ini?" suaranya nampak getir. "Cinta tidak pernah salah, Amber. Kau yang membuatnya salah arah."

"Maaf."

Mukanya berpaling dan ada wajah kakak tingkat dua tahunnya di sana. Lelaki itu memberi kekuatan melalui sorot matanya yang teduh. Ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya percuma. Kulitnya perlahan memutih bahkan ketika kondisi tubuh itu belum pulih total, ia harus kembali lagi ke bumi hanya untuk mengurusi Amber, ajudannya yang mengambil Pure Water. Hanya karena ia ingin hidup bersama kekasih manusianya tanpa mati mengenaskan.

Pandangannya kembali pada Amber. Ada aliran kekecewaan di sana. "Hubungan kita berakhir sampai sini. Tanpa harus dijelaskan kau tau itu, kan?" gadis ini mengambil sendiri penyidangan sang ajudan yang harusnya sang Raja sebagai penghukumnya. Tapi Veronica secara pribadi menyatakan diri untuk menjadi satu-satunya penyelesai hukuman Amber. Ia tidak ingin wanita yang sangat berjasa baginya itu mati mengenaskan meski ada rasa benci juga di sana. "Aku membalas semua kebaikanmu selama 13 tahun ini dengan itu. Jadi, pergilah!"

"Terimakasih, Putri. Terimakasih –." Remaja ini sudah berlalu tanpa mendengar kalimat lanjutannya. Air di matanya mulai mengalir dan seseorang yang sejak tadi hanya menemani juga mendekat. Baru ketika sudah cukup jauh. Putri Mahkota ini mengalihkan diri dan memeluk Aarav di sampingnya.

Kali ini isakan terdengar menyesakkan. Aarav tau, Amber adalah ajudan yang selalu menemani Veronica entah di manapun itu. Ia sudah bagai orang tua kedua baginya. Dan dengan wanita itu memilih mengkhianati exhuman dengan meninggalkan kehidupan hanya untuk bersama seorang manusia, pastinya cukup menyakitkan bagi Veronica. Bahkan semua warga tau apa kerugian ketika meminum Pure Water dari danau penjaga tapi Amber masih memilih itu.

"Amber – dia – meninggalkanku." Lelaki itu mengelus punggungnya lembut. Berusaha menjadi sandaran terbaik. "Apa aku tidak semenyenangkan itu sampai dia meninggalkanku?"

"No, Ver. Amber pasti sudah mempertimbangkan semuanya."

"Tidak. Dia tidak. Hanya manusia sialan itu yang ada di otaknya."

Aarav melepas pelukan meski gadis di hadapan nampak enggan. Lengan itu menghapus air mata yang keluar dengan deras baru-baru ini. Berita tentang Amber memang mengejutkan, tapi yang berdampak besar pasti atasannya sendiri.

"Kita tidak ada yang tau kan apa yang ada dipikiran Amber." Lelaki itu memberi senyuman terbagusnya. "Yang paling penting. Kamu tadi sudah sangat terlihat seperti Calon Ratu Ann Empire. Sangat-sangat keren."

Veronica memukul bahu sang kakak tingkat kesal. "Jangan main-main, Aarav!"

"Aku serius." Senyuman itu setidaknya membantu sedikit harinya yang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini. "Ayo pulang!" gadis ini tak menjawab apapun tapi menerima uluran tangan sang sahabat. Rasa sedihnya masih bergumul tak ingin pergi.

"Terimakasih sudah menghiburku."

Bisikan pelan itu membuat lelaki ini menoleh tanpa menghentikan langkah. "Memang aku menghibur?" gadis itu langsung berpaling sambil cemberut. Tapi beginilah cara Aarav menghiburnya, mengalihkan sedikit perasaannya dari sedih berkelanjutan.

Cahaya merah redup memudarkan semua gambaran barusan, dan Auristella berhasil bangun dari tidurnya. Tidur yang selalu menyita bagian untuk pengembalian ingatan. Gadis ini masih tak beranjak macam biasa yang spontan ambil posisi duduk. Pandangannya masih menatap langit kamar, ingatan yang sedikit membuat semua kejadian lain berputar di dalam otaknya.

Pure water. Air yang memang sempat ia baca sekilas di buku lama exhuman waktu itu, memberitau tentang telaga misterius yang dijaga oleh lelaki berumur abadi atas titah Tuhan. Air dari danau itu disebut pure water oleh tulisan nenek moyangnya, air yang bisa memberi keabadian hidup di dunia kecuali jika makhluk itu sendiri yang meminta Tuhan untuk mencabut nyawanya. Maka dari itu, hal ini yang menjadikan pure water solusi tidak falid bagi mereka yang ingin hidup bersama jodoh tak setakdirnya tanpa harus mati mengenaskan. Namun dengan manfaatnya luar biasa itu, ada kadar kerugian besar untuk exhuman sendiri.

Pertama, dia akan kehilangan hak sebagai warga negara dan mendapati hukuman ekstrim dari pemerintahan. Selain itu sistem tubuh bagian dalam akan mengalami sedikit gangguan sehingga rasa sakit yang gila mungkin sering terjadi tanpa bisa dideteksi sebab yang jelasnya. Sampai sekarang pun peneliti asal marga Lubis tak berhasil menguraikan materi apa yang menyusun pure water.

Kedua, tidak ada tempat baginya sekalipun terbebas dari hukum Capeville. Setiap sistem kehidupan di alam semesta punya pendeteksi kadar materi dosa dalam pure water yang memang tak layak konsumsi orang biasa, kecuali Bumi. Planet ini mengalami perubahan yang signifikan hingga beberapa kemajuan kadang meningkat dan memudar. Jadi tidak ada alat yang tetap dioperasikan di sana. Selain itu, asal cairan ini adalah dari bumi, planet di solar system, Milkyway Galaxy.

Ketiga, tentu saja yang paling besar. Tak ada yang tau apa yang akan Tuhan berikan bagi mereka yang melanggar aturan. Pure Water bukanlah akses publik yang bisa digunakan tanpa seijinnya. Jadi pasti ada ganjaran misterius di akhir.

Kendati begitu, ajudan asli Veronica tetap menyusup untuk mengambil air di tempat paling misterius itu. Ya ajudan aslinya, Amber. Gadis ini baru sekarang bangkit duduk hanya untuk menyempatkan diri menoleh pada Cheryl yang tidur di antara posisinya dan Hillaeri. Gadis ini hanya pengganti, yang mengorbankan mimpi-mimpinya sebagai rakyat biasa untuk mengabadikan diri pada Veronica. Dia sahabat paling paling dekat miliknya, setara dengan persahabatan konglomerat antara ia dan tiga orang lain.

Lihat selengkapnya