Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #33

032˚ 01ʼ 7,13ˮ Incaran

Rencana pembunuhan. Lagi-lagi itu mencium kehidupan Auristella 13 dengan tiba-tiba. Sejak keluar dari wisata pantai tadi, ke enamnya sempat mampir di sebuah warung makan untuk mengisi perut. Bahkan mengobrol lumayan lama hingga baru pulang ketika melirik jam sudah hampir sampai di angka sepuluh. Tapi, motor Hyeon Jae yang memang bergerak paling belakang harus pisah rombongan karena pengejaran mobil hitam aneh.

Lengan Auristella makin erat memeluk pacarnya yang berusaha menjauh dari kebutan kendaraan roda empat di belakang sana. Seharusnya mobil itu tak mengikuti sampai sejauh ini, bahkan jalan sempit dengan semak-semak di kanan kiri terus diterobosnya tanpa pikir panjang. Ia yakin banyak goresan di bumper mulus itu, tapi yang lebih penting kenapa dia bertindak sampai sejauh ini?

Dari posisi jok belakang motor, gadis ini sempat menolehkan kepala sejenak. Mengecek siapa gerangan orang di balik kemudi, setidaknya ingin memvalidasi apakah benar lagi-lagi suruhan Tania? Tapi yang lebih mengejutkan adalah, kaca depan itu tak menampilkan adanya pengemudi yang memegang kendali mobil.

Itu fakta mencengangkan. Dan ia harap tadi benar benar salah lihat. Mungkin karena malam yang larut tanpa cahaya apapun selain lampu penerang kendaraan.

Hyeon Jae membelokkan lagi motor ke daerah ramai penghuni, jalanan yang lebih besar daripada semak belukar tadi. Tapi tak butuh waktu lama untuk mengalihkan pada gang sempit yang diapit dua tembok sisi kanan kirinya. Dia menyelinap cepat ke sana dan ketika gadis ini menoleh, mobil tadi berhenti di ujung tak bisa masuk. Tentu saja tak perlu bertanya.

Motor yang mereka kendarai berhenti dan Auristella jadi teralih pada Hyeon Jae yang menyodorkan handphonenya. "Cari jalan pulang!" gadis ini dengan sigap menurut karena bahkan Hyeon Jae sendiri pasti lupa nama penginapan mereka.

"Tidak ada jalan pulang selain kembali."

Ucapan lemah itu membuat sang lelaki sepenuhnya turun dan beralih pada seseorang yang duduk pada jok motor belakang. Ia menangkup kedua pipi wanitanya lalu menilik rasa di balik manik mata itu.

"Kamu takut?"

Kali ini ada tetesan air kecil dari ujung matanya. Namun dengan wajah kesal yang amat kentara. "Siapa yang tidak takut kalau ada di posisi ini?"

Lelaki itu memeluk tubuh sang pacar cepat lalu mengelus punggungnya lembut. "Tenang. Kan ada aku." Anggukan kecil terasa dari dadanya, tempat Auristella menyandar. Hyeon Jae melepas pelukan kemudian, lalu menyodorkan tangan untuk meminta ulang handphone. "Apa pergi cari sunrise? Kita dekat dengan wisata bagian timur sekarang."

"Memang jam berapa?"

"Tinggal lima jam lagi sihh. Tapi kamu juga nggak akan mau kan kalau aku putar balik."

"Tapi kemana?"

"Kamu pengennya ke mana?"

"Yang aman."

Lelaki itu terkekeh. "Aku punya rekomendasi bagus untuk lihat sunrise. Mau?" gadis itu mengangguk saja. Dan Hyeon Jae meyempatkan diri untuk mengacak rambut sang gadis sebelum menaiki motor dan ambil kendali lagi.

Suara deru angin kembali terdengar dan sesekali Auristella mengecek balik punggung. Mereka sudah keluar dari area sempit tadi dan bisa jadi kemungkinan besar si iblis jelmaan tadi mengikuti lagi. Mau bagaimanapun Tania tak pernah putus asa untuk membunuh reinkarnasi Veronica.

Karena wanita itu sadar, akan ada efek besar dari bunuh diri yang dilakukan putri mahkota sekedar agar bisa balas dendam.

Auristella pun sebenarnya tak punya bayangan seperti apa kehidupan ke depan tentang Veronica dan pergejolakan konflik di negerinya sana. Ia tak punya rencana yang benar-benar matang.

Tentang permasalahan barusan, pengejaran mobil. Ia yakin itu Tania. Matanya melirik Hyeon Jae dari samping bahu ketika memajukan kepala. Lelaki itu apa tau tentang sesuatu jadi tak bertanya apapun?

"Menurutmu? Siapa yang mengejar kita tadi?"

Hyeon Jae melirik sebentar dari kaca spion sebelum kembali pada jalan tanpa aspal di depannya. Mereka akan sampai tujuan dengan cepat karena memang tak terlalu jauh. "Siapa lagi kalau bukan ayahku?"

Auristella bernapas lega. "Kenapa?"

Lihat selengkapnya