Ia sadar Hyeon Jae berulang kali memusatkan pandangan ke arahnya sejak ia meminta pulang lebih dulu dari Nusa Penida. Tak ingin ikut rombongan lain yang ingin berselancar bahkan ke nusa-nusa yang lain. Mereka pulang lebih dulu, dan tentu tanpa ijin yang resmi. Secara spontan Hillaeri pasti marah tapi ketika Cheryl memberi alibi entah apa itu, sahabat eropanya bisa menerima di akhir.
Auristella dan Hyeon Jae sudah sampai kota dengan cepat dan bahkan hampir memasuki area lobby apartement lelaki ini. Secara pribadi sang pacar ingin mampir hanya untuk makan sebelum kembali ke asrama, yang sebenarnya dia ingin menginap. Tinggal di asrama sendirian akan lebih berbahaya daripada sekarang.
"Turunlah dulu!" mobil mereka sudah sampai di pintu lobby. "Aku akan mampir ke supermarket bentar membeli bahan masak. Sepertinya ada yang kurang di dapur."
"Aku ikut."
"Turun dulu aja. Kamu juga bisa akses apartementku, kan? Mandi dan istirahat sebentar. Aku akan kembali cepat dan memasak makanan enak nanti." Lelaki itu mengacak rambut sang pacar sebelum akhirnya gadis ini mengiyakan. Dia turun tanpa pikir panjang lagi. Menunggu sejenak sampai mobilnya hilang baru mulai mengarah ke lift gedung.
Tangannya menekan angka 10 dan menunggu hingga benda kotak itu membawa ke lantai yang dituju. Ketika langkahnya benar benar keluar dan berhenti di hadapan pintu berjudul 1004, sebelah jemarinya menekan protektor sidik jari dan bunyi bib sebagai tanda pintu membuka terdengar.
Namun hal pertama yang gadis ini tau, ada sebuah suara gesekan benda dari dalam sana. Yang berhenti tepat setelah ia berhasil mendorong sedikit pintu. Memang sangat lembut tapi tetap saja Auristella bisa mendapatkan pendengaran itu melalui kelebihan telinganya. Pikiran gadis ini mulai melayang pada Tania dan pasukannya.
"Ahh. Sepertinya dompetku tertinggal di mobil." Tangannya menutup pintu lagi sebelum melangkah mundur pelan dan berbalik.
Tapi ketika langkah cepat itu baru sampai dua kali jalan, suara deritan pintu yang terbuka membuat gadis ini membeku di tempat. Dia menoleh untuk mengecek tapi seorang wanita paruh baya sedang menatapnya berbinar.
"Lohh. Non Auri?" bibi dengan alat kebersihan di tangannya mendekat semangat. "Lama banget udah nggak ke sini. Tuan muda sedang keluar non."
"Bibi kenal aku?"
"Ya kenal lahh. Pacar majikan sendiri masak nggak kenal."
Gadis ini mulai memutar otak dan mengingat tentang Hyeon Jae yang bercerita tentang asisten rumah tangga yang membantunya bersih-bersih di pagi hari. "Hyeon Jae bercerita tentang aku?"
"Nona Auri ini masih muda tapi pelupa. Kan kita bahkan pernah bersih-bersih bareng. Ngelawak aja nona. Udah masuk aja yuk. Nggak enak diluar."
Auristella hanya mengangguk kaku lalu menurut saja ketika wanita tadi menuntun masuk. Bahkan membersihkan lagi sofa yang terlihat baik-baik saja sebelum meminta gadis ini duduk. "Lemon Ice kan? Bibi udah siapin dari lama takut nona Auri ke sini lagi. Bibi buatin dulu ya non."
Dia tak menolak dan mengiyakan juga. Kenapa ada vibes keakraban yang kental di sini? Sejak kapan mereka saling kenal?
Dari posisinya sekarang ia bisa melihat wanita di ujung sana sedang sibuk membuat sirup yang memang jadi favorit Auristella sejak SMA. "Jangan panggil nona bik! Auristella aja." Selanya ketika wanita itu bercerita entah apa tapi masih saja memanggil hormat kepadanya.
"Kan kita juga udah bahas terakhir kali. Bibi udah biasa gini." Segelas lemon ice instan ada di depan mejanya sekarang. "Gih non diminum. Bibi mau lanjut bersih-bersih."
Tapi belum sempat wanita ini beralih tempat, pintu depan mengeluarkan bunyi bip lagi dan Hyeon Jae muncul di sana. Dengan sekantong kain berlogo supermarket dekat sini. "Loh? Bibi dateng? Aku kan udah bilang aku lagi nggak di rumah."
Lelaki itu menyempatkan diri menarik lengan sang pembantu untuk dilami dan ini sedikit membuat Auristella terkejut. "Nggak ada orang ya tetep dibersihin dong. Nanti biar kalau tuan muda datang, enak. Bisa langsung istirahat." Dan Hyeon Jae membalas dengan kekehan.
"Nggak papa deh bik. Tinggal aja. Tadi aku udah liat anak bibi lagi nunggu di bawah. Lagian ini udah lewat jam kerja."
"Loh? Radit udah jemput?" Auristella yakin kalau itu nama anak wanita ini. "Aduh padahal bibi udah bilang jemput agak siangan. Nggak papa tuan muda. Ini sekalian bisa bibi selesain."
"Nggak papa bik, pulang aja. Itu ada Auri yang bisa lanjutin."
Wanita paruh baya itu menoleh sejenak ke Auristella. "Nggak bisa lah. Non Auri pasti capek juga."
"Nggak kok bik. Ini malah aku pulang ke apart Hyeon Jae buat bersih-bersih." Ia bangkit dan memberi senyum manis.