Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #37

036˚ 01ʼ 7,13ˮ Bom Waktu

Monday, 24 October 2022

10.34 am

Auristella berdecak kesal. Dia pisah rombongan dalam jelajah alam sekarang. Kegiatan ini digabung dengan Scavenger Hunt game, permainan mencari barang-barang yang sudah disebar oleh panitia di berbagai tempat. Ada 58 jenis barang random dan per kelompok mendapat jatah satu list kertas berisi barang apa saja dan berapa nilai per masing-masing poinnya. Yang paling banyak mengumpulkan poin, mereka akan dapat hadiah misterius.

Kali ini, kelompok yang dibagi adalah gabungan dari satu tenda perempuan dan satu tenda lelaki. Auristella juga tidak mengerti kenapa banyak sekali sistem pembagian kelompok. Pasti ada alasan mendasar para panitia mempersulit hidup begitu, tapi karena bukan panitia jadi gadis ini tidak terlalu peduli. Yang pasti semua anak memegang peta hutan masing-masing meski satu kelompok, mencegah terjadinya kejadian seperti Auristella sekarang.

Meski percuma karena sekarang ia tak tau sedang ada di posisi mana. Dia juga tak bawa kompas. Sial memang.

Gadis ini yakin, ia masih dalam lingkungan hutan jelajah, karena beberapa kali dia menemukan barang menggantung yang entah ada atau tidak dalam list, tapi itu ia bawa sekalian juga. Senter kecil dan mainan bebek air.

Matanya tetap mengedar. Mencari barang lain meski yang paling dipusatkan adalah apakah ada manusia yang lewat. Tapi nihil. Sepertinya dia akan tersesat sampai malam.

10.45 am

Tetap tak ada apapun.

11.03 am

Dia masih sendiri.

11.27 am

Ia berhenti melangkah sejenak untuk rehat sebentar dan kembali melanjutkan penjelajahan sendiri lepas beberapa menit.

11.57 am

Auristella bersorak senang ketika mendapati bendera menancap tinggi di sebuah pohon. Barang yang memang punya poin paling tinggi jika dikumpulkan. Ia ingat karena benda itu ada di paling atas list daftar.

Tempatnya terlalu tinggi. Tak ada cara selain manjat tapi dia tak pandai dalam hal itu. kalau ditinggal malah lebih sayang. Jadi, ketika gadis ini bersiap menaikkan kakinya di batang pohon, suara bising daun yang terinjak membuatnya batal memanjat. Ketika menoleh, ada Hyoen Jae yang mendekat sambil ikut memperhatikan bendera yang menggantung itu.

"Eh eh eh. Aku yang liat dulu. Nggak boleh ambil."

Lelaki ini mengangkat sebelah alis heran. "Memang bisa tergapai?"

"Kau juga tidak yaa. Itu bahkan tidak akan tergapai dengan tangan panjangmu." Hyeon jae melirik lagi ke atas pohon.

"Aku bisa manjat. Kau tidak."

Auristelle nampak tertangkap basah. Mungkin lelaki itu melihat tingkah anehnya ketika berusaha memanjat tadi. "Gini aja deh. Kita pake Paper Rock Scissors. Yang menang punya hak buat ambil benderanya. Yang kalah bantu ambilin."

"Rugi lah aku.."

"Eh enggak dong. Gimana sih anak sains, untung rugi aja nggak bisa dihitung. Bayangin kalau kau yang menang?"

Butuh beberapa saat sampai kalimat "Oke deh." terdengar

Keduanya bersiap. Saling pandang sebentar sebelum melantangkan suara Paper Rock Scissors sambil berjelajah dengan bentuk pertama. Sama-sama gunting. Kedua, sama-sama kertas. Auristella mendesak kesal sejenak sebelum yang ketiga dia bersorak girang. Scissors mengalahkan Paper dan gadis itu menang.

"Bantu aku ambil cepat!"

Lelaki itu mengerling malas meski kemudian menaiki cabang pohon paling rendah dan bisa meriah ujung tongkat bendera yang tertancap berkat tubuh tinggi dan tangan panjangnya. Auristella terus bersyukur dalam hati bukan dia yang harus memanjat untuk ambil bendera itu.

Hyeon Jae menyerahkan pada Auristella dan berlalu lebih dulu tanpa pamit. Gadis ini yang awalnya nampak girang dengan bendera segitiga merah di tangan langsung kalang kabut dan mengikuti langkah lelaki di depannya.

"Aku ikut yaa."

Lawan bicaranya melirik sejenak. "Kita tidak satu kelompok."

"Kau kan sendiri. Aku sendiri. Jadi kita bareng aja."

"Why? Kau tersesat?"

Auristella nyengir lebar. "Dari tadi. Ini baru nemu manusia buat diajak balik basecamp bareng."

"Aku juga tersesat. Dan tidak bawa peta."

"No no. Aku bawa." Gadis ini mulai mencari lipatan kertas yang awalnya digulung dalam tas ransel kecil dan menyerahkannya pada Hyeon Jae dengan senang hati.

"Kau bawa peta dan masih tersesat?"

Ia menjawab dengan kekehan tanpa dosa. Sedangkan Hyeon jae berusaha tak peduli lalu mulai membuka peta hutan ini. Dia mengamati untuk beberapa saat hingga tau harus kemana arah mereka. Auristella hanya mengikuti.

"Kau sudah sehat?"

"I'm fine."

Gadis ini mengerling malas. Niat hati memecah suasana canggung malah lelaki itu sendiri yang menjawab dengan kalimat enggan. Dia berniat melayangkan punggung tangan di dahi Hyeon Jae ketika mereka sama-sama berhenti untuk mengecek peta setelah sekian kali. Tapi cepat tanggap dicegat.

"What are you doing?"

"Kau bisa saja masih sakit. Kemarin bilang i'm fine ternyata makna bagimu adalah aku sedang tidak baik-baik saja."

Lihat selengkapnya