Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #38

037˚ 01ʼ 7,13ˮ Terkurung

29 October 2022

01.32 pm

Apartement Hyeon Jae itu sejenis apartement yang juga menyediakan fasilitas hotel mewah di gedung sebelah. Dan tempat dikurungnya Auristella adalah di lantai tertingginya. Wow. Entah bagaimana bisa tidak ada jendela satupun di kamar, yang pasti kini dua orang tadi bukan dibopong menuju salah satu kamar hotel yang lain. Tapi di kamar Hyeon Jae. Lavato Apartement.

Dua dari tiga yang membawa tadi, sudah pergi meninggalkan ruangan. Bertepatan ketika seorang wanita cantik datang. Itu Dokter Zahra. Auristella langsung dapat mengenali wanita yang sudah bolak balik ruang kesehatannya ketika dirawat terakhir kali. Ruang kesehatan tempatnya disekap setelah kematian Anna. Ia yang tadi hanya diam mengikuti alur, kali ini mendekat.

Dokter itu melakukan tugasnya termasuk membedah punggung Hyeon Jae untuk mengambil peluru dan mengobati beberapa luka lain. Begitu pula dengan tubuh Auristella yang dibersihkan dan diobati beberapa luka memarnya. Bedanya, wanita ini dipakaikan infus sedangkan Hyeon Jae tidak.

"Kukira Hyeon Jae lebih parah." Respon lelaki yang menjaga mereka sejak tadi. Sependapat dengan Auristella virtual yang tak bisa mengutarakan kebingungannya.

"Tapi dia akan bangun sebentar lagi. Kalau Auri mungkin dua hari kemudian."

Lelaki yang menjaga itu mengangguk angguk saja. Mungkin dia menyamakan Hyeon Jae dengan sang ayah yang memang penuh luka untuk pekerjaannya.

"Aku meresepkan obat. Jangan lupa di beli! Dan pastikan Hyeon Jae meminumnya. Aku juga akan menyuruh perawat di rumah sakit untuk menjaga dan mengecek kondisi Auristella."

"Siap."

Dokter itu terkekeh pelan dengan tanda hormat di kepala lelaki entah namanya siapa itu. Lalu pamit pulang yang dengan cepat diikuti oleh Auristella. Ia penasaran kemana perginya dokter yang satu ini. Lagian untuk apa menunggu di rumah Hyeon Jae yang Auri asli baru bangun besok atau lusa.

Langkahnya ikut ke dalam lift. Bahkan menembus mobil milih dokter ini juga. Duduk di kursi penumpang belakang meski kemudian agak terkejut ketika sadar wanita ini tak sendiri. Ada wanita lain yang duduk di kuris co-driver. Wanita asing yang sedikit tak asing di mata Auristella. Seperti pernah lihat tapi tidak juga.

"Bagaimana keadaannya?"

"Masih hidup."

Kekehan tajam keluar kemudian. Auristella meletakkan kepala di antara keduanya dan dalam posisi ini, Zahra nampak mirip seperti Veyra. Saudara perempuan Aarav yang terakhir kali ditemuinya. Hanya mirip. Lagian tidak mungkin Veyra menjadi dokter.

"Kurasa sekarang, dia sedang ada di pengembalian memori. Mungkin penjelajahan ketiga belas kehidupannya." Auri menoleh. Menyadari kalau yang sedang dibahas Zahra adalah dirinya.

"Hyeon Jae? Dia masih terkendali?"

"Dalam pantauan. Sejauh ini dia menjalankan misi dengan baik."

"Bagus." Wanita di co-driver itu tersenyum senang. "Aku akan kembali sekarang. Jangan lupa bilang ke Hyeon Jae untuk senatural mungkin dalam melindungi Auristella!"

"Kau juga jangan lupa memblokir pengembalian ingatan Auristella. Jangan sampai terlambat!"

"Itu aman. Oke see you."

Auri agak terkejut ketika wanita tadi melenyap cepat bagai angin di depan matanya. Sedangkan Zahra menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan basemant apartement. Gadis ini tetap mengikuti, bahkan sampai rumah sakit asing tempatnya bekerja. bukannya dokter Zahra bekerja di rumah sakit Kak Briel?

Tapi, hingga lebih dari sehari dia memantau wanita ini, tak ada hal ganjil yang terjadi. Dan karena energi yang dimiliki simulasi virtual habis, dia secara otomatis kembali ke posisi di dekat Auristella. Oke, mungkin dia harus mengingat terus wajah wanita tadi dan menunjukkannya pada Cheryl atau Reksa ketika keluar dari tempat ini. Siapa sebenarnya wanita itu?

Monday, 31 October 2022

18.27

Suara pintu menderit terbuka langsung mengalihkan kefokusan wanita ini. Sapu di tangan langsung dilepasnya tanpa pikir panjang ketika tubuh rapuh bahkan masih dengan tiang infus menemani langkahnya nampak keluar dari kamar utama.

Itu tidak baik dan wanita ini tergopoh untuk membantunya agar tak lebih banyak cedera. "Nona sudah sadar? Kenapa keluar kamar?" Auri dituntun menuju sofa terdekat dan asisten rumah tangga itu membenarkan sedikit posisi selang infus yang menggantung dari atas.

"Ibu siapa?"

Sedangkan wanita itu langsung meberi bungkukan hormat atas pertanyaan barusan. "Saya Mbok Kadek, non. Asisten rumah tangga tuan muda. Sebentar saya panggilkan dokter supaya kemari memeriksa keadaan nona."

Auri mengedarkan pandangan. Ini tempat asing baginya. Bahkan bukan posisi yang sama ketika dirinya diculik terakhir kali. Ouhh. Diculik. Ingatan yang bagus. Tapi kemudian apa? Gadis ini berusaha mengingat ulang tapi tak ada sekelebat apapun yang lewat. Kenapa dia bisa pindah kemari? Ini dimana?

"Ini di mana?"

ART yang baru saja mengembalikan telpon rumah di tempatnya semula berujar. "Apartement Lavato, non. Tempat tinggal tuan muda, pacar anda."

Gadis ini mengernyit. Sejak kapan dia punya pacar. "Siapa pacarku? Dan kenapa aku di sini?" tapi pertanyaan pertamanya terabai.

"Saya kurang tau. Tuan muda hanya memerintahkan saya menjaga nona sampai tuan kembali dari sekolah. Mungkin sebentar lagi tuan muda pulang karena ini sudah jam –."

Sebuah bip pintu menjeda sejenak dan tubuh jangkuk di ambang depan sana menghentikan pembicaraan mereka secara spontan. Itu Jang Hyeon Jae. Baru ketika ia melihat wajahnya sekarang, Auri jadi ingat tentang aksi kaburnya beberapa hari lalu. Kemudian tembakan dan lelaki di hadapan ini yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya.

"Kau sudah sadar?" lelaki itu melangkah cepat mendekat. "Doktor sudah ke sini, bik?"

"Nona baru bangun tuan. Baruuuu aja. Tapi saya sudah menelepon Dokter Zahra. Beliau menuju kemari."

Hyeon Jae mengangguk lega sebelum beralih lagi pada Auristella di hadapan. "Pindak kamar yaa? Kondisimu nggak baik buat duduk kayak gini." Gadis itu tak menjawab tapi juga bangkit ketika dituntun ke tempat awal ia membuka mata. Si marga Jang itu membaringkan pelan dan menyelimuti setengah tubuh sang teman sebelum pintu kembali dibuka dan wanita cantik masuk ke dalam.

Auristella bisa tau itu dokter yang disebut tadi dari cara Hyeon Jae menyapa namanya barusan.

Tapi, kenapa dia di sini? Pertanyaan itu masih ada di otaknya.

"Dia normal. Untuk beberapa saat mungkin dia tidak diperbolehkan banyak kegiatan dulu. Cukup berbaring karena beberapa lukanya serius dan mungkin akan sedikit nyeri ke depannya. Aku resepkan obat pereda nyeri juga itu." ia menyodorkan kertas bercoret pada Hyeon Jae yang duduk di sisi ranjang lain.

Lihat selengkapnya