Tuesday, 01 December 2022
05.00 am
Dia punya kebiasaan bangun dan mandi pagi. Meski udara dingin, dan luka-lukanya sedikit ngilu kalau kena air, tapi kebersihan juga harus dijaga. Sejak bangun kemarin, dia belum mandi sama sekali. Yang ini artinya, dia tak mandi sejak kabur dari penculikan itu. iuuhh.
Ngomong tentang penculikan, gadis ini menunggu lumayan lama sampai Hyeon Jae bangun dari tidurnya. Ia tak tega kalau membangunkan dan lebih tak tega lagi kalau mengambil waktu luang dengan memasakkan makanan. Terakhir kali dia berniat inovasi malah membuat adiknya diare dua hari. Auristella cuman jago masak nasi goreng dan mie instan, tapi bahkan di rice cooker tidak ada nasi. Yaa dia juga tidak bisa masak benda putih itu meski sudah pakai teknologi. Dia kurang paham takaran airnya.
Hyeon Jae bangun kira-kira jam enam lebih sedikit bertepatan dengan gadis ini yang usai beres-beres rumah. Cuman nyapu dan nata kamar sihh tapi lumayan lah bagi orang yang baru sembuh dari koma.
"Kau bangun jam berapa?" sedangkan si pemilik rumah masih setengah sadar sambil memejam dengan punggung menyandar sepenuhnya pada sofa.
"Entah. Nggak liat jam." Bohongnya. Auri lebih milih mendekat sambil mengecek ulang suhu di dahi Hyein Jae dengan punggung tangannya. Panas lelaki ini menurun dibanding semalam. "Udah mendingan. Makasih udah mau minum obat tadi malem." Ia sempat menghitung jumlah obat tadi. Dan memang berkurang daripada julam awalnya.
"Itu juga buat aku sendiri. Nggak usah makasih."
"Tapi kamu nggak minum obatnya kan sebelum-sebelumnya? Baru waktu aku suruh kemarin baru diminum. Berarti itu kamu mau ngehargai perjuanganku maksa kamu minum obat, jadi aku berterimakasih."
Hanya ada deheman sebagai balasan. Mereka terjebak beberapa menit dalam kondisi canggung itu sebelum akhirnya untuk kali ini, Hyeon Jae benar-benar membuka mata lalu menegakkan punggungnya. "Kau sudah minum obat?"
"Sudah." Auri melirik sejenak jam dinding di atas televisi. "Kau tidak sekolah?"
"Kita perlu keluar untuk mencarikanmu baju ganti kan?"
Ohh gadis ini jadi teringat sesuatu. "Kenapa tidak ambil ke asrama? Atau biarkan aku tinggal di asrama. Aku juga sudah sadar jadi bisa jaga diri sendiri."
"Terakhir kali kau diculik juga keadaan sadar." Sindiran yang 100% benar. "Lagian sekolah belum tau kalau kau selamat dari penculikan."
"Hah?" maksudnya? "Tapi Reksa bilang kemarin, pihak sekolah juga berpartisipasi menjagaku."
"Oh. Dia bilang gitu?"
Auristella jadi mengernyit heran sekarang. "Ada apa sih sebenarnya, Hyeon Jae? Jadi maksudnya sekolah tidak tau kalau aku selamat?"
"Mungkin Reksa bilang begitu supaya kau tidak terlalu takut." Jelas Hyeon Jae kemudian. "Sekolah tidak boleh tau karena bisa jadi penculikmu ada hubungannya dengan sekolah. Bisa jadi guru atau murid di sana."
Kali ini Auri tertawa sarkastik dengan kalimat itu. "Why? Buat apa mereka menculikku?"
"We don't know. Tapi ada petunjuk yang mengarah ke sana. Mungkin Direktur Blackfire tau kalau kau sudah selamat tapi ini masih dirahasiakan. Itu kenapa Reksa kemarin ingin menjemputkan? Bukan mengembalikanmu ke asrama?"
Itu benar. "Tapi apa petunjuk itu? Aku setidaknya harus tau sebagai korban." Kalimat terakhirnya keluar karena Hyeon Jae nampak enggan angkat bicara.