Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #40

039˚ 01ʼ 7,13ˮ Wanita di Balik Kabut


07.34

Kegiatan Auristella selama ditinggal Hyeon Jae sekolah hanyalah membantu bersih-bersih Bik Kadek dan mengajak wanita itu mengobrol ringan. Kadang juga menonton film yang ternyata pemilik apartement ini menyewa netflik meski tak ada riwayat tontonan apapun di dalam. Auristella sih bodo amat semenjak mendengar dari ARTnya kalau lelaki itu keturunan orang kaya. Dia lupa dari keluarga apa, yang pasti entah ibu atau ayahnya sama-sama konglomerat. Dia bahkan sampai berpikir apa rela yaa kalau hutang kemarin diikhlaskan saja. Gadis ini tertawa dalam hati mengingat pikiran konyolnya kala itu.

Kegiatannya memang membosankan kalau diulang-ulang tapi bergaul dengan pembantu anak satu itu lumayan seru. Dia punya banyak cerita seru. Tak jarang juga Auri minta dijelaskan hal-hal yang kadang masih membuatnya bingung tentang bali, semisal cerita ogoh-ogoh. Adat libur galungan kuningan. Dan entah apa lagi. Ia sampai lupa sangking banyaknya.

Keduanya memang jadi dekat setiap hari meski Bik Kadek tidak merubah panggilan bertitle 'nona' kepada Auristella karena alasan kebiasaan. Jadi ketika Hyeon Jae datang membawa kabar kepulangan Auri atas titah Reksa, gadis ini lumayan sedih. Dia harus meninggalkan kenyamanan layaknya orang kaya ini.

"Nanti kalau balik asrama sering-sering mampir ke sini, non. Ntar biar tua muda bilang ke saya supaya dateng sepulang non Auri sekolah."

"Jangan deh bik malah ngerepotin!" gadis ini nyengir manis. "Kalau weekend aja mampir. Bibik sihh nggak punya hp buat dihubungi."

"Kan ada nomor Radit, non."

Hyeon Jae nampak keluar dari kamarnya. "Nggak lah. Buat apa aku ngehubungi bocil SMP ganteng. Dikira apa nanti." Anak tunggal Bik Kadek memang ganteng meski baru lulus sd.

"Sudah siap?"

Auri mengangguk atas pertanyaan Hyeon Jae barusan lalu pamit sekali lagi dan memberi peluk perpisahan untuk Bik Kadek. Ia akan pulang ke Jakarta karena kakaknya sudah kembali. Setelah Reksa memberi kabar mengerikan itu ke keluarganya, satu rumah sudah mengomel dan meminta si korban pulang sesegera mungkin. Jadi, daripada menunggu Reksa menjemput, Hyeon Jae memilih mengantarkan sendiri sekalian dia punya urusan juga di Jakarta.

Mereka pesan tiket bisnis yang berangkat jam 10 pagi, Auristella sudah menimang-nimang dalam hati berapa jumlah hutang yang ia punya kepada lelaki itu. Penculikan adalah bencana besar baginya dan juga saldo dompetnya. Untungnya tidak ada tes-pcr atau antigen bagi mereka yang sudah vaksin dosis 3.

Hyeon Jae yang memesan kursi secara baik hati menyilahkan gadis ini duduk dekat jendela. Meski pemandangan dari atas pesawat sudah sering ia lihat, tapi yang sambil duduk di kursi bisnis hanya tiga kali. Sekarang, tahun lalu dibayari Hillaeri dan saat smp dengan uang reksa. Yaaa begitulah guna punya sahabat beruang.

Pramugari sudah mengumumkan pelepasan sabuk pengaman dan para penumpang dipersilahkan bergerak jika ada keperluan. Auri melirik Hyeon Jae yang nampak terpejam di sebelah, meski dari jarak sedekat ini ia tau kalau lelaki itu tak tidur sama sekali.

"Hyeon Jae." Panggilnya pelan. "Apa kau punya pacar?"

Mata itu kini menatapnya. "Kenapa? Kau berminat?"

"Dihh," gadis itu mengerling malas. "Aku penasaran aja. Aku punya sahabat yang ngefans banget sama kamu. Kali aja kan aku bisa bantu kalian deket."

"Are you crazy, girl? Kau membicarakan rencana gilamu di depanku."

"Kan nggak ada yang tau jodoh kita siapa. Patut untuk dicoba satu-satu."

Lihat selengkapnya