Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #41

040˚ 01ʼ 7,13ˮ Pintu yang Terbuka

Mereka baru menyelesaikan pagi sampai malamnya dengan mengelilingi mall. Memenuhi pergelangan lengan dengan banyakknya bungkusan belanja. Belum lagi yang sudah ditaruh dalam laci penitipan. Mereka menghabiskan dua box loker dan semuanya penuh dengan belanjaan.

Auristella menuruti diri sendiri dengan keinginannya dalam ingatan yang kembali. Membeli beberapa baju idaman. Ia juga banyak mengambil barang couple dengan Hillaeri. Sebagai kenang-kenangan.

Dan keduanya sudah duduk di kursi restorant sekarang. Bersama menu makan yang sudah tandas. Oh yaa, ada juga alat gambar yang menjadi salah satu barang hadiah dari Auristella. Alibinya sihh sebagai bentuk rasa syukur telah melewati kelamnya pelatihan private yang ia ambil sebulan kemarin. Tapi yang lebih tepat, dia minta imbalan dengan digambarkan wajah seseorang. Wanita yang menjadi alasannya kepo beberapa hari ini.

"Kau memang terbaik." Auri mengacungkan dua jempolnya. Sketsa wajah itu jadi dengan sempurna.

"Memang ini siapa sih, Au?"

"Kemarin papasan sama orang dan ada barang dia yang ketinggalan. Aku mau tanya ke direktur tempat private dianya nggak nyambung sama ciri-ciri yang kusebut."

Hillaeri terkekeh yang menandakan kalau dia percaya dengan kebohongan itu. "Ada-ada aja sumpah. Emang seberharga apa barang itu?"

"Lumayan mahal lah."

"Kenapa nggak dijual aja? Lumayan mahal kan?"

Auri ikut terkekeh menyahuti respon Hillaeri barusan. "Ntar aku coba deh. Udah ah. Yuk balik asrama. Hampir jam malam nihh."

Hillaeri turut melirik pergelangan tangannya sendiri. Dan matanya melotot. Mereka berangkat jam sembilan pagi lohh tapi sekarang jarum pendek itu juga ada di angka sembilan. Keduanya berjalan meninggalkan restorant dan menyempatkan diri mampir mengambil barang di loker penitipan. Tak ada pilihan selain meminjam dua trolly untuk membawa barang mereka ke parkiran tempat mobil yang mereka pesan menjemput.

"Oh iya, Hil." Auristella teringat sesuatu selepas keduanya sudah duduk tenang di kuris penumpang. "Kau keluar dari komunitas pencinta Hyeon Jae-mu itu yaa?" tanyanya sambil mencurahkan tawa mengejek di sana.

"Iyalah. Mama kan udah nggak ngawasin tingkahku buat pertunangan yang udah batal." Auristella terkekeh pelan mengingat fakta kalau Hillaeri hanya ikut komunitas agar tak dicurigai menolak pertuangannya dengan Hyeon Jae. "Malah nihh ya sekarang udah nemu calon tunanganku selanjutnya."

"Oh yaa?" Auristella takjum di tempat. "Wahh hebat banget mama sambungmu itu."

"Bukan hebat tapi mengerikan. Kenapa juga sih papa nurut aja sama istri nggak jelasnya itu."

"Yaa mungkin karena papamu juga dapat untung dari pertunangan yang dibuat mamamu. Nggak pernah kan kau dijodoh-jodohin sama orang yang nggak punya jabatan besar atau nggak punya kuasa hebat?"

Hillaeri mengangguk-angguk lesu. "Iya juga yaa. Toxic banget keluargaku."

"Nggak papa. Kan kau masih punya keluargaku."

Kali ini sahabatnya itu terkekeh melepas wajah sendunya barusan. Ia merangkul pundak Auristella sambil menyandarkan kedua punggung di sandaran kursi. "Entah ya, Au. Gimana jadinya kalau aku nggak ada kamu. Mungkin hancur sejak awal kali mentalku."

"Entah juga ya, Hil. Gimana jadinya kalau aku nggak kenal kamu. Mungkin aku nggak pernah bisa rela ngeluarin uang banyak buat makan yang sepiring cuman isi satu sendok bubur." Keduanya tertawa selepas itu. Sopir mobil online yang mereka pesan sempat melirik sejenak dari spion tengah, Auristella bisa sadar itu.

"Kau menghancurkan momen haru."

"Momen sedih kok dipelihara. We must happy everytime, Hil.

Hillaeri mengangguk saja. "Aku jadi pengen kuliah di Amerika bareng kamu. Tapi papa udah ngelarang banget."

Tanpa ada yang sadar Auristella menampilkan senyum getirnya. "Sejauh apapun kita hatinya pasti tetep nyambung kok. Pasti kamu juga bakal dapet temen yang bahkan lebih baik dari aku."

Lihat selengkapnya