Gadis Ketiga Belas

aether.writes
Chapter #42

041˚ 01ʼ 7,13ˮ Lupakan

Ia menatap ulang wajah yang kini ada di hadapan, dengan badan yang mengurungnya di balik pintu tangga darurat. Setelah pintu tadi membuka dan lengannya ditarik paksa keluar, wajah Hyeon Jae nampak di hadapan mata. Tapi entah kenapa ada aura berbeda yang ia rasakan. Lelaki itu sempat menoleh sebentar dari aksi larinya menjauhi unit apartement, tapi tak berkata apapun. Mereka sibuk kabur.

Sebelum ketika keduanya sampai membuka pintu tangga darurat, lelaki itu terpaku sejenak. "Kita dipindah dimensi."

"Hah? Kenapa Hyeon Jae?" telinganya tak mendengar dengan benar

Tapi tak ada jawaban lagi selanjutnya, sampai lelaki itu mengeratkan genggaman mereka dan melangkah perlahan menuruni tangga darurat. Bukankah seharunya mereka cepat-cepat agar tak dekat lagi dengan Bik Kadek palsu? Tapi Hyeon Jae nampak mengecek sekitaran dibalik langkah pelan mereka.

"Ada apa Hyeon Jae?" tetap tak ada sahutan sampai bukannya makin ke bawah, lelaki ini membuka salah satu pintu dan membawanya masuk ke sana. Menutup dan mengurung Auristella menyender di dinding pintu. Ya, posisinya sekarang.

Ia meneliti ulang wajah Hyeon Jae yang entah dari sudut yang mana, ini tampak berbeda dengan apa yang Auristella ingat. Apa karena mereka tak bertemu sebulanan lebih? Hyeon Jae tak nampak memotong rambut ataupun memakai make up dan barang baru. Tapi tetap ada rasa asing dari dalam diri Auristella.

Tangan lelaki itu menekan kunci dari pintu dan setelah itulah gadis ini juga turut mendengar suara derit dua bilah besi bergesekan. Ada langkah kaki juga yang nampak menuruni tangga bergantian. Auristella menduga itu Bik Kadek palsu dengan bilah pisau yang digesekkannya dengan besi pembatas tangga. Ia bergetar di tempat sekarang dan membekap mulutnya untuk menghalau suara apapun yang bisa tak sengaja keluar.

Suara itu makin dekat dan Auri berusaha mengalihkan diri dengan hal lain. Ia menatap mata Hyeon Jae yang menimbulkan gelenyar aneh dalam batin. Auri menemukan keanehan dari mata yang dalam dua detik saja sudah membalas tatapannya barusan. Itu, bukan mata memikat yang biasa ia lihat. Namun suara langkah yang terdengar berlari makin jauh membuat gadis ini melupakan hal itu sejenak.

Hyeon Jae berdiri menjauhi posisi dekatnya dengan Auri, lalu kembali meraih jemari gadis itu untuk digenggam. Mereka mulai menyusuri lorong entah di lantai berapa ini. Tapi Auristella yakin bahkan dari susunan perabot dan jenis pintu yang di pasang setiap beberapa meter bukanlah ciri-ciri dari Lavato Apartement. Pintunya terbuat dari kaca buram dan di lorongnya dipenuhi dengan beberapa meja dengan bunga penghias di atasnya. Mereka seperti masuk dalam ruang yang berbeda.

"Hyeon Jae-ah" panggilnya pelan sambil merapatkan gandengan tangan mereka. "Kita ada di mana?"

Lelaki itu sempat menoleh sebentar sebelum secara tiba-tiba ledakan lumayan kencang ada di hadapan sana. Hyeon Jae kembali melihat jalan tujuan mereka sebelumnya demi terbelalak kaget dan membawa Auristella putar balik. Ledakan beruntun selanjutnya nampak bersahut-sahutan dari belakang dan dengan cepat ia menggiring untuk membelok di satu ruang yang berpintu kaca itu.

Keduanya terjebak di posisi itu lagi sekarang. Auristella yang terjepit di antara tubuh sang pacar. "Tadi itu – apa?" pertanyaan gemetarnya sedikit membuat lelaki itu alih fokus.

"Detektor sensitif. Cara kerjanya mirip ranjau darat. Kurasa mereka mulai mengaktifkannya sekarang."

Gadis ini terpaku sejenak. "Siapa mereka? Kau tau siapa mereka?" Hyeon Jae kali ini menatap mata Auri cukup dalam sebelum akhirnya mengalihkan diri lebih dulu. Ketika bibirnya akan berucap lagi, gadis ini sudah menimpali dengan kalimat lain. "Jangan bilang suruhan ayahmu! Bumi tidak punya ranjau yang dipasang di gedung bertingkat."

"Kita bahas nanti. We don't have much time." Kalimat itu benar tapi dia sedikit tak setuju dengan argument barusan. "Pijak lantai yang aku langkahi. Jangan sampai geser!" tapi akhirnya dia mengangguk juga.

Keduanya keluar lagi dari persembunyian. Untuk awal waktu mungkin dia sempat melirik pada cara Hyeon Jae yang meniliti dari dekat lantai di hadapan sebelum ambil langkah. Tapi sekarang dia hanya fokus pada bekas mana yang tadi menjadi pijakan sang pacar.

Dan ketika kefokusan itu hanya pada ubin mana yang akan dipijaknya selanjutnya, sebuah tarikan agak kencang membuatnya berbalik. Matanya langsung membola kaget dengan postur tubuh Hyeon Jae yang menjadi pelaku penarikan lengannya. Kepalanya kembali pada jalan di depan dan Hyeon Jae yang tadi tak ada. Hyeon Jae yang memimpin jalannya di depan tadi sudah menghilang. Ia melirik lagi pada pacar yang barusan menarik pergelangan tangannya dari belakang, itu Hyeon jae. Lalu melirik lagi pada bagian lorong depan. Kosong. Apa ini barusan?

Lihat selengkapnya