Wonosobo, 2023
Malam takbir selalu punya caranya sendiri untuk menghidupkan suasana kampung. Dari halaman rumah, ledakan kecil petasan anak-anak kadang terdengar seperti tanda seru yang memecah udara. Yang dewasa-dewasa biasanya hanya berkumpul di dalam, berceloteh, melepas rindu, seperti rutinitas yang kembali terulang setiap tahun.
Di rumah bibinya, Bu Sarmi, Reymon duduk bersandar pada dinding. Sepupu-sepupunya mengelilinginya—ramai, sok tahu, dan seperti biasa, hobi mengusik hidup orang lain.
Dulu, masa remaja mereka berputar di sekitar hal-hal yang remeh. Tapi usia mereka kini bukan remaja lagi. Mereka sudah kepala dua, bahkan sebagian sudah lebih. Dan seiring waktu, bahan obrolan tak juga menjadi lebih dewasa, yang berubah hanyalah topik sasaran.
Reymon, usianya 27 tahun, masih jomblo. Dan itu, bagi sepupu-sepupunya, adalah bahan candaan paling empuk sedunia.
Fikri, sepupu termuda yang paling sok bijak, gelagatnya tampak ingin terlihat dewasa, padahal baru umur duapuluh dua. Ia menyenggol lengan Reymon sambil berlagak sok peka.
“Lho, Mon,” katanya dengan nada yang dibuat-buat. “Kamu ndak laku atau gimana sih? Aku tuh ya, kalau kamu belum nikah, aku juga nggak bakal nikah. Nggak sopan dong, aku ngelangkahin sepupu tua.”
Reymon menatapnya sambil tersenyum nyengir. Senyum yang lebih mirip upaya menahan diri agar tidak menonjok moncong anak itu. Dalam hati ia mengumpat pelan, kesal betul melihat gaya bicara Fikri yang seakan merasa paling benar.
Di pojok ruangan, Siti—yang paling tua di antara mereka dan sudah punya anak TK—sedang menyetrika baju sambil ikut nimbrung. Mulutnya tidak bisa diam dari tadi.
“Dulu katanya sama Diah gimana?” tanyanya setengah memicingkan mata.
“Itu mah cinta monyet. SMP. Udah lama banget,” jawab Reymon lempeng.
“Halah, cinta monyet kata siapa?” Siti mendengus. “Aku sama Kang Hasan juga pacaran sejak SMP. Sampai nikah, awet tuh."
Reymon menggaruk kepala, tidak tahu harus menimpali apa.
“Kalau serius mah, nggak ada cinta monyet,” lanjut Siti, tetap menyerocos. “Trus katanya SMA sempet sama Fida. Kelanjutannya apa?”
“Putus.”
Siti berhenti menyetrika, menatap Reymon seperti sedang menginterogasi tersangka kriminal.
“Kenapa putus?”
“Ribet orangnya,” jawab Reymon singkat.
“Ya namanya cewek, pasti ribet,” balas Siti enteng, lalu kembali sibuk merapikan pakaiannya. Namun suaranya tak berhenti. “Terus rencanamu apa sekarang?”
“Kerja aja.”
Siti mendengus lagi. “Pokoknya, kalau tahun depan kamu nggak ngenalin calon, kebangeten. Kita tuh cuma beda setahun, Mon. Anakku udah TK, kamu gini-gini aja.”
Belum sempat Reymon membalas, Fikri menyahut cepat. “Kami bakalan malu kalau ada keluarga yang umurnya segitu belum nikah.”
Reymon memejamkan mata sebentar. Ini anak benar-benar bikin hatinya gatal ingin memukul. Dikiranya menikah adalah lomba lari estafet keluarga, barangkali. Dasar bodoh!
Dari dalam kamar, muncul Syarif—adik kandung Siti—sambil membawa rokok sebatang. Dia melangkah santai ke ruang tengah dan langsung duduk di samping Reymon. Usianya setahun lebih tua dari Fikri, tapi kepercayaan dirinya bisa menyaingi pemain sinetron. Dialah playboy keluarga, yang gonta-ganti pasangan sesering ganti hair gel. Dibandingkan Reymon, jelas dia jauh lebih luwes. Lebih berani. Dan entah kenapa ia selalu tampak siap mengejek kapan saja.
Tanpa banyak basa-basi, ia mengeluarkan ponsel dan menyodorkan layar berisi foto perempuan cantik ke muka Reymon. Sikapnya gaya sekali, seperti makelar cinta.
“Cantik?” tanyanya.
Reymon ragu, tapi mengangguk.