Wonosobo, 1986
Kabut pagi menggantung rendah di antara bukit-bukit kecil, membuat udara terasa dingin menusuk kulit. Jalan tanah menuju SDN 2 Langseng basah dan licin, menyisakan bekas jejak kerbau yang mengeras setelah hujan semalam. Setiap langkah menimbulkan suara crot-crot dari sandal jepit yang mulai aus.
Fatimah berjalan mantap. Rambutnya dikepang rapi dua, diikat hanya dengan karet gelang yang dibalut pita kecil warna merah. Di tangannya tergenggam keresek hitam yang berisi buku tulis bersampul minyak, LKS matematika, dan pensil pendek yang sudah ia raut semalam dengan rautan besi kecil.
Fatimah dikenal sebagai “jagoan”-nya SDN 2 Langseng. Murid terpandai, yang nilai ujiannya sering ditempelkan Bu Guru di papan depan sebagai contoh. Tapi ia tidak pernah besar kepala, justru lebih pendiam dari sebagian besar teman perempuan lainnya.
Di belakangnya, suara sandal jepit dan teriakan kecil terdengar seperti kawanan anak ayam. Ada Ratno, kakaknya, membawa tas kain dongker yang talinya sudah dijahit tiga kali oleh ibunya. Tas itu diwarisi dari tetangganya yang merantau dari Bandung. Di kiri-kanannya ada bocah laki-laki lain, dengan rambut acak hasil potongan bapaknya, baju seragam yang kebesaran, dan buku dijepit di ketiak.
Di antara mereka ada Iman, bocah kurus dengan celana merah yang sudah memudar. Ia tidak membawa tas, hanya buku tulis yang diselipkan di balik kaus, dan pensil yang ia timpuk-timpukkan di antara jarinya. Satu hal yang tek begitu penting, semua orang tahu, Iman suka sama Fatimah. Dan semua orang juga tahu Fatimah selalu mengabaikannya.
Iman mempercepat langkah, berlari kecil mendekati Fatimah yang tetap menatap lurus ke depan. “Timah…” panggilnya dengan nada ceria yang dibuat-buat. “Cantik ih. Besok ada tontonan wayang di balai desa. Mau nonton bareng nggak?”
Fatimah tidak menengok. Suaranya datar, malas menanggapi. “Nggak. Mau ngerjain PR.”
Iman menjulurkan bibir. “Ah, PR bae. Mentang-mentang pinter, belajarnya kayak nggak ada lelahnya.” Ia mendesah dramatis, seolah sedang membaca naskah sandiwara desa. “Lagian kata ibu-ibu sama bapak-bapak, perempuan tuh… buat apa belajar rajin-rajin? Ujung-ujungnya masak nang dapur.”
Fatimah berhenti. Menengok. Tatapannya tegas, lebih matang dari anak seusianya. “Meneng ora?”
Iman terdiam satu detik. Lalu nyengir, nyengir nakal khas anak yang siap bikin masalah. Dan sebelum sempat ada yang bereaksi, cekatan sekali, Iman memajukan badannya dan mencium pipi Fatimah. Hanya sekilas. Cepat. Sperti dorongan impuls bocah laki-laki 80-an yang tak tahu batas.
“LARI!” teriak salah satu temannya.
Iman langsung lari terbirit-birit, sandal jepitnya hampir terlempar.
Ratno melihat kejadian itu. Wajahnya merah padam. “IMAN, BOCAH ASU!” teriaknya lantang. Tanpa menunggu apa-apa, ia mengejar, berlari menembus gerumbul anak-anak yang langsung menyingkir sambil bersorak-sorai. “BALIK SINI, TAK JEDOTKE!”
Di belakang mereka, Fatimah berdiri diam. Pipinya panas. Bukan karena ciuman itu, tapi karena marah, karena merasa diremehkan, karena kata-kata “perempuan buat apa belajar rajin-rajin” terngiang lagi di telinganya.
Keesokan harinya.
Sore turun pelan, membawa cahaya kuning yang membias di sela pepohonan pinus. Di halaman rumah simbah, Fitri, sepupu sekaligus sahabat terdekat Fatimah, datang dengan rambut acak tertiup angin.
“Timah!” panggilnya. “Ayo nonton wayang di balai desa! Banyak makanan gratis, lho!”
Fatimah sedang duduk di lantai, menunduk pada buku matematika. Pensilnya tinggal separuh, ujungnya tumpul. Ia mengangkat kepala sebentar, ragu. Keramaian selalu membuatnya enggan. Suara orang banyak, cahaya lampu, semuanya sering berujung pada pusing yang lama hilang.
Namun ketika Fitri menyebut “makanan gratis”, perutnya seperti terbangun. Hari itu ia hanya makan nasi tiwul dengan lauk ikan asin dan rebusan daun singkong, makanan sehari-hari yang kadang membuatnya ingin sesuatu yang lebih manis, lebih enak, lebih jarang.
“Beneran ada makanan?” tanya Fatimah pelan.
“Banyak banget! Ada jenang, cendol, singkong goreng. Cepetan, nanti keburu habis!”
Fatimah menutup buku itu perlahan, menyelipkan pensil ke bawah bantal. “Sebentar saja,” katanya, hampir seperti membujuk dirinya sendiri.
Mereka berjalan menyusuri jalan tanah yang mulai mengeras. Di beberapa bagian, genangan masih tersisa, memantulkan cahaya sore yang memudar. Dari kejauhan, gamelan terdengar samar, berpadu dengan suara tawa dan hiruk orang-orang yang sudah berkumpul.