Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #3

Bab 3


Wonosobo, 1987

Setahun kemudian, rumah Karim mendadak ramai.

Pagi itu, matahari baru naik setinggi genting ketika suara sepeda motor tua berhenti di depan halaman. Lalu disusul suara kaki-kaki orang turun dari mobil bak terbuka. Ibu-ibu tetangga cepat sekali menangkap sinyal itu, mereka segera berdatangan, pura-pura lewat sambil menahan senyum penasaran.

Sino dan keluarganya datang membawa nampan berisi tumpeng kecil, jajanan pasar, dan sebakul kelapa muda.

Sarmi, yang sedang menampi beras di belakang rumah, dipanggil ibunya dengan nada setengah panik. “Sarmi! Ganti kain sing luwih apik! Cepet!”

Gadis itu muncul dengan wajah bingung. “Lho, ada apa to, Mak?”

Ibunya hanya melirik tajam. “Udah tahu lah. Orang-orang itu mau berkunjung.”

Di ruang tamu, atmosfirnya sedikit kaku tapi tersemat harapan baik bagi orang-orang di dalamnya. Sino duduk paling depan, memakai kemeja baru yang warnanya terlalu terang untuk suasana desa. Ia menunduk, malu-malu.

Ayahnya yang berbicara. “Pak Karim… Kami sekeluarga niat sowan, sekalian… nyuwun ijin. Putra kami, Sino, kepengin njenengan setuju kalau kedepannya dia bisa… dekat dengan Sarmi.”

Karim cuma mengangguk-angguk, pura-pura tenang, padahal jantungnya berdetak cepat. Ia melirik Sarmi yang duduk menunduk, jemarinya meremas ujung kainnya sendiri.

Di luar, Fatimah, Ratno, dan Sarinah mengintip dari balik dinding.

Fatimah berbisik lirih, “Mbak Sarmi dilamar, ta?”

Ratno mengangguk sok tahu. “Iyo. Sino itu anaknya juragan kelapa, anak orang kaya.”

Sarinah mendengus kecil. “Kaya atau tidak, yang penting orangnya baik, mau bertanggung jawab.”

Fatimah tidak merespon. Namun ia menatap kakaknya lama, dengan campuran bangga dan cemas, seakan baru menyadari bahwa seseorang di rumah ini benar-benar sedang melangkah ke dunia orang dewasa.

Di ruang tamu, lamaran berjalan singkat. Tidak ada musik, tidak ada pesta. Hanya empat keluarga yang saling bertukar kata.

Di akhir pertemuan, Sino menyerahkan satu bingkisan kecil: kain jarik dan sepasang sendal kulit. Sarmi menerimanya dengan tangan bergetar, baru kali ini ada lelaki yang menyodongkan sebuah bingkisan yang dihias cantik kepadanya.

Ketika rombongan Sino pulang, suara motor menjauh pelan, meninggalkan debu di jalan tanah. Karim berdiri di depan rumah dengan tangan bersedekap, memandang ke arah jalan.

“Hmmm…” gumamnya. “Hidup itu pancen cepet, yo. Sebentar lagi, rumah ini bakal rame mantu.”

Fatimah berdiri di sampingnya, menatap wajah ayahnya yang diterpa cahaya pagi. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan aneh muncul, campuran bahagia, takut, dan… sedikit iri. Dunia terasa berubah terlalu cepat.


***


Cita-cita Fatimah sederhana, menjadi guru. Sederhana bagi anak lain, tapi tidak bagi keluarganya.

Sarmi, kakak pertama, sebentar lagi menikah. Sarinah, kakak kedua, merencanakan merantau ke Jakarta menjadi pembantu rumah tangga. Ratno, satu-satunya kakak laki-laki, sempat bermuram durja berminggu-minggu setelah Karim menolak keinginannya melanjutkan sekolah ke SMP. Semua kakak-kakaknya tidak ada yang melanjutkan sekolah setelah lulus SD.

“Duit nderes pulut itu nggak bakal cukup,” kata Karim waktu itu ketika Ratno merengek disekolahkan ke jenjang SMP. Terlebih Fatimah masih sekolah, dan biaya persiapan pernikahan Sarmi sudah mengintai di depan mata. Sementara Rami, istrinya, hanya bisa menjual nasi bucu pada hari tertentu, biasanya saat ada tontonan atau hajatan. Penghasilannya hanya cukup untuk garam, minyak, dan kebutuhan dapur kecil-kecilan.

Padahal Fatimah adalah jagoan SDN 2 Langseng. Murid terpintar. Pernah membawa sekolahnya ke lomba cerdas cermat tingkat kabupaten. Selalu juara pertama. Cita-cita menjadi guru bukan hal yang aneh bagi anak sepintar dia. Namun bagi Karim, sekolah tinggi seolah tak ada gunanya kalau ujung-ujungnya tetap kembali ke dapur.

Lihat selengkapnya