Jakarta, 1991.
Koran bekas yang dipaku di pintu toko kelontong Koh Tiong bergoyang setiap kali angin melemparnya ke depan. Bau bawang kering, minyak goreng curah, dan karung beras menyatu dengan suara angkot yang tak pernah berhenti melintas di depan toko. Fatimah, yang baru dua minggu bekerja di sana, sudah hafal ritme tempat itu—menimbang bumbu, menyusun susu kental manis, membersihkan botol-botol kecap, dan menghitung kembalian dengan cepat.
Sore itu, ketika toko mulai sedikit sepi, Mieng duduk di bangku kayu dekat kasir. Kaos putihnya sudah mulai pudar, rambutnya diikat kecil di belakang—gaya anak muda Tionghoa awal 90-an yang sering terlihat di jalan-jalan Jakarta Timur.
“Kamu masih muda,” katanya sambil memerhatikan Fatimah yang sedang menyusun mi instan. “Daripada cuma jaga toko, lebih baik kerja di tempat saya. Di pabrik garmen belakang pasar.”
Fatimah berhenti sejenak, menoleh ragu. “Pabrik garmen yang dekat kali kecil itu, Koh?”
Mieng mengangguk. “Iya. Itu usaha keluarga juga. Lumayan lah, gajinya lebih besar dari jaga kelontong.”
Fatimah menimbang-nimbang. “Terus syaratnya apa aja, Koh?”
“Fotokopi KK sama ijazah terakhir.”
Fatimah mengusap tangannya yang berdebu tepung terigu. “Ijazah saya cuma SD… nggak apa?”
“Bisa,” jawab Mieng tanpa ragu. “Yang penting kamu rajin. Di garmen itu yang penting tangan gesit, bukan lulusan apa.”
Sejak hari pertama Fatimah bekerja di toko ini, Mieng memang lebih sering datang. Biasanya kursi kasir itu ditempati Koh Tiong, ayahnya, tapi belakangan Mieng sering sekali duduk di situ sore-sore, pura-pura mengecek stok atau mencatat barang masuk. Kadang dia datang sambil membawa bakpao, bilang, “Timah, kamu udah makan? Ini saya bawakan, masih hangat.” Kadang dia menawarkan hal-hal kecil. “Nanti kalau sudah kerja di garmen, saya ajari cara pakai mesin obras. Gampang kok.” Kadang dia berbasa-basi, mencoba mengenal Fatimah lebih jauh. “Kamu dari Jawa Tengah, ya? Logatmu halus.”
Fatimah biasanya hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Ia tahu jarak mereka. Ia cuma gadis kampung, baru 16 tahun, lulusan SD, dan datang merantau hanya karena di rumah tidak ada pekerjaan lain selain membantu ibunya di dapur.
Tapi perhatian kecil itu membuat hari-harinya di Jakarta terasa tidak sekeras yang ia bayangkan. Setiap kali Mieng menjelaskan tentang garmen, Fatimah membayangkan ruangan panas dengan deretan mesin obras tua yang berderum tanpa henti, pekerja perempuan duduk berjejer sambil menginjak pedal, kain-kain kaos menumpuk, gunting beradu, dan radio butut memutar lagu Nike Ardilla atau Deddy Dores. Sebuah dunia yang berisik, tetapi penuh ritme, penuh harapan bagi gadis seusianya.