Jakarta, 1992
Hujan turun deras saat mereka keluar dari pabrik. Aspal mengilap, lampu-lampu kios memantul di genangan. Fatimah dan Mieng berjalan berdampingan tanpa payung, langkah mereka mempercepat sampai akhirnya berteduh di sebuah kedai mi di tepi jalan. Kedai kecil itu setengah tertutup terpal biru, bangku kayunya basah di beberapa bagian, uap kuah mi mengepul tebal bercampur bau bawang goreng.
Mereka memesan masing-masing satu porsi. Fatimah meniup-miup kuah panas, sementara Mieng makan pelan, lebih banyak diam. Hujan di luar mereda menjadi gerimis, lalu turun lagi seperti ragu mengambil keputusan.
Saat mereka selesai dan berdiri di depan kedai, langit masih kelabu. Air menetes dari ujung terpal, satu-satu, teratur. Jalanan belum ramai kembali.
“Lagi pusing nih,” kata Mieng tiba-tiba.
“Kenapa, Koh?” tanya Fatimah, menautkan kedua tangannya di depan perut.
“Sepupu ngerecokin mulu. Katanya umur dua puluh enam buruan nikah. Katanya kalau udah tiga puluh, entar susah nyarinya.”
Fatimah tersenyum kecil. “Ya nikah aja, Koh. Banyak yang mau kayaknya.”
Kata-kata itu jatuh begitu saja, ringan, tanpa maksud apa-apa. Tapi setelahnya, hening datang. Gerimis kembali turun, lebih rapat dari sebelumnya.
Mieng tidak langsung menjawab. Ia memandangi jalan, lalu beralih ke Fatimah. “Kalau kamu mau?” tanyanya, tiba-tiba.
Pertanyaan itu meluncur pelan, hampir seperti gumaman, tapi cukup jelas untuk membuat Fatimah tersentak. Dadanya berdebar keras. Ia merasa udara mendadak sempit, seperti atap seng pabrik saat siang bolong.
“Ma—maksud Koh?” suaranya nyaris tidak keluar.
“Maksud saya…” Mieng berhenti sejenak, menarik napas. “Kalau suatu hari saya nikah. Kamu… mau nggak?”
Fatimah menunduk. Tangannya dingin, ujung-ujung jarinya gemetar.
“Koh,” katanya akhirnya, lirih, “saya ini cuma buruh. Masih bocah.”
Mieng tersenyum tipis, tapi matanya tetap serius. “Saya nggak nanya soal itu.”
Hujan semakin rapat, menutup suara-suara lain.
“Saya nggak tahu,” katanya akhirnya. “Saya belum pernah mikir sejauh itu.”
“Itu jawaban yang jujur,” ujar Mieng pelan.
Mereka berdiri berdampingan tanpa saling menyentuh. Jarak di antara mereka tipis, tapi terasa berat. Hujan turun terus, seolah memberi waktu lebih lama dari yang mereka butuhkan.
“Sudah, nanti kamu kehujanan,” kata Mieng akhirnya. “Saya antar sampai gang.”
Fatimah mengangguk. Di sepanjang jalan pulang, tidak ada lagi percakapan. Hanya suara langkah dan hujan yang menyertai. Tapi di dalam dada Fatimah, sesuatu telah bergeser. Pertanyaan itu tinggal. Tidak hilang. Tidak bisa dihapus begitu saja.