Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #7

Bab 7

Jakarta, 2023


Sudah dua hari Reymon tidak melihat batang hidung tetangganya, Juleha. Pintu kontrakan sebelah selalu tertutup rapat. Tidak ada suara langkah, tidak ada aroma masakan, tidak ada lagi pertengkaran yang biasanya memecah udara tiap malam. Bahkan suara Adam—yang dulu terdengar seperti bagian dari kebisingan harian—lenyap begitu saja.

Keheningan itu justru membuat Reymon gelisah. Pada hari ketiga, kegelisahan itu tidak lagi bisa ia abaikan. Sepulang kerja, ia berdiri lama di depan kontrakan Juleha. Ia menempelkan telinga ke pintu, berharap mendengar sesuatu—batuk kecil, gesekan kursi, apa pun. Tapi yang ia dapatkan hanya sunyi.

“Juleha?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Dengan tangan bergetar, Reymon mengetuk pintu. Sekali. Dua kali. Lebih keras. Tetap tidak ada sahutan. Hatinya semakin tidak enak. Ia mendorong gagang pintu itu. Rupanya tidak terkunci.

Bau pengap menyergap hidungnya saat pintu terbuka. Ruangan itu gelap, tirainya tertutup. Dan di lantai ruang tengah, Juleha tergeletak. Tubuhnya lemas, wajahnya pucat, matanya terpejam. Ada bekas darah kering di sudut bibirnya.

“Ya Tuhan…” Reymon berlutut, panik. Ia menyentuh bahu Juleha yang terasa dingin.

Tanpa berpikir panjang, Reymon menggendong tubuh itu keluar kontrakan. Tangannya gemetar, napasnya terengah. Ia tidak peduli tatapan orang-orang sekitar, tidak peduli rasa takut yang mulai berubah menjadi amarah dan rasa bersalah.

Di dalam taksi menuju rumah sakit, Juleha hanya mengerang pelan. Reymon memegang tangannya erat, seperti takut perempuan itu menghilang di hadapannya.

“Bertahan, Mbak… bentar lagi,” gumamnya berulang-ulang.

IGD rumah sakit dipenuhi cahaya putih dan bau antiseptik. Perawat segera membawa Juleha masuk. Reymon tertinggal di luar, duduk di kursi dingin, menatap lantai dengan kepala tertunduk. Ia baru sadar betapa sepinya seseorang bisa sampai harus memakan apa saja yang ada, meski sudah tidak layak konsumsi.

Lihat selengkapnya