Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #8

Bab 8

Wonosobo, 1993

Kabut pagi masih menggantung rendah di Desa Langseng. Udara dari perbukitan turun membawa dingin yang lembut, menempel pada daun-daun tembakau di kebun sekitar rumah. Jalan tanah di depan rumah Karim tampak lembap oleh embun.

Sejak subuh rumah itu sudah lebih sibuk dari biasanya. Di dapur, Rami menata piring kecil berisi jadah, pisang goreng, dan kacang rebus. Sarinah membantu menyeduh teh panas di teko aluminium yang tutupnya sudah sedikit penyok. Sesekali terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas.

“Timah… kebayamu sudah dipakai?” tanya Rami dari dapur.

“Sudah, Bu,” jawab Fatimah dari kamar.

Ia duduk di tepi dipan kayu mengenakan kebaya cokelat muda yang dipinjam dari Sarinah. Rambutnya disanggul sederhana. Tangannya terasa dingin sejak pagi.

Hari itu bukan hari biasa. Hari itu keluarga Mieng datang dari Jakarta untuk melamar.

Di ruang depan, Karim duduk bersila di atas tikar pandan. Sarungnya dilipat rapi. Sebatang rokok kretek berada di antara jari-jarinya, tapi belum juga ia nyalakan. Sejak tadi ia hanya memain-mainkan ujungnya.

Ratno berdiri di dekat pintu rumah, bersandar pada kusen kayu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memperhatikan jalan desa yang memanjang di depan rumah.

Tetangga mulai lalu-lalang di sana. Ada yang berhenti di warung, ada yang berjalan pelan sambil menoleh sekilas ke halaman rumah Karim. Kedatangan tamu dari Jakarta selalu menjadi peristiwa kecil di desa seperti Langseng.

Sekitar pukul sembilan pagi, suara mesin mobil terdengar dari kejauhan. Sebuah Toyota Corolla warna krem muncul dari tikungan jalan desa dan melaju pelan di atas jalan tanah yang sempit. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Karim.

Beberapa anak kecil yang bermain di tepi jalan langsung mendekat dengan rasa ingin tahu.

Pintu mobil terbuka. Mieng turun lebih dulu. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana bahan hitam. Wajahnya tampak tenang, meski sorot matanya menyimpan kegugupan kecil. Dari kursi depan turun seorang lelaki paruh baya berkacamata—Koh Tiong. Di belakangnya seorang perempuan turun sambil membawa tas kecil. Mereka melangkah ke halaman rumah.

Ratno mempersilakan mereka masuk dengan anggukan singkat. Alas kaki masingmasing dilepas di depan pintu. Mereka kemudian masuk ke ruang tamu yang sederhana, tempat tikar pandan sudah digelar sejak pagi.

Karim menyambut mereka dengan anggukan hormat. “Selamat datang.”

“Selamat pagi, Pak Karim,” jawab Koh Tiong.

Rami datang membawa nampan teh. “Silakan diminum dulu,” ujarnya.

Beberapa saat ruangan itu dipenuhi kesunyian yang canggung. Hanya terdengar bunyi sendok kecil yang menyentuh gelas. Hingga Koh Tiong akhirnya membuka percakapan. “Sebenarnya saya sudah cukup mengenal Fatimah,” katanya pelan.

Karim menoleh sedikit.

Lihat selengkapnya