Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #9

Bab 9

Jakarta, 2024

Juleha akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sebuah gudang logistik di kawasan pinggiran Jakarta Timur menerima dirinya sebagai staf administrasi. Pekerjaannya sederhana, mencatat barang masuk dan keluar, memeriksa dokumen pengiriman, memastikan angka-angka di lembar stok tidak meleset. Bukan pekerjaan yang pernah ia bayangkan dulu, tetapi cukup untuk membuat hidupnya kembali berjalan.

Setelah berminggu-minggu hidup dalam rutinitas yang tak pasti, kabar itu datang seperti pintu yang akhirnya terbuka dari ruang sempit yang terlalu lama menahannya.

Hari-hari Juleha pun berubah pelan-pelan. Setiap pagi ia berangkat lebih awal, menyusuri gang sempit dengan langkah yang masih sedikit kaku, seolah tubuhnya belum sepenuhnya terbiasa dengan hidup yang kembali memiliki arah. Di jalan besar, suara kendaraan bercampur dengan teriakan pedagang sarapan. Kota bergerak dengan ritme yang sama seperti biasa, sementara bagi Juleha semuanya terasa sedikit berbeda.

Gudang tempatnya bekerja selalu riuh. Suara forklift, gesekan kardus, dan panggilan antar pekerja menjadi latar belakang harian yang tak pernah benar-benar sunyi. Di meja kecil dekat pintu masuk gudang, Juleha menghabiskan sebagian besar waktunya menyalin angka, memeriksa daftar barang, dan memastikan setiap catatan tidak keliru.

Pekerjaan itu melelahkan, tetapi juga menenangkan dengan cara yang aneh. Setidaknya kini ia tahu bagaimana hari akan dimulai dan ke mana langkahnya akan pergi.

Beberapa minggu setelah mulai bekerja, Juleha menyadari sesuatu yang dulu terasa mustahil, ia kembali memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Uang yang ia terima setiap bulan ia bagi dengan hati-hati, untuk makan, untuk mencicil hutang yang ditinggalkan Adam, dan sedikit disisihkan di amplop kecil yang ia simpan di laci.

Jumlahnya belum banyak. Tapi setiap lembar terasa seperti bukti bahwa ia perlahan keluar dari masa yang paling berat dalam hidupnya.


***


Setiap kali Lebaran mulai mendekat, ada perasaan yang selalu datang lebih dulu kepada Reymon. Perasaan itu sulit disebut rindu. Lebih mirip kewaspadaan, seperti seseorang yang sudah tahu persis suasana apa yang akan ia temui.

Bagi banyak orang, pulang kampung berarti kembali ke rumah yang hangat: meja makan penuh makanan, halaman dipenuhi sanak saudara, dan suara tawa yang saling menyahut dari ruang ke ruang. Namun bagi Reymon, keramaian seperti itu sering terasa melelahkan bahkan sebelum benar-benar ia jalani.

Ia tidak terlalu pandai berada di tengah banyak orang. Padahal sebagian kenangan masa kecilnya memang berakar dari rumah bibinya di Langseng. Tapi kenangan itu hanya potongan kecil, masa yang singkat sebelum hidup membawanya ke tempat lain. Reymon hanya sempat tinggal di sana sampai kelas satu SD. Setelah itu orang tuanya merantau ke Kalimantan Timur, dan sebagian besar masa tumbuhnya berlalu jauh dari kampung tersebut.

Karena itulah setiap kali pulang, ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Ia masih mengenali halaman rumah bibinya, jalanan kecil yang menuju persawahan di kampung itu, dan udara desa yang terasa berbeda dari kota. Ia juga ingat samar-samar sore-sore ketika mereka bermain sampai matahari tenggelam, menerbangkan layang-layang di lapangan dusun, atau berlarian di tanah yang basah setelah hujan. Namun kenangan itu terasa seperti potongan film lama yang hanya muncul sesekali.

Dengan sepupu-sepupunya, Reymon tidak pernah merasa canggung. Mereka tetap menyambutnya seperti biasa, seolah waktu tidak pernah benar-benar memisahkan mereka. Obrolan mereka masih bisa mengalir dengan mudah, kadang penuh tawa, kadang sekadar cerita ringan tentang hal-hal yang terjadi selama setahun terakhir.

Lihat selengkapnya