Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #10

Bab 10

Wonosobo, 1993

Kamar kecil di belakang rumah Karim masih menyimpan aroma bunga melati. Tadi sore beberapa tetangga menaburkannya di atas ranjang pengantin, dan wanginya kini bercampur dengan udara malam yang dingin dari pegunungan.

Fatimah duduk di tepi ranjang. Sanggulnya sudah dilepas, rambutnya jatuh agak berantakan di bahu. Kebaya pengantin masih ia kenakan, meski dua kancing bagian atas sudah dibuka agar tubuhnya lebih lega setelah seharian menerima tamu.

Dari halaman depan masih terdengar suara orang bercakap pelan. Kursi-kursi sedang dirapikan, piring-piring dikumpulkan, dan sesekali tawa kecil pecah di antara suara malam desa yang mulai sepi.

Ketukan pelan terdengar di pintu. Fatimah menoleh sekilas. “Masuk saja,” ucapnya sambil tersenyum.

Pintu terbuka perlahan. Mieng muncul di ambang pintu dengan sarung pinjaman Karim dan kemeja putih yang tampak sedikit kebesaran di badannya. Ia menutup pintu dengan hati-hati, lalu berdiri beberapa detik tanpa bergerak, seperti orang yang masih memastikan dirinya tidak salah tempat.

Fatimah memperhatikannya dan tersenyum tipis. “Kenapa berdiri di situ?”

Mieng menggaruk tengkuknya. Matanya sempat menyapu isi kamar sebelum kembali ke arah Fatimah.

“Saya cuma memastikan… ini kamar yang benar.”

“Kalau salah?”

“Ya saya keluar lagi.”

Fatimah tertawa kecil. “Sudah sah kok,” katanya ringan. “Tidak bisa dikembalikan.”

Baru setelah itu Mieng melangkah masuk. Ia duduk di kursi kayu di dekat ranjang, sementara kamar kembali tenggelam dalam keheningan pendek yang terasa agak canggung.

Sepanjang hari mereka hampir tidak pernah benar-benar sendirian. Sejak pagi rumah Karim dipenuhi orang—tetangga, kerabat jauh, doa-doa, ucapan selamat, dan hidangan yang datang bergantian. Kini semua itu perlahan mereda, menyisakan dua orang di ruangan kecil dengan lampu minyak yang menyala redup.

Fatimah memainkan ujung kebayanya. “Di kampung saya,” katanya pelan, “biasanya setelah pesta begini pengantin langsung disuruh tidur.”

Mieng mengangguk. “Di keluarga saya juga begitu,” balasnya.

Fatimah melirik sedikit. “Bedanya?”

Mieng tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. “Bedanya semua orang tahu kenapa pengantin disuruh cepat tidur.”

Fatimah menahan tawa. “Kamu bicara terus terang sekali.”

Mieng mengangkat bahu, seolah tidak melihat alasan untuk menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya sudah dipahami semua orang.

Fatimah menatapnya beberapa detik. “Kamu tidak gugup?”

“Sedikit,” jawab Mieng.

Lihat selengkapnya