Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #11

Bab 11

Jakarta, 1998

Mieng sedang dalam perjalanan pulang ketika kerusuhan mulai menjalar ke jalan-jalan yang biasanya dilalui kendaraan kota. Ia berdiri di tepi trotoar, bersama beberapa orang lain yang menunggu angkutan yang tidak juga datang. Di sepanjang jalan, satu per satu toko menutup pintu besinya dengan tergesa. Suara logam yang ditarik turun terdengar keras, seperti bunyi benda berat yang jatuh ke lantai.

Beberapa orang di halte mulai saling bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ada yang mengatakan kerusuhan sudah mulai sejak pagi. Ada yang bilang massa telah bergerak dari beberapa arah menuju pusat kota. Tak ada yang benar-benar tahu dari mana semua itu bermula, tetapi berita bergerak lebih cepat daripada kendaraan di jalan itu.

Tidak lama kemudian suara riuh mulai terdengar dari ujung jalan. Pada awalnya hanya seperti keributan biasa, teriakan yang bercampur dengan bunyi benda dipukul. Tetapi keributan itu semakin mendekat, dan tak lama kemudian terlihat sekelompok orang bergerak dalam jumlah besar. Beberapa di antara mereka membawa kayu. Yang lain hanya berlari sambil berteriak.

Seseorang melempar batu ke arah etalase toko di seberang jalan. Kaca pecah dengan suara yang nyaring.

Orang-orang yang tadi menunggu di halte segera berpencar. Sebagian berjalan cepat menuju gang sempit di antara bangunan. Sebagian lain berlari menyeberang jalan tanpa memperhatikan kendaraan.

Mieng ikut bergerak menjauh dari jalan utama. Namun sebelum ia sempat mencapai gang yang dituju, beberapa orang dari kerumunan itu sudah berada cukup dekat untuk melihat wajahnya dengan jelas.

Di tengah keributan itu seseorang tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arahnya. “Eh!”

Beberapa kepala menoleh. Lalu terdengar teriakan yang lebih keras, memotong suara kaca yang pecah dan pintu toko yang didobrak.

“Ada Cina di sini!” Teriakan itu seperti isyarat yang segera dipahami oleh orang-orang lain.

Beberapa orang mendekat.

“Mana?”

“Itu!”

Mereka menunjuk ke arah Mieng. Wajahnya memang mudah dikenali di tengah kerumunan itu. Kulitnya lebih pucat, matanya sipit, garis wajah yang bagi sebagian orang cukup untuk memberi satu penilaian sederhana tentang siapa dirinya.

Lihat selengkapnya