Jakarta, 1998
Surat itu datang ketika Jakarta masih berbau asap. Amplopnya tipis, kertasnya kusut seperti telah melewati terlalu banyak tangan. Nama Fatimah ditulis dengan huruf yang dikenalnya sejak kecil—tegak, sedikit miring, dan selalu terlihat terburu-buru. Tulisan Ratno.
Ia membukanya di ruang tamu yang lampunya redup karena listrik sering padam beberapa hari terakhir.
“Fatimah,
Kami sudah dengar dari orang pasar dan berita di koran tentang kerusuhan di Jakarta. Jangan tunggu apa-apa lagi. Kalau masih selamat, pulanglah. Jangan ikut keluarga suamimu ke mana pun. Kampung masih punya tempat untukmu dan anakmu. Keselamatan lebih penting dari harta. — Bapak dan Ibu.”
Beberapa jam sebelumnya, Koh Tiong baru saja mengatakan bahwa mereka akan berangkat ke Hong Kong dalam waktu dekat. Tiket sedang diurus. Beberapa aset sudah dilepas. Mereka mengajak Fatimah ikut, setidaknya sampai keadaan di Indonesia benar-benar aman.
Fatimah duduk lama dengan surat itu di tangannya. Kertas tipis yang sudah sedikit kusut itu terasa berat, seolah seluruh masa depannya diam di sana menunggu diputuskan.
Di satu sisi, ada kemungkinan hidup baru di negeri asing bersama kedua mertuanya. Selama ini Koh Tiong tidak pernah berlaku buruk kepadanya. Lelaki itu justru sering bersikap hangat kepadanya, lebih banyak membantu lagi ketika Fatimah sudah jadi menantu daripada ketika dulu sebagai karyawannya. Dalam keadaan genting seperti sekarang, ajakan untuk ikut ke Hong Kong terasa seperti pintu keselamatan yang dibukakan dengan tulus.
Namun Mieng tidak ada di sana. Ketidakhadiran suaminya membuat semua terasa berbeda. Tanpa dirinya, rumah keluarga itu mendadak kehilangan kehangatan yang selama ini menjadi satu-satunya alasan Fatimah merasa memiliki tempat. Di hadapan Koh Tiong, ia mulai merasakan jarak yang aneh, bukan karena lelaki itu berubah, melainkan karena jembatan yang menghubungkan mereka telah hilang. Ia takut menjadi orang asing di tengah keluarga yang sebenarnya baik kepadanya. Di sisi lain ada kampung halaman yang menunggu kabarnya, Karim dan Rami yang menunggunya, meski Fatimah sendiri belum tahu akan seperti apa nasibnya jika ia memutuskan pulang. Keputusan akhirnya terasa seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pilih.
Beberapa hari kemudian, keluarga Koh Tiong benar-benar pergi. Keputusan itu terjadi cepat, hampir tanpa upacara perpisahan yang layak dikenang. Pintu rumah yang selama ini terasa sementara kini tertutup untuk selamanya.
Fatimah pulang ke Langseng bersama anaknya, membawa sebuah tas kain berisi pakaian seperlunya dan sisa uang yang tidak terlalu banyak. Jumlahnya mungkin cukup untuk bertahan beberapa bulan jika ia hidup hemat, jika ia menunda keinginan untuk mencari penghidupan baru, dan jika tak ada kebutuhan tak terduga yang datang lebih dulu. Di sepanjang perjalanan pulang, ia mulai memahami bahwa sejak hari itu, hidupnya tidak lagi ditopang oleh kepastian apa pun selain kemampuannya sendiri untuk bertahan.
Wonosobo, 1998