Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #13

Bab 13

Wonosobo 2024

Reymon duduk lebih tegak. Ada keputusan yang tampak sudah ia buat jauh sebelum sampai di rumah itu. “Juleha tinggal di sini ya, sampai arus balik nanti,” katanya. Lalu, seolah ingin segera menuntaskan kalimatnya sebelum keberanian itu surut, ia menambahkan, “Dia… calon istri saya, Bu.”

Ucapan terdengar datar, tetapi meninggalkan gema panjang.

Fatimah berkedip. Raut wajahnya menampung rasa senang yang datang mendadak, bercampur keanehan yang tak sempat ia sembunyikan. Pandangannya beralih pada Juleha, menelusuri sikap yang terlalu rapi, cara duduk yang berhati-hati, senyum yang seperti disimpan di balik bibir.

“Oh… begitu.”

Juleha menunduk. Senyum kecil tertahan, tipis dan cepat menghilang. Pernyataan Reymon terasa seperti pintu yang dibukakan untuknya. Meski ia tahu, di balik pintu itu belum tentu ada ruang yang benar-benar ia miliki.

“Kalau tidak merepotkan, saya tinggal beberapa hari saja, Bu,” ujarnya pelan.

“Tidak,” jawab Fatimah. “Rumah ini justru terlalu lama sepi.”

Ia berhenti sebentar, menimbang banyak hal dalam diam. Anak laki-lakinya pulang dengan seorang perempuan yang disebut calon. Kata itu membawa harapan, sekaligus pertanyaan yang belum siap diucapkan.

Di ruang tamu yang mulai redup, Reymon menautkan jemarinya sendiri. Ia jarang menatap Juleha, namun kehadiran perempuan itu seperti sesuatu yang sengaja ia jaga tetap dekat. Sementara Juleha sesekali meliriknya diam-diam, memastikan perannya di rumah ini tidak sekadar sandiwara yang mudah terbaca.

Selang beberapa waktu kemudian, Reymon mengajak Juleha singgah ke rumah Bibi Sarmi. Malam menjelang Lebaran selalu membuat rumah itu terasa lebih padat dari biasanya. Tikar digelar menutup hampir seluruh lantai, toples kue dibiarkan terbuka, dan udara dipenuhi campuran wangi teh panas serta asap petasan dari halaman. Beberapa sepupu kecil sempat berlarian di depan pintu, lalu menjauh ketika melihat Reymon datang tidak sendirian.

Lihat selengkapnya