Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #14

Bab 14

Wonosobo, 1999

Air sungai mengalir pelan di antara batu-batu licin, membentuk riak kecil yang membawa busa sabun hingga pecah lalu lenyap tanpa sisa. Di tepinya, rumpun bambu tumbuh rapat, batang-batangnya menjulang tinggi dan saling beradu pelan setiap kali angin turun dari arah perbukitan. Daun-daunnya berdesir halus, seolah menjadi suara latar yang menyatu dengan gemericik air. Di sepanjang bantaran, beberapa perempuan duduk berderet, tangan mereka tak pernah benar-benar berhenti, mengucek, membilas, memeras, seperti gerakan itu sudah menjadi bagian dari tubuh mereka sejak lama.

Pagi masih dingin. Embun belum sepenuhnya menguap dari daun-daun. Cahaya matahari datang tipis, tersaring di sela batang bambu, jatuh pecah di permukaan air.

Fatimah duduk agak menjauh dari yang lain. Di sampingnya hanya ada tumpukan pakaian yang tidak terlalu banyak. Tangannya bergerak pelan, kadang terhenti tanpa sebab yang jelas, membiarkan kain terendam lebih lama sebelum kembali dikucek. Wajahnya menunduk, rambutnya diikat seadanya. Dari kejauhan, ia tampak seperti bagian dari pagi itu sendiri, diam dan tampak menyatu dengan sekelilingnya.

Di jalan tanah tak jauh dari sungai, seorang laki-laki berjalan santai dengan kamera tergantung di lehernya. Ia berhenti sejenak ketika melihat aliran air, mengangkat kameranya, lalu menekan tombol tanpa banyak pertimbangan.

Klik.

Sosok perempuan yang duduk sendiri itu tertangkap dalam bingkai. Ia menurunkan kameranya, menatap lebih lama, seperti sedang memastikan sesuatu yang sempat ia ragukan.

Langkahnya kemudian mengarah ke tepian sungai. “Timah,” sahutnya.

Suara itu cukup keras untuk menembus suara air. Fatimah berhenti mengucek. Tangannya diam di dalam air sebelum ia menoleh perlahan. Matanya menyipit sebentar, mencoba mengenali wajah di hadapannya.

“Iman.”

Laki-laki itu mengangguk, senyum kecil muncul lalu menghilang begitu saja. “Lama banget nggak ketemu, apa kabar? Pangling deh.”

Fatimah menatap sebentar, lalu kembali ke cucian di tangannya. “Baik. Kamu?”

“Baik juga.”

Lihat selengkapnya