Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #15

Bab 15

Bogor, 1999

Maya adalah perempuan yang datang dengan luka yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya. Usianya tiga tahun lebih tua dari Iman, seorang janda dengan satu anak yang masih kecil. Hubungan mereka bermula diam-diam, jauh sebelum status janda itu melekat pada Maya. Pada masa itu, segala sesuatu berlangsung di balik tirai yang tidak pernah benar-benar tertutup rapat, tetapi cukup untuk membuatnya tidak terlihat oleh orang lain. Iman datang seperti seseorang yang tidak tahu bagaimana cara menolak, sementara Maya menerima dengan ketenangan yang nyaris seperti kebiasaan.

Kini, setelah setahun berlalu sejak perpisahan Maya dengan suaminya, hubungan itu tidak lagi memiliki batas yang sama, tetapi juga tidak pernah benar-benar berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia tetap berjalan di jalur yang sunyi, tanpa status yang jelas, tanpa pengakuan apapun.

Meskipun Iman tampak lebih santun dan dewasa dibandingkan masa kecilnya dahulu, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak ikut tumbuh bersama waktu. Ia kelewat polos, hampir seperti seseorang yang tidak pernah belajar dari apa yang ia jalani sendiri. Seorang mandor di pabrik sepatu, dengan penghasilan yang cukup, tetapi hati yang terlalu mudah percaya pada kata-kata yang diucapkan dengan lembut.

Di hadapan Maya, sifat itu menjadi sesuatu yang tak tersembunyikan. Perempuan itu memahami benar bagaimana cara membaca celah kecil dalam diri seorang Iman, dan dari sanalah ia mengambil tempat. Ia tidak pernah meminta secara terang-terangan, tetapi selalu tahu kapan harus diam, kapan harus mendekat, dan kapan membiarkan Iman merasa bahwa segala yang ia berikan datang dari keinginannya sendiri.

Uang mengalir dengan cara yang hampir tidak terasa. Dari kebutuhan kecil hingga hal-hal yang tidak pernah benar-benar perlu, semuanya seolah menjadi bagian dari hubungan yang tidak pernah mereka jelaskan. Iman tidak menghitung, dan Maya tidak pernah mengingatkan. Dalam diam, semuanya berjalan seperti sesuatu yang telah disepakati tanpa kata.

Di sela kehidupan itu, ada satu hal yang hampir menjadi rutinitas. Sekali dalam sebulan, Iman datang ke rumah Maya dengan perasaan yang tidak pernah sepenuhnya tenang. Di dalam ruang yang tertutup, ia melihat tubuh perempuan itu tanpa sehelai kain, tubuh yang masih terjaga keindahannya meski telah melewati banyak hal. Dari sana, hubungan mereka bergerak lebih jauh, melampaui batas yang sejak awal memang sudah mereka langgar, bahkan ketika Maya masih menjadi istri orang lain.

Tak ada janji yang diucapkan pada saat-saat seperti itu, tetapi justru di sanalah Iman merasa paling terikat. Sesuatu yang tidak bisa ia bawa keluar dari ruangan itu, tetapi selalu kembali menuntunnya untuk datang lagi, bulan berikutnya, lagi dan lagi dengan cara yang sama.

Dan di antara semua itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Iman tidak pernah menceritakan hubungan ini kepada siapa pun, terutama kepada orang tuanya. Bukan karena ia tidak ingin, melainkan karena ia tahu bahwa apa yang ia jalani tidak akan pernah menemukan tempat di hadapan mereka. Bahkan kini, ketika rencana perjodohan mulai dibicarakan di Langseng, ia tetap menyimpan semuanya rapat-rapat, seolah dua kehidupan itu bisa berjalan berdampingan tanpa saling menyentuh.

Dua minggu berada di Langseng, jatah liburnya telah selesai. Iman kembali ke Bogor dengan pekerjaannya. Dan malamnya langsung disambut oleh Maya dengan tubuh indahnya yang tak berkain itu. Lama mereka berpuas diri dengan hawa nafsunya sampai tuntas.

Ketika semuanya mereda, barulah tubuh mereka kembali pada diam. Maya meraih jariknya tanpa tergesa, melilitkannya di pinggang dengan gerakan yang santai, seolah tubuhnya masih belum sepenuhnya kembali dari hangat yang baru saja lewat. Kulitnya masih menyisakan jejak keringat tipis, napasnya belum sepenuhnya rata. Ia bersandar di kepala ranjang, membiarkan satu bahunya terbuka begitu saja, tanpa usaha menutupinya.

“Kalau hujan, tambah enak nih,” gumamnya, setengah malas.

Lihat selengkapnya