Jakarta, 2024
Adam berdiri di sana, menyandar pada tembok yang catnya mulai mengelupas. Kausnya kusut, menempel pada tubuh yang tampak menyusut, seolah hari-harinya habis digerus sesuatu yang tak pernah selesai. Di pelipisnya ada luka tipis, belum benar-benar kering.
Juleha tidak bergerak. Tubuhnya menegang, sementara kunci di tangannya bergetar halus.
“Masih inget aku, kan?” Adam menyeringai, ringan, seolah waktu tidak pernah memisahkan apa-apa.
Juleha menatap cukup lama, memastikan ini bukan bayangan yang tersisa dari hari-hari buruk yang pernah ia lewati.
“Ngapain ke sini?” suaranya rendah, tertahan.
Adam menjauh dari tembok, melangkah mendekat dengan gerak yang santai. “Ngobrol bentar aja. Masa sama suami sendiri dingin begitu.”
Juleha menahan napas. Kata itu seperti sesuatu yang pernah ia kubur dalam-dalam, lalu tiba-tiba digali kembali tanpa izin.
“Aku capek,” ujarnya pendek. “Mau istirahat.”
“Sebentar aja,” potong Adam, menekan. “Aku lagi butuh bantuan.”
Juleha tidak menjawab. Ia membuka pintu, masuk, lalu berhenti di dalam, tidak mengundang, tidak pula menghalangi. Adam tetap melangkah masuk, seperti dulu, tanpa perlu dipersilakan.