Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #17

Bab 17

Bogor - Wonosobo, 2001


Iman tetap bekerja di Bogor setelah menikah dengan Fatimah. Ia pulang ke Langseng dua kali dalam setahun, biasanya saat Lebaran dan menjelang akhir tahun. Di luar itu, Fatimah hanya mengenalnya lewat wesel pos yang datang setiap bulan dan suara singkat dari telepon wartel yang kadang terdengar jauh dan tergesa.

Beberapa bulan setelah menikah, Fatimah melahirkan seorang anak laki-laki. Mereka menamainya Reynal. Di rumah itu kini ada dua anak yang harus dibesarkan, Reymon dan Reynal. Kebutuhan semakin banyak, sementara uang kiriman dari Bogor sering kali tidak cukup.

Fatimah mula-mula mengira penghasilan Iman memang kecil. Ia bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu, dan hidup di kota tentu memerlukan biaya. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa ada yang janggal. Setiap kali Iman pulang, ia selalu membawa pakaian baru, rokok yang lebih mahal, dan kadang jam tangan atau sepatu yang tidak mungkin dibeli jika hidupnya sesulit yang ia ceritakan.

Yang tidak Fatimah ketahui, sejak awal Iman tidak pernah benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Maya. Ia masih datang ke rumah Maya di Bogor, masih tidur di ranjang yang sama, masih menghabiskan malam-malam tertentu di sana. Maya menerima Iman seperti dulu, tanpa banyak bertanya soal Fatimah atau anak-anaknya di Langseng. Hubungan mereka berjalan begitu saja, seperti sesuatu yang sulit dihentikan.

Sebagian uang gaji Iman habis untuk Maya. Untuk makan bersama, untuk membayar kontrakan, bedak, atau sesekali gelang yang diminta Maya. Kadang ia juga memberi uang tunai jika Maya mengeluh sedang kekurangan. Akibatnya, uang yang dikirim ke Langseng semakin sedikit.

Fatimah harus mengirit beras, menunda membeli baju untuk anak-anak, bahkan beberapa kali berutang ke warung. Reymon mulai jarang membawa uang jajan ke sekolah. Reynal yang masih kecil sering hanya diberi nasi dengan kuah sayur bening karena lauk tidak selalu ada. Namun setiap kali Fatimah menyinggung soal uang, Iman selalu punya jawaban. “Hidup di Bogor mahal”, “Kerjaan lagi sepi”,“Bulan depan aku kirim lebih”.

Fatimah tidak punya cukup alasan untuk membantah. Ia hanya diam, lalu kembali menghitung sisa uang di tangannya.

Sementara itu, di Bogor, Iman tetap mendatangi Maya sebulan sekali, seperti janji yang pernah ia ucapkan dulu. Dan setiap kali berada di sana, ia bertingkah seolah tidak pernah meninggalkan apa pun di Langseng.

Fatimah menahan suatu keresahan yang cukup lama, menyimpannya sendiri tanpa banyak bicara, sebab ia merasa tidak pantas mengeluhkan sesuatu yang seharusnya bisa ia terima dengan sabar. Namun ada batas yang tidak bisa dilewati begitu saja.

Suatu sore, ketika dapur hanya menyisakan beras untuk dua hari ke depan dan Reymon mulai bertanya kenapa ia tidak lagi membawa uang jajan, Fatimah akhirnya mendatangi rumah mertuanya. Ia berjalan pelan melewati halaman rumahnya, dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Sipur sedang duduk di kursi kayu di teras, memandang jalan desa yang lengang. Ia menoleh ketika melihat Fatimah datang, lalu mempersilahkannya duduk tanpa banyak tanya. Wajah perempuan itu sudah cukup menjelaskan bahwa ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Lihat selengkapnya