Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #18

Bab 18

Wonosobo, 2001


Iman menatap perempuan itu dengan pandangan yang belum sepenuhnya pulih dari kaget yang datang tiba-tiba. Tangannya masih menggantung di samping tubuh, benang yang tadi hendak dimasukkan ke lubang jarum dibiarkan begitu saja, seperti sesuatu yang mendadak kehilangan arti. Di hadapannya, wajah yang selama ini hanya hidup dalam ingatan kini berdiri dengan jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan.

“Kamu? Ngapain ke sini?” suaranya tertahan, hampir seperti berbisik.

Maya tidak langsung menjawab. Ia memandang lebih dulu, lama, seakan ingin memastikan bahwa laki-laki di depannya benar orang yang sama. Sorot matanya tenang.

“Hubungan kita belum selesai. Kamu ninggalin aku tanpa sepatah katapun.”

Iman menghela napas pendek. Kepalanya menggeleng pelan, seperti menolak sesuatu yang mulai merayap kembali. “Harusnya kamu tahu, aku udah udah beristri,” ujarnya.

Perempuan itu melangkah sedikit lebih dekat. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka semakin terasa sempit. “Kamu pernah bilang hubungan kita tetap lanjut walaupun kamu menikah dengan wanita lain.”

Kalimat itu diucapkan tanpa tekanan, justru terlalu datar, seolah hanya mengingatkan sesuatu yang dulu pernah diucapkan dengan mudah. Iman menatapnya lebih lama. Rahangnya mengeras.

“Itu dulu,” katanya akhirnya. “Sekarang aku udah mulai waras.”

Maya tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata. Ia mengamati wajah Iman, seperti membaca sesuatu yang tidak diucapkan. “Aku rindu kamu,” ucapnya pelan. “Aku rindu kita bercumbu di kamar itu.”

Iman mendecak, pelan. Ia menoleh sebentar ke arah luar lapak, memastikan tidak ada yang memperhatikan. “Memang gila kamu ya?” ketusnya.

Maya tidak tersinggung. Ia justru mengangkat sedikit dagunya, menatap Iman tanpa ragu. “Kita sama-sama gila kok. Jangan merasa paling benar sendiri.”

Sejenak tidak ada yang bergerak. Kata-kata itu seperti berhenti di udara. Iman berdiri kaku, tangannya menyentuh meja tanpa benar-benar bekerja. Di luar, suara pasar tetap berjalan, langkah orang-orang berlalu seperti biasa, sementara di antara mereka berdua, sesuatu yang lama perlahan bangkit kembali.

Maya melangkah lebih dekat tanpa memberi waktu bagi Iman untuk mundur. Tangannya terangkat, lalu mendorong tubuh laki-laki itu hingga punggungnya menempel pada dinding papan lapak yang hangat oleh matahari siang. Gerakannya cepat, seolah ia sudah menahan ini terlalu lama.

Iman terkejut. Napasnya tertahan sesaat, tubuhnya kaku, tetapi tidak benar-benar menolak. Matanya menatap Maya dari jarak yang kini nyaris tak menyisakan ruang. “Apa yang kamu lakukan...”

Maya tidak menjawab. Wajahnya mendekat, napasnya terasa hangat. Tangannya tidak diam, menyentuh, mencari, seolah memastikan bahwa tubuh di hadapannya masih sama seperti yang ia ingat. “Kamu masih inget, kan,” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Iman memejamkan mata sejenak. Segala yang tadi ia tahan perlahan runtuh begitu saja. Ia tahu ini salah, tahu ini tidak seharusnya terjadi di tempat seperti ini, pada siang yang masih terang, di tengah kehidupan yang sedang ia bangun kembali. Tapi tubuhnya tidak sepenuhnya patuh pada pikirannya.

“Maya...” hanya itu yang keluar, pelan, seperti peringatan yang terlambat.

Lihat selengkapnya