Wonosobo, 2001
Ruangan itu terasa padat oleh napas yang tertahan. Orang-orang duduk tanpa benar-benar tenang, masing-masing membawa wajah yang mengeras oleh sesuatu yang belum selesai. Suara sempat meninggi, lalu mereda, menyisakan jeda yang justru terasa lebih menekan. Di sudut ruang, Reymon berdiri setelah selesai mandi, rambutnya masih basah, air menetes pelan ke pundaknya.
Fatimah menariknya mendekat tanpa banyak kata. Baju yang masih longgar di tubuh kecil itu segera dirapikan, kancing dimasukkan satu per satu dengan gerakan yang cepat dan tidak sabar. Jemarinya bekerja seperti dikejar sesuatu, sesekali menarik kain terlalu keras hingga tubuh Reymon ikut tersentak kecil.
Di hadapan mereka, Karim duduk dengan tubuh condong ke depan. Sorot matanya tidak lepas dari Iman, tajam dan berat. “Sekarang maunya apa?” katanya pelan, tetapi setiap suku kata terasa ditekan. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Kamu kira putri saya ini mainan.”
Iman tidak segera menjawab. Kepalanya tertunduk, bahunya turun, seperti menahan beban yang tidak lagi bisa disangga. Keheningan itu membuat suara Karim terdengar semakin jelas.