Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #20

Bab 20

Jakarta, 2024

Akhir pekan datang tanpa rencana yang benar-benar matang. Hanya keputusan kecil yang diucapkan sambil lalu, tapi cukup untuk mengubah kebiasaan yang selama ini tidak pernah diganggu.

Reymon mengajak Juleha keluar. Bukan ke tempat yang jauh. Hanya sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Timur—gedung besar yang dingin oleh pendingin udara, dipenuhi orang-orang yang berjalan dengan tujuan masing-masing. Tempat seperti itu bukan hal baru baginya. Ia sudah sering datang sendiri, berpindah dari satu lantai ke lantai lain tanpa banyak alasan selain mengisi waktu.

Namun kali ini berbeda. Ada langkah lain yang berjalan di sampingnya.

Mereka masuk ke toko buku lebih dulu. Pintu kaca terbuka, disambut aroma kertas yang tipis dan tenang. Reymon bergerak seperti biasa—tanpa ragu, langsung menuju rak yang ia tuju. Jemarinya menyisir punggung buku satu per satu, sesekali berhenti, menarik satu judul, lalu membukanya sebentar. Kebiasaan lamanya tidak berubah.

Di sisi lain, Juleha berjalan lebih lambat. Matanya berkeliling, memperhatikan susunan buku yang rapi, nama-nama penulis yang asing, dan orang-orang yang tenggelam dalam halaman mereka masing-masing. Ia tidak langsung menyentuh apa pun, hanya berdiri di dekat rak, memperhatikan Reymon dengan cara yang tidak terlalu mencolok.

“Sering ke sini?” tanyanya akhirnya.

Reymon tidak langsung menoleh. “Lumayan.”

Ia menutup buku yang tadi ia buka, lalu menyelipkannya kembali ke tempat semula.

“Sendiri?”

Kali ini Reymon menoleh, sedikit mengangkat alis. “Iya.”

Juleha mengangguk pelan. Tidak ada komentar lain. Tapi dari caranya berdiri, ada sesuatu yang ia tangkap—kebiasaan yang terlalu lama dijalani sendirian sampai terasa wajar.

Lihat selengkapnya