Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #21

Bab 21

Wonosobo, 2002

Malam itu turun seperti sesuatu yang sengaja dipercepat, menutup sisa-sisa siang yang masih menggantung di kepala orang-orang. Di dalam rumah yang dindingnya menyimpan panas, Sipur duduk dengan tubuh condong ke depan, tangannya bertaut, matanya tidak lepas dari Iman yang sejak tadi hanya menunduk. Tidak ada lagi suara keras dari laki-laki itu, hanya diam yang terasa panjang dan melelahkan.

Di sudut ruangan, Fatimah menimang Reynal yang sesekali merengek pelan, sementara Reymon duduk di lantai, memandangi orang-orang dewasa dengan kebingungan yang belum bisa ia susun menjadi pengertian. Udara di dalam rumah seperti mengendap, berat, seolah setiap napas harus melewati sesuatu yang tidak kasatmata.

Sipur membuka suara tanpa mengangkat nada. “Kamu mau terus di sini, Man? Jadi bahan omongan tiap hari?”

Tidak ada jawaban. Hanya bunyi kecil dari kain yang digesekkan Fatimah untuk menenangkan anak di pangkuannya.

“Kalau kamu bertahan,” lanjutnya, “yang kena bukan cuma kamu. Istrimu, anak-anakmu ikut diseret.”

Ia berhenti sebentar, menarik napas yang dalam, lalu menatap lebih tajam, seolah ingin memastikan tidak ada lagi ruang untuk mengelak.

“Pergi saja,” katanya kemudian, datar tetapi tegas. “Jauh. Biar pelan-pelan hilang dari ingatan orang sini.”

Kata-kata itu tidak dibantah. Ia jatuh begitu saja, mengisi ruang yang memang sudah lama retak. Tidak ada yang mencoba mengubah arah, karena semua orang tahu, apa yang telah terjadi tidak lagi bisa dipulihkan hanya dengan bertahan.

Fatimah tetap diam, tetapi pikirannya bergerak ke tempat lain, pada cerita-cerita tentang orang-orang yang berangkat ke Kalimantan, bekerja di kebun, lalu pulang dengan hasil yang mengubah hidup. Ingatan itu muncul sederhana, tanpa banyak hiasan, tetapi cukup kuat untuk dijadikan pegangan di tengah keadaan yang tidak memberi banyak pilihan.

Pada masa itu, awal tahun 2000-an, merantau ke luar pulau bukan sekadar pindah tempat mencari nafkah. Ia lebih mirip pergi meninggalkan kehidupan lama untuk waktu yang tidak tentu. Jarak tidak lagi bisa ditempuh dengan perjalanan darat seperti ke kota-kota di Jawa. Laut memisahkan, waktu memperpanjang rindu, dan kepulangan menjadi sesuatu yang mahal untuk direncanakan. Orang-orang yang berangkat ke sana sering kali menetap lama, bahkan bertahun-tahun, sebelum benar-benar kembali.

Lihat selengkapnya