Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #22

Bab 22


Kutai Timur, 2003

Pagi di tanah itu tidak pernah benar-benar ramah bagi anak-anak yang hendak berangkat sekolah. Kabut tipis menggantung rendah di atas jalan tanah yang membelah kebun sawit, sementara bekas roda truk kemarin mengeras menjadi lekukan-lekukan panjang, seperti parit kecil yang siap menahan langkah siapa saja. Reymon berdiri di tepi jalan bersama beberapa anak lain, menunggu truk angkutan sekolah yang bisa datang—atau lenyap begitu saja—bergantung pada kemurahan langit.

Perjalanan menuju sekolah memakan waktu hampir satu jam. Truk kayu itu terbuka di bagian belakang, tanpa bangku, hanya lantai papan kasar yang berderit setiap kali roda menghantam lubang. Anak-anak berdiri atau jongkok seadanya, berpegangan pada sisi bak, saling menahan agar tubuh mereka tidak terpental. Setiap guncangan menjalar sampai ke tulang. Debu beterbangan di musim kemarau, menempel di rambut dan kulit, sementara lumpur di musim hujan berubah menjadi perangkap yang menelan langkah. Jika hujan turun sejak subuh, harapan itu segera luruh.

Jalan tanah menjelma licin seperti sabun, roda kehilangan cengkeramannya, dan truk pun urung datang. Reymon hanya bisa duduk di ambang pintu rumah, memandangi hujan yang jatuh tanpa tergesa, sementara suara mesin yang biasa ia nanti tak kunjung muncul dari kejauhan. Hari-hari seperti itu menjadi jeda panjang dalam pelajarannya—jeda yang hadir begitu saja, tanpa pernah ia minta.

Lihat selengkapnya