Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #23

Bab 23

Kutai Timur, 2004

Fatimah memang bekerja dengan lambat sejak mentalnya terkuras akibat sering cekcok dengan Iman. Setiap gerakan tangannya seperti membawa sisa-sisa lelah yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia mengucek pakaian lebih lama dari yang diperlukan, membilas berkali-kali, seolah ada sesuatu yang ingin ia larutkan bersama aliran air.

Sungai kecil di belakang permukiman itu menjadi tempat yang ia datangi hampir setiap hari. Bukan sekadar untuk mencuci, melainkan juga untuk menjauh dari rumah yang sering terasa sempit oleh pertengkaran. Di sana, suara air yang mengalir pelan memberi jarak dari suara manusia yang kadang terlalu keras.

Orang-orang mulai memperhatikan kebiasaannya. Ia datang lebih awal dari yang lain, pulang paling akhir. Duduk di batu yang sama, dengan ember yang sama, dengan gerakan yang nyaris tak berubah. Dari kebiasaan itu, muncul sebutan yang pelan-pelan melekat—penjaga sungai. Diucapkan sambil lalu, kadang disertai tawa kecil, kadang hanya berupa bisikan di antara percakapan.

Fatimah mendengarnya. Ia tahu. Tapi ia memilih diam.

Hari itu, matahari terasa lebih terik. Permukaan air memantulkan cahaya yang tajam, membuat mata harus sedikit menyipit untuk melihat lebih jelas. Fatimah sedang membilas pakaian ketika langkah kaki terdengar mendekat, pelan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu.

Bayangan jatuh di sampingnya. Ia menoleh.

Seorang pria berdiri tak jauh dari tempatnya. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap, dengan wajah yang sekilas memantik ingatan lama—garis-garis oriental yang mengingatkannya pada Mieng, sosok yang pernah mengisi hidupnya sebelum lenyap tanpa kabar. Namun pria di hadapannya ini rasanya lebih tampan daripada Mieng.

Pandangan mereka bertemu sesaat. Ada jeda tipis yang terasa menggantung.

Pria itu tersenyum ringan, lalu membuka percakapan dengan nada santai, seolah mereka sudah lama saling mengenal.

“Sering lihat kamu di sini. Kata orang, penjaga sungai.”

Fatimah mengangkat sedikit sudut bibirnya. Tangannya tetap berada di dalam air, menggenggam kain yang belum selesai ia bilas.

Lihat selengkapnya