Kutai Timur, 2004
Kabar di tempat kerja itu cepat beranak-pinak. Ia berpindah dari satu mulut ke mulut lain, membesar dari hal-hal kecil yang dilihat berulang. Nama Fatimah dan Lawai mulai disebut bersamaan. Mula-mula lirih, lalu makin terang, seolah tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Para karyawati menangkapnya dengan mudah. Mereka melihat sendiri bagaimana Lawai sering berhenti di dekat Fatimah, duduk berdua saat istirahat, atau berjalan searah saat pulang kerja. Jarak di antara mereka tipis, cukup untuk menimbulkan dugaan liar bagi siapapun yang melihatnya.
Di rutinitas yang terus berulang, pemandangan seperti itu cepat jadi cerita. Fatimah mendengar sebagian dari bisik-bisik itu. Ia tidak menoleh. Tangannya tetap bekerja, geraknya rapi seperti biasa. Seolah semua itu hanya suara yang lewat.
Lawai juga tidak berubah. Ia tetap mendekat, tetap berbicara ringan. Sikapnya tenang, seakan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Ia sadar perasaannya jatuh ke arah yang perempuan yang sudah bersuami. Fatimah menjadi sosok yang terus kembali dalam pikirannya, bahkan setelah hari kerjanya selesai. Ia melihat celah dalam hidup Fatimah. Jaraknya dengan Iman terasa nyata dari cara Fatimah menatap suaminya. Hal itu membuat Lawai merasa berada di posisi yang lebih baik, seolah ia bisa memberi sesuatu yang tidak dimiliki laki-laki itu. Keyakinan itu membuatnya berani. Ia tidak tergesa, tapi langkahnya pasti. Setiap pertemuan ia gunakan untuk menarik perhatian Fatimah.
Fatimah tidak lagi sepenuhnya menutup diri. Ia membiarkan Lawai masuk, sedikit demi sedikit. Ia tahu arah hubungan itu adalah jalan yang salah, makanya ia mewajarkan bola orang-orang di sekitarnya menggunjingnya. Selama ini, hidupnya diisi ketegangan yang berulang sebab Iman yang suka berperilaku keras padanya. Baginya, kehadiran Lawai terasa berbeda. Cara lelaki itu mendekatinya cukup mencairkan beban batinnya.
Suatu hari, saat pulang kerja, langkah mereka melambat. Orang-orang sudah lebih dulu menjauh, menyisakan jalan setapak yang lengang di antara batang-batang sawit.