Kutai Timur, 2004
Nama-nama dipanggil satu per satu, jatuh seperti batu kecil ke lantai kelas yang retak-retak. Udara siang mengendap di ruang itu, membawa bau kayu tua dan debu kapur yang belum sempat hilang sejak pagi.
Di papan tulis, tulisan hari itu masih tertinggal, pengumuman kenaikan kelas. Di bawahnya, kalimat lain ditambahkan dengan kapur yang mulai tumpul—perpindahan sekolah ke bangunan baru milik perusahaan. Beberapa anak sudah membicarakannya sejak beberapa bulan lalu ketika sekolah yang digadang-gadang akan jadi tempat belajar baru masih dalam proses pembangunan. Maka, tibalah hari terakhir di SD Long Jenew.
Reymon duduk di bangku kayu paling ujung, punggungnya tegak, kedua tangannya menempel di paha. Kukunya menyisakan garis tipis tanah kering. Dari jendela tanpa kaca, kebun sawit tampak diam, seperti menunggu sesuatu selesai di dalam ruangan itu.
“Peringkat satu…”
Suara itu berhenti sejenak. Beberapa kepala terangkat.
“Reymon Pratama.”
Seorang anak di depannya menoleh. Yang lain berbisik pendek. Kursi berderit ketika Reymon berdiri. Ia sempat diam sepersekian detik, lalu melangkah ke depan, melewati bangku-bangku yang penuh coretan nama dan angka.
Tangannya menerima rapor itu tanpa tergesa. Sampulnya tipis, sudutnya melengkung. Ia menutupnya rapat, menahannya dengan ibu jari, seolah lembar di dalamnya bisa lepas kapan saja.
Guru di depan berkata sesuatu—tentang usaha, tentang contoh bagi yang lain—namun suara itu terdengar jauh, seperti terpantul dari dinding yang lembap. Reymon mengangguk sekali, lalu berbalik.
Ia kembali ke bangkunya. Rapor itu diletakkan di atas meja, tidak langsung dibuka. Jarinya menyapu permukaan sampul, mengikuti lipatan kecil di ujungnya. Di luar, angin menggerakkan daun sawit dengan pelan, seperti menghapus sesuatu yang sebentar lagi ditinggalkan.
Seorang anak di sampingnya melongok. “Lihat, Mon.”
Reymon membuka sedikit sampulnya. Hanya cukup untuk melihat baris paling atas. Angka itu terletak di sana, rapi dan pasti. Ia menutupnya kembali, lebih cepat dari yang ia buka.
Bel berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar, sebagian berteriak menyebut rencana libur, sebagian lain masih membicarakan sekolah baru. Meja-meja kosong perlahan, menyisakan goresan-goresan yang tak akan dibawa ke mana-mana.
Reymon tetap duduk sebentar. Pandangannya jatuh ke papan tulis, ke tulisan yang akan segera dihapus, ke dinding yang mulai mengelupas, ke bangku yang selama ini ia duduki, yang kakinya sedikit miring dan selalu berderit jika digeser. Semua itu seperti berdiri di tempatnya masing-masing, menunggu ditinggalkan tanpa banyak protes.
Ia meraih tasnya, memasukkan rapor itu ke dalam, di antara buku tulis yang ujungnya sudah melengkung. Tangannya berhenti sejenak, memastikan benda itu benar-benar ada.
Di luar, jalan tanah memantulkan panas. Langit tampak cerah. Reymon melangkah keluar kelas, melewati pintu yang catnya mengelupas, menuruni tangga pendek yang sudah retak di bagian tepi. Ia tidak menoleh ke belakang.
Setiap langkah mengangkat debu tipis yang segera jatuh kembali. Sesekali tangannya meraba bagian dalam tas, menyentuh ujung rapor itu tanpa mengeluarkannya. Di kepalanya, sebuah kalimat berulang pelan, seperti suara yang sudah lama menetap. Ibu dulu sering peringkat satu.
Ia berjalan sedikit lebih cepat, meninggalkan halaman sekolah yang perlahan kosong, seperti sesuatu yang selesai tanpa upacara
Reymon pulang dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Di tangannya, kertas rapor itu terlipat rapi, diselipkan hati-hati di antara buku-buku tipis yang mulai menguning di sudut-sudutnya. Sepanjang perjalanan di atas bak truk, tubuhnya tetap terombang-ambing oleh jalan tanah yang berlubang, namun kali ini ia tidak terlalu memedulikannya. Guncangan demi guncangan seperti hanya lewat di luar dirinya, tak benar-benar sampai ke dalam.
Di kepalanya, satu kalimat berulang-ulang terngiang, seperti ingin ia hafalkan sebelum sampai rumah. Peringkat satu.
Ia sempat membayangkan wajah ibunya—tidak lagi datar seperti biasanya, mungkin akan sedikit berubah, mungkin akan ada jeda sebelum kata-kata keluar, mungkin akan ada sesuatu yang lebih hangat daripada sekadar tuntutan. Bayangan itu ia simpan baik-baik, seperti sesuatu yang rapuh.