Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #26

Bab 26

Wonosobo, 2010

Rumah yang dibangun Iman berdiri di ujung gang sempit dekat kebun sengon, dengan tembok semen yang masih menyisakan bau kapur setiap kali hujan turun. Bertahun-tahun merantau di Kalimantan Timur, memanggul sawit dan tidur di barak pekerja, akhirnya memberi mereka sesuatu yang dulu hanya tampak seperti angan, rumah sendiri di tanah kampung. Namun seperti tubuh yang membawa luka lama, rumah itu tumbuh bersama suara-suara yang tak pernah benar-benar reda.

Pertengkaran antara Iman dan Fatimah terus berulang, kadang meledak karena uang belanja, kadang karena perkara kecil yang sebenarnya sudah mati beberapa hari sebelumnya lalu hidup kembali seperti bara tertiup angin. Reymon, yang kini duduk di bangku SMP dan mulai tumbuh jangkung, perlahan mengenali pola itu. Suara piring dibanting. Pintu digeser keras. Tangis yang ditahan di dapur. Napas panjang ayahnya di teras menjelang malam.

Lalu suatu sore, ketika langit menggantung rendah dan aroma tanah basah masuk dari jendela, seorang lelaki bernama Fandi berkunjung ke rumah Iman. Ia rekan lamanya sewaktu di kebun sawit. Tubuhnya tambun, rambutnya mulai jarang di bagian depan, dengan tawa yang terlalu keras untuk ruang tamu sekecil itu. Mereka duduk sambil merokok dan minum kopi sachet. Reymon yang baru pulang sekolah melewati ruang depan sambil membawa buku, lalu berhenti ketika mendengar namanya disebut samar di sela percakapan.

“Eh, Mon sudah gede sekarang,” kata Fandi sambil terkekeh. “Mirip ibunya.”

Iman hanya mendengus kecil.

Percakapan berlanjut dengan nada bercanda, namun semakin lama seperti menggesek sesuatu yang lama terkubur. Fandi lalu mengeluarkan telepon genggam lamanya, sebuah Nokia dengan layar kusam penuh gores.

“Masih ingat Lawai?” tanyanya.

Iman menoleh pelan. Tatapannya berubah.

Fandi tertawa kecil sebelum memutar sebuah rekaman suara. Kresek-kresek kasar terdengar lebih dulu, lalu suara laki-laki yang Reymon kenali samar sebagai suara orang dewasa yang sedang menahan mabuk.

“Fatimah itu memang cantik dari dulu,” suara di rekaman itu berkata sambil tertawa pendek. “Iman mah kalah jauh…”

Tawa lain menyusul.

“Berani juga kau, Wai. Bini orang itu.”

“Namanya juga laki-laki.”

Terdengar lagi suara tawa, pecah kecil seperti orang-orang yang merasa dosa bisa dikecilkan lewat candaan.

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

Iman diam sambil menatap lantai. Rahangnya bergerak pelan, seperti sedang menggiling sesuatu di dalam mulutnya sendiri. Asap rokok naik dari jemarinya, tipis dan patah-patah.

Reymon berdiri di ambang pintu, tubuhnya membeku.

Nama Lawai bukan sesuatu yang asing baginya. Nama itu pernah tumbuh seperti bisik-bisik panjang di masa kecilnya, hadir bersama suara tangisan ibunya, pintu rumah yang dikunci, dan tangan ayahnya yang pernah mencekik Fatimah di depan matanya. Bertahun-tahun berlalu, namun rupanya peristiwa itu belum benar-benar mati. Ia hanya pindah tempat, bersembunyi di kepala orang-orang, lalu muncul lagi ketika dipancing sedikit.

Fandi masih tertawa, merasa sedang membawa hiburan lama untuk kawannya. Namun bagi Reymon, rekaman itu seperti membuka kembali pintu yang sejak lama berusaha ia tutup rapat.

Malamnya, pertengkaran kembali pecah. Suara Fatimah meninggi dari dapur, disusul bentakan Iman yang berat dan serak. Gelas jatuh. Kursi tergeser keras. Reynal langsung masuk kamar tanpa bicara apa-apa. Reymon tetap duduk di ruang tengah dengan buku SMP terbuka di pangkuannya, meski matanya tak bergerak membaca satu baris pun.

Dari balik dinding, ia mendengar ayahnya berkata dengan suara bergetar menahan marah.

“Aku kira dulu itu hanya rumor belaka. Ternyata memang kamu main di belakang. Lonte!”

Fatimah membalas sesuatu yang tak terdengar jelas, lalu tangisnya pecah.

Lihat selengkapnya