Gadis Menangis Mewariskan Luka

Rifin Raditya
Chapter #27

Bab 27

Wonosobo, 2011

Beberapa bulan setelah meninggalkan rumah, Iman akhirnya benar-benar melayangkan gugatan cerai. Kabar itu menyebar pelan di antara keluarga, seperti asap dapur yang merembes melalui celah-celah papan. Orang-orang sudah lama menduga arah akhirnya akan menuju ke sana. Pertengkaran yang bertahun-tahun dipelihara di dalam rumah itu agaknya memang hanya menunggu waktu untuk pecah seluruhnya.

Fatimah menerima kabar itu tanpa banyak suara. Ia masih memasak seperti biasa, masih mencuci pakaian di halaman belakang, masih menyapu lantai setiap pagi. Namun gerak tubuhnya tampak lebih berat, seolah ada sesuatu yang diam-diam menarik pundaknya ke bawah. Sesekali ia termenung terlalu lama di depan tungku, membiarkan air mendidih sampai meluap.

Di tengah keretakan rumah tangganya, hanya satu hal yang masih ia genggam rapat, yakni sekolah Reymon. Anaknya itu sejak kecil selalu berada di deretan atas kelas. Dari SD sampai SMP, namanya nyaris tak pernah keluar dari tiga besar. Guru-guru mengenalnya sebagai anak pendiam yang lebih sering duduk membaca dibanding berteriak di lapangan. Rapor-rapornya dipenuhi angka baik, cukup untuk membuat Fatimah merasa hidup mereka belum sepenuhnya gagal.

Namun bagi Fatimah, peringkat tiga selalu terasa setengah jalan. Ia ingin lebih. Setiap menerima rapor Reymon, matanya selalu berhenti lebih lama pada urutan nama di bagian atas. Bibirnya bergerak kecil menghitung selisih nilai dengan murid yang berada satu tingkat di atas anaknya. Lalu dengan suara datar ia berkata, hampir seperti mengulang kalimat yang sama bertahun-tahun lamanya. “Kalau belajarnya lebih fokus, bisa peringkat satu,” ujarnya.

Kalimat itu tumbuh dari sesuatu yang lebih tua di dalam dirinya, masa ketika ia sendiri pernah menjadi murid yang selalu dipuji karena angka-angka tinggi, sebelum hidup menyeretnya ke arah lain. Maka ketika rumah tangganya mulai pecah sedikit demi sedikit, Fatimah justru semakin keras menjaga sekolah Reymon, seolah prestasi anaknya mampu menahan sesuatu agar jangan ikut runtuh.

Karena itu pula, malam sebelum sidang pertama perceraian mereka, Fatimah masuk ke kamar Reymon dengan wajah letih. Lampu kecil di sudut ruangan membuat bayangan tubuhnya jatuh panjang di dinding papan. Di tangannya ada seragam sekolah yang sudah dilipat rapi. “Besok sekolah aja,” katanya lirih sambil meletakkan pakaian itu di kursi kayu. “Belajar yang benar.”

Reymon yang sedang menulis tugas hanya mengangguk kecil.

Lihat selengkapnya